Jembatan Dzikrul Ghofilin Pajangan Diresmikan, Infrastruktur Perdesaan Masih Dibutuhkan

Warga memanjatkan doa bersama atas selesainya pembangunan Jembatan Dzikrul Ghofilin, Guwosari, Pajangan, Bantul, Minggu (13/9/2020). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
13 September 2020 16:07 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Wakil Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengatakan pembangunan infrastruktur perdesaan harus terus digenjot untuk menopang pertumbuhan ekonomi masyarakat.

“Ke depan infrastrktur pedesaan harus jadi perisoritas pembangunan karena pertumbuhan ekonomi di Bantul digerakkan dari desa,” kata Halim saat menghadiri syukuran selesainya pembangunan Jembatan Dzikrul Ghofilin, Dusun Kintolan Lor, Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan, Minggu (13/9/2020).

Halim mencontohkan beberapa desa yang maju seperti di wilayah Mangunan, Pleret, dan Pajangan karena adanya infrastruktur penunjang, mulai dari sarana transportasi seperti jalan dan jembatan, saluran irigasi untuk pertanian, hingga jalur wisata.

BACA JUGA: Oktober, DIY Bakal Jadi Tuan Rumah Pacuan Kuda Piala Presiden

Pihaknya mengakui pembangunan infrastruktur di perdesaan masih kurang. Tingginya harapan masyarakat dalam mewujudkan infrastruktur tersebut salah satunya diwujudkan dengan adanya syaukuran atas selesainya pembangunan Jembatan Dzikrul Ghofilin.

Jembatan Dzikrul Ghofilin yang membentang di atas Sungai Bedok dan menghubungkan Desa Guwosari dan Desa Bantul, Kecamatan Bantul, itu merupakan salah satu dari lima jembatan yang rusak akibat badai Cempaka 2017 lalu. Kelima jembatan tersebut selesai dibangun tahun ini dengan anggaran Rp65 miliar dari Dana Alokai Khusus (DAK) Badan Nasional Penanggulangan Bencana Daerah (BNPB).

Selain Jembatan Dzikrul Ghofilin, empat jembatan lainnya adalah Jembatan Gayam, Segoroyoso, Pleret; Jembatan Kedungjati, Sriharjo, Imogiri; Jembatan Kiringan, Canden Jetis; Jembatan Benyo, Sendangsari, Pajangan. Khusus Jembatan Dzikrul Ghofilin dibangun dengan dana Rp6 miliar.

BACA JUGA: Surati Jokowi karena Tak Setuju PSBB, Ini Profil Budi Hartono Orang Terkaya di Indonesia

Lurah Guwosari Pajangan, Masduki, mengatakan Jembatan Dziktul Ghofilin merupakan jalur penghubung Kecamatan Bantul dan Pajangan. Keberadaan jembatan itu diakuinya sangat menunjang untuk pengembangan destinasi wisata khususnya di wilayah Guwosari.

Selesai pembangunan Jembatan Dzikrul Ghofilin, pihaknya juga tengah mengupayakan untuk membuat jalur poros tengah dari Jembatan Dzikrul Ghofilin menuju Desa Krebet atau pusat kerajinan batuk kayu di wilayah Desa Sendangsari, Pajangan. “Kami sudah mengajukan dana pembangunannya tapi karena Corona jadi tertunda,” kata Masduki.

Namun demikian pihaknya bersyukur selesainya Jembatan Dzikrul Ghofilin karena dapat memperlancar akses warga. Sesepuh Warga Kentolan Lor, Raden Dalijan Muhammad Yahya, mengatakan perjuangan warga untuk mewujudkan Jembatan Dzikrul Ghofilin cukup panjang, sekitar 20 tahun. Awalnya warga mengusulkan pembangunan jembatan kepada Pemkab pada 1999 lalu dan disetujui dengan jembatan yang terbuat dari kayu.

BACA JUGA: Tanpa Surat Sehat Pemudik Tetap Boleh Masuk Bantul

Namun, tujuh tahun kemudian jembatan itu rusak dan diperbaiki warga, bahkan Dalijan sendiri mengeluarkan uang Rp10 juta saat itu untuk membangun kembali jembatan itu. Selesai diperbaiki jembatan itu kembali rusak diterjang badai Cempaka 2017 lalu dan akhirnya diperbaiki melalui dana BNPB.

“Selama 20 tahun saya merasa bangga, maka saya gelar sukuran. Dulu nyebrang kali susah sekarang enak,” kata Dalijan.

Syukuran dihadiri sekitar 400 orang yang terdiri dari warga Dusun Kintolan Lor, Kintolan Kidul, Gandekan, dan Kembangputihan. Warga memanjatkan doa bersama diatas jembatan dan sepanjang jalan menuju jembatan tersebut.

Selain doa bersama sebagai wujud syukur atas selesainya pembangunan jembatan permanen, warga juga memanjatkan doa agar virus Corona di Bantul segera hilang. Selesa doa bersama warga kemudian makan bersama di atas jembatan.