Ubah Limbah Jadi Karya Seni, Perajin Asal Bantul Ini Tetap Kebanjiran Pesanan Meski Pandemi

Suparno menunjukkan hasil kerajinan tangannya di rumahnya di Karangmojo, Desa Trirenggo, Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul, Kamis (10/9 - 2020). Harian Jogja/Ujang Hasanudin.
12 September 2020 06:17 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL--Cangkang telur bagi sebagian orang mungkin tidak berguna, namun di tangan Suparno, 40, cangkang telur memiliki karya seni dan menghasilkan rupiah. Karya seni tersebut berupa kaligrafi, wayang dan berbagai hiasan rumah.

Bahkan bisnis kerajinan tangan milik Suparno dengan nama usaha Tonk Craft itu tidak terpengaruh dengan adanya pandemi Coronavirus Disease atau Covid-19 ini. Hampir setiap bulan selalu ada pesanan antara tujuh hingga sepuluh buah karya dari kreasi tangannya.

BACA JUGA : Selama Pandemi, Omzet Perajin asal Donokerto, Sleman Ini

Suparno mengatakan ide kerajinan tangan dari limbah cangkang telur itu awalnya hanya coba-coba apda 2010 lalu. Pria lulusan sekolah menengah pertama (SMP) ini juga hanya belajar sendiri dan mengandalkan pembelajaran dari youtube.

“Ternyata hasilnya banyak peminat,” kata Suparno, saat ditemui di rumahnya di Karangmojo RT03, Desa Trirenggo, Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul, Kamis (10/9/2020).

Banyaknya permintaan ia pun mulai mengekspresikan diri dengan berbagai kreasi, bahkan bukan hanya dari cangkang telur, namun juga pasir, sampai lem tembak dan kertas prada. Bukan hanya kaligrafi, namun banyak juga yang memesan gambar wajah siluet, papan informasi, dan kreasi lainnya.

BACA JUGA : Dampak Pandemi Corona, Kerajinan Serat Alam Hanya

Untuk harga karya wajah siluet misalnya dihargai Rp250.000 dengan ukuran 40x50 sentimeter. Sementara karya kaligrafinya dihargai mulai dari Rp35.000 untuk ukuran kecil sampai Rp1 juta untuk ukuran jumbo.

“Tergantung ukuran dan tingkat kesulitan misalnya kaligrafi ukuran 50x70 sentimeter ini harganya Rp500.000,” kata Suparno.

“Yang paling agak sulit itu buat wayang timbul terutama di bagian lekukan-lekukannya,” kata dia.

Sementara pemesanan selama ini diakuinya melalui online dari berbagai daerah seperti Jakarta, Surabaya, Kalimantan, Lampung, dan Medan. Namun banyak juga yang memesan langsung ke rumahnya.

Selain itu ia juga memproduksi aksesori mahar dengan harga bervariasi. “Kalau warga sekitar biasanya justeru banyak yang pesan mahar,” ucap pria dari seorang anak tersebut.

BACA JUGA : Bangkit dari Pandemi, Pelaku Industri Kerajinan & Batik Diberi

Saat ini meski pandemi ia dibantu dengan tiga orang pekerjanya masih terus berproduksi karena adanya pemesanan. Suparno mengaku pandemi hanya menganggunya selama sekitar dua bulan di awal pandemi Covid-19 dan setelah itu pesanan kembali normal sehingga produksi tetap ajeg. Namun kini  pesanan lebih banyak dengan berbahan dasar lem tembak dan kertas prada.