Jamas Pusaka Milik Pemkab Bantul, Abdi Dalem Kraton Jogja: Tidak Syirik, tapi Penghormatan

Sejumlah abdi dalem Kraton membersihkan pusaka di halaman Rumah Dinas Bupati Bantul, Selasa (15/9/2020). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
15 September 2020 13:17 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Sejumlah abdi dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat menjamas atau membersihkan enam pusaka milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul, Selasa (15/9/2020). Salah satu pusaka yang dibersihkan adalah pusaka Agnya Murni yang diberikan langsung oleh Raja Kraton Sri Sultan HB X.

Sultan HB X memberikan Agnya Murni  pada 2000 lalu, bertepatan dengan Hari Jadi Pemerintahan Kabupaten Bantul ke-169. Pusaka yang diberikan untuk Bantul itu memiliki makna pemerintahan yang bersih dan suci.

BACA JUGA: Muncul Wisata ala Jepang di Tepi Sungai Opak Bantul & Kini Viral

Jamasan pusaka ini digelar di halaman Rumah Dinas Bupati Bantul. Sebelum jamasan digelar, para abdi dalem memanjatkan doa bersama.

“Jamasan pusaka dilakukan setiap tahun di Kabupaten Bantul, pelaksanaannya setelah dilakukan setelah upacara jamasan di Kraton. Jamasan di Kraton sudah dilakukan pada Selasa Kliwon, kemudian di Bantul Selasa Wage,” kata Ketua Paguyuban Abdi Dalem Kraton yang ada di Bantul, Raden Mas Tumenggung Projo Suwasono.

BACA JUGA: Pemain PSS Diminta Konsisten Terapkan Protokol Kesehatan, Ini Taruhannya

Suwasono mengatakan yang dibersihkan pertama kali adalah pusaka Agnya Murni. Pusaka berupa tombak dengan panjang sekitar 2,5 meter itu dicuci terlebih dahulu dengan air kembang. Setelah itu kemudian dibersihkan dengan jeruk nipis, minyak kelapa, dan warangan atau cairan khusus agar pusaka awet. Setelah selesai mencuci pusaka Agnya Murni, kemudian lima tombak pengiring dan keris dari 17 kecamatan di Bantul. total ada 22 pusaka yang dibersihkan.

Menurut dia, pusaka pemberian Kraton itu perlu dibersihkan supaya awet dan sebagai bentuk penghormatan.

“Bukan syirik tetapi kami berusaha menghormati, karena benda pusaka dan pemberian Sultan merupakan kewajiban moral bagi kawula kabupaten Bantul untuk melestarikan,” ucap Suwasono. Pembersihan pusaka ini dilakukan setiap tahun sekali di bulan Suro.