Menahan Yen di 160 per Dolar: Akankah Intervensi ASJepang Efektif?
Intervensi Jepang untuk menghentikan pelemahan yen bukan hal baru. Namun, tindakan pada tanggal 30-31 Juli 2026 ini berbeda karena Amerika Serikat tidak lagi ha
Para petani di Desa Trirenggo, Bantul, sedang memanen padi, Rabu (4/4/2018). /Harian Jogja- Ujang Hasanudin
Harianjogja.com, BANTUL—Produksi beras di Kabupaten Bantul melimpah. Akibatnya petani kini justru mengeluhkan merosotnya harga jual beras.
Ketua Kelompok Tani Bogo Wiworo, Kecamatan Bantul, Kisdi mengatakan keluhan banyak ia terima dari para buruh tani. Dia yang juga buruh tani mengaku pendapatan petani kini kian anjlok.
Jika biasanya dia bisa mendapatkan uang Rp2,5 juta dari hasil menjual satu ton padi secara langsung di sawah kepada pengepul, kini dia hanya bisa memperoleh Rp1,8 juta hingga Rp2 juta saja.
Itulah sebabnya, dia mengeluhkan harga jual dari petani yang terlalu rendah, padahal harga jual di pasaran masih tinggi dan stabil. Kondisi tersebut, menurutnya cukup merugikan bagi buruh tani yang pendapatannya masih dibagi dengan pemilik lahan.
“Kalau lahannya milik orang [buruh tani] antara modal dengan biaya hari orang kerja [HOK] jelas tidak seimbang,” katanya kepada Harianjogja.com, Kamis (16/4/2020).
Tak hanya itu, petani kini juga acap dibingungkan dengan anomali cuaca. “Sebelumnya, saya saja sampai gagal panen kedelai akibat hujan yang melanda Bantul,” ucap dia.
Berdasarkan data Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan [DPPKP] Bantul, stok beras aman hingga Lebaran mendatang. Tercatat ada 17 lumbung beras yang siap menyokong kebutuhan beras untuk seluruh DIY.
Sejak April hingga Mei, stok beras di Bantul mencapai 1.431 ton, sementara produksinya mencapai 26.220 ton. Angka tersebut dinilai aman apabila melihat kebutuhan beras hanya sekitar 14.000 ton.
Kepala DPPKP Bantul, Yus Warseno mengatakan data yang ada di dinasnya itu menjelaskan bahwa stok beras Bantul melimpah. Dia pun menegaskan Bantul siap menjadi penyokong kebutuhan DIY.
Melimpahnya produksi beras, tentu saja perlu menjadi perhatian agar harga pasaran tidak merosot drastis. Pria yang akrab disapa Yus itu mengatakan untuk saat ini belum ada gejolak maupun keluhan dari para petani.
Menurutnya, para petani masih bisa mendistrisibusikan beras ke luar daerah. “Jadi yang terpenting lumbung Bantul diisi dulu, baru sisanya dikirim ke luar daerah,” katanya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Perdagangan Bantul Sukrisna Dwi Susanto justru optimistis kebutuhan beras di Bantul tercukupi hingga Oktober. Kepastian itu ia dapatkan setelah tim dari Disdag Bantul mengecek langsung ketersediaan beras dan bahan pangan lainnya, baik di tingkat Bulog hingga pasar tradisional.
Sementara untuk komoditas gula pasir dan bawang putih, dia mengakui harganya memang merangkak naik. Akan tetapi terkait dengan stok, dia pun mengklaim masih tersedia. “Mulai dari tingkat pasar rakyat [pasar tradisional], distributor, maupun toko berjejaring masih tetap ada,” ucap dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Intervensi Jepang untuk menghentikan pelemahan yen bukan hal baru. Namun, tindakan pada tanggal 30-31 Juli 2026 ini berbeda karena Amerika Serikat tidak lagi ha
KLH/BPLH menerbitkan Surat Edaran Nomor 16 Tahun 2026 yang melarang pembukaan lahan dengan cara membakar. Kebijakan ini diterapkan untuk mencegah karhutla di te
LPEM FEB UI mengungkap lima jurusan kuliah yang paling banyak menyumbang pengangguran lulusan S1 di Indonesia. Manajemen berada di posisi teratas, disusul Hukum
Hujan meteor Perseid masih dapat disaksikan dari Indonesia pada 13-14 Agustus 2026. Simak waktu terbaik, cara mengamati, dan lokasi ideal untuk melihat meteor.
Menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, Kimaya Sudirman Yogyakarta menghadirkan dua program spesial sepanjang Agustus 2026
Media Jepang menyoroti fenomena ratusan WNI yang menggunakan nama karakter anime seperti Naruto, Uzumaki, Nobita, hingga Sasuke berdasarkan data Dukcapil Semest