Lebih Menguntungkan, Petani di Bantul Tertarik Kembangkan Kedelai Edamame

Panene Edamame di Dusun Cepoko, Desa Trirenggo, Bantul, Jumat (18/9). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin.
19 September 2020 13:47 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL--Para petani di Bantul mulai gencar menanam tanaman kedelai edamame sejak dua tahun terakhir. Mereka tertarik menanam jenis kedelai asal Jepang itu karena dinilai lebih menguntungkan dari nilai jual maupun masa tanam.

Rohmat Sujadi, salah satunya. Petani asal Dusun Cepoko, Desa Trirenggo, Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul ini ketagihan untuk menanam kedelai edamame. Awalnya ia menanam di lahan sekitar 1.200 meter persegi dan sudah panen pada Juni lalu. Setelah hasilnya bagus dan banyak permintaan, Rohmat memperluas budi daya kedelai edamame menjadi 3.500 meter persegi.

BACA JUGA : Harga Jual Gabah Anjlok, Petani Bantul Menjerit

Petani yang masih menjabat sebagai anggota TNI aktif ini telah merasakan hasilnya dari budi daya edamame. Dalam lahan satu meter panen menghasilkan satu kilogram kedelai edamame. Hasil panen itu ia jual sendiri secara online. Namun lebih banyak yang datang ke rumah untuk memesan edamame bahkan sebelum edamame dipanen sudah dipesan.

“Saya sudah nemaman berbagai tanaman seperti jagung dan kedelai konensional, tapi lebih menguntungkan kedelai edamame,” kata Rohmat, disela-sela panen kedelai edamame di Dusun Cepoko, Jumat (18/9).

Ia tidak menyangka kedelai edamame banyak permintaan sampai luar daerah. Harga dipasaran diakuinya juga cenderung stabil. Selama ini ia menjual Rp15.000 per kilogram untuk ukuran super, Rp12.000 untuk ukuran sedang, dan Rp10.000 untuk ukuran kecil per kilogramnya.

BACA JUGA : Harga Bawang Meroket, Petani di Bantul Tetap Mengeluh

Rohmat menduga tingginya harga kedelai edamame di pasaran karena belum banyak petani yang menanam dan belum mengetahui hasilnya. Edamame memang bukan kedelai yang baisa dibuat untuk bahan tahu dan tempe, melainkan untuk konsumsi langsung. Edamame mengandung serat dan antioksidan yang dapat membantu menurunkan kolesterol.

“Dari sisi harga lebih tinggi dan waktu tanam juga lebih cepat dari kedelai konvensional. Kalau kedelai konvensional butuh waktu 80-90 hari karena butuh benar-benar tua dan kering. Sementara edamame cukup 65 hari atau maksimal 70 hari sudah dipanen,” kata Rohmat.  

Penyuluh Pertanian Kecamatan Bantul, Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Bantul, Febrica Hananta Tur, mengakui kedelai edamame belum memasyarakat di Bantul dan baru beberapa petani yang sudah menanamnya berdasarkan inisiatif sendiri karena tidak ada bantuan benih kedelai edamame.

Bahkan di Kecamatan Bantul sendiri ia menduga tanaman kedelai edamame belum sampai 50 hektare dan terpisah di sejumlah titik, “Memang belum banyak petani yang tahu hasilnya,” kata Febrica.

BACA JUGA : Jogja Tetulung, Cara Membantu Petani Cabai di Tengah

Febrica mengatakan dari sisi keunggulan, kedelai edamame lebih cepat panen dari kedelai konvensional, selisihnya bisa 20 hari sampai satu bulan. Hasilnya dalam satu hektare juga bisa mencapai 10 ton. Berbeda dengan kedelai konvensional yang satu hektare menghasilkan kedelai kering sekitar 1,3 kwintal. Kedelai konvensional juga membutuhkan penanganan pascapanen seperti pengeringan dan penggilingan, sementara edamame langsung konsumsi sehingga penanganannya lebih simpel.