Belum Tahu Kapan Pandemi Berakhir, Gunungkidul Menghemat Penanganan Corona

Ilustrasi - Freepik
15 September 2020 15:27 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul menunda penggunakan Puskesmas 2 Ponjong sebagai lokasi karantina pasien reaktif Corona. Kebijakan dilakukan sebagai upaya efisiensi dan efektivitas penaganan kasus Covid-19.

Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawaty, mengatakan jawatannya mulai melakukan penghematan dalam penaganan Corona. Meski demikian, bukan berarti standar layanan penanganan kasus Covid-19 turun.

BACA JUGA: Muncul Wisata ala Jepang di Tepi Sungai Opak Bantul & Kini Viral

Menurut dia, penghematan dilakukan untuk memperhatikan efektivitas dalam layanan serta efisensi dalam penggunaan anggaran karena pandemi belum diketahui secara pasti kapan akan berakhir. “Makanya prinsip efektifitas dan efisiensi harus diterapkan sehingga semuanya tetap berjalan dengan baik,” katanya, Selasa (15/9/2020).

Salah satu bentuk penghematan adalah menunda penggunaan Puskesmas 2 Ponjong untuk lokasi karantina massal pasien reaktif. “Dengan penundaan, tenaga para medis juga tidak terkuras sehingga bisa bergantian untuk penanganan dengan tenaga kesehatan lainnya,” kata dia.

BACA JUGA: Begini Kondisi Ruang Perawatan Pasien Covid-19 di Gunungkidul

Keputusan ini juga berkaitan dengan metode pengetesan melalui tes swab sehingga jumlah pasien reaktif bisa sangat berkurang. “Kalau nanti ada penambahan kasus yang signifikan, Puskesmas 2 Ponjong bisa dijadikan lokasi perawatan. Tapi untuk sementara, kebijakan menggunakan sebagai lokasi karantina ditunda,” katanya.

Ketua DPRD Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih mengatakan, pemkab harus terus fokus dalam upaya pencegahan virus Corona. Dia pun berharap Perbup No.68/2020 terus ditegakkan agar kedisiplinan masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan tetap terjaga. “Protokol kesehatan ini harus terus dijalankan karena sebagai upaya mencegah penyebaran yang lebih luas. Jadi, pemkab harus melakukan sosialisasi dan terus berusaha mendisipinkan masyarakat,” katanya.

BACA JUGA: UMY Sudah Mulai Kuliah Tatap Muka, Ini Ketentuannya

Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah Gunungkidul Saptoyo mengungkapkan pemkab telah mengalokasikan anggaran penanagan Covid-19 sebesar Rp59,6 miliar. Dana penanganan ini tersebar di beberapa organisasi perangkat daerah mulai dari dinas kesehatan, dinas sosial, RSUD Wonosari, RSUD Saptosari dan BPBD. Total dari alokasi tersebut sudah terserap 92,56%. “Total yang sudah digunakan penanganan sebesar Rp55,2 miliar,” katanya.

Meski anggara telah menipis, Saptoyo mengakui masih memiliki dana cadangan yang tersimpan dalam alokasi belanja tidak terduga. Dana ini bisa diambil kapan saja sesuai dengan situasi kedaruratan. “Kami sudah lakukan refocusing anggaran yang mencapai hampir Rp210 miliar. Dari jumlah itu, baru dialokasikan untuk penaganan Corona Rp59,6 miliar. Nanti, kalau anggarannya habis, bisa diambilkan dari belanja tak terduga untuk tambahan,” katanya.