Perempuan Didorong Berkiprah di Bidang Sains & Teknologi

Webinar bertajuk Promoting Women in Science. - Ist/fti.
19 September 2020 14:47 WIB Sunartono Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Kalangan perempuan didorong untuk bisa berkiprah di bidang sains. Ketidakmajuan perempuan dalam hal sains, teknologi, keteknikan dan matematika (STEM) dinilai dipengaruhi oleh kualitas pendidikan yang sudah diemban. Isu perempuan dan sains ini di bahas dalam webinar bertajuk Promoting Women in Science pada Selasa (15/9/2020) yang dihelat oleh Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri (FTI), Universitas Islam Indonesia (UII) bekerja sama dengan Universidade de Aveiro Portugal, Unair dan ITS. 

Program Studi Teknik Kimia, FTI UII berhasil mendapatkan dukungan Program Global Engagement Grant (GEG) 2020 untuk skema mobilitas daring. Merupakan program hibah yang diperuntukkan bagi jurusan atau program studi untuk melaksanakan aktivitas yang sudah dijalankan dengan universitas mitra luar negeri secara daring. Program Global Engagement Grant 2020 ini dapat mendorong percepatan UII dalam menjalankan rencana strategis 2018-2022, khususnya pada sasaran strategis yaitu pengembangan inovasi berkelanjutan untuk memperkuat rekognisi internasional

Dosen Teknik Kimia UII Ifa Puspasari menjelaskan populasi wanita di Indonesia mencapai 49,7% dari populasi masyarakat di Indonesia sehingga wanita memiliki peran strategis dalam keluarga dan masyarakat. Namun data di BPS juga menunjukkan kemampuan literasi perempuan pada kawasan kota lebih tinggi dibandingkan desa.

BACA JUGA : Kesetaraan Gender, Partisipasi Perempuan Dalam 

Hal ini juga disebabkan karena adanya akses terbatas di kawasan pedesaan untuk mengakses produk literasi. Selain itu ketidakmajuan perempuan dalam hal sains, teknologi, keteknikan dan matematika juga dipengaruhi oleh kualitas pendidikan masing-masing.

“Berdasarkan BPS pula persentase perempuan paling tinggi mengenyam pendidikan hanya sampai SD sedangkan persentasi laki-laki mengenyam SMA. Kemampuan literasi perempuan cenderung lebih kecil dibandingkan dengan laki-laki,” katanya dalam rilis yang diterima Harianjogja.com Sabtu (19/9/2020).

BACA JUGA : Peran Perempuan di Desa Diperlukan demi Kesetaraan Gender

Dari data tersebut, maka bisa diindikasikan kesadaran perempuan untuk maju di bidang STEM masih rendah. Namun jika dibandingkan dengan persentase mahasiswa dan mahasiswi di seluruh Indonesia, jumlah mahasiswi lebih banyak yaitu 56% dari total mahasiswa di Indonesia. Hal ini ditunjukkan pada keterlibatan mahasiswi lebih banyak dibandingkan dengan mahasiswa yang mengambil mata kuliah STEM seperti farmasi, biologi, kedokteran, ilmu kimia, ilmu matematika dan ilmu fisika.

“Hal-hal yang bisa dilakukan untuk mendorong perempuan bisa lebih berperan bidang ini dengan mengenalkan bahwa STEM adalah bidang pelajaran yang menyenangkan, mengatur kuota mahasiswi pada semua jurusan ini secara proporsional. Selain itu penting memperkenalkan program ramah perempuan di bidang ilmu ini,” katanya.

Sekretaris Jurusan Teknik Kimia FTI UII Arif Hidayat menyatakan untuk mewujudkan pencapaian rencana strategis UII pengembangan inovasi berkelanjutan maka dilakukan usaha inovatif untuk mempercepat pencapaian target.

Pihaknya sepakat bahwa kaum perempuan Indonesia perlu didorong berkiprah di bidang sains. Berbagai aktivitas yang dapat dilakukan antara lain penelitian, publikasi dalam bentuk jurnal, paten serta prototype diharapkan akan terus dikembangkan oleh wanita yang berperan penting dalam ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia.

"Khususnya untuk pengembangan inovasi berkelanjutan," katanya.