HARI BATIK: Titik Balik Kebangkitan Perajin Batik Sleman di Tengah Pandemi

Sri Rara dari asosiasi Mukti Manunggal membuat batik tulis di Gedung Dekranasda Sleman, di sela peringatan Hari Batik, Jumat (2/10/2020). - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
02 Oktober 2020 14:47 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Peringatan hari batik tahun ini dinilai spesial. Selain digelar di tengah pandemi Covid-19, hari batik 2 Oktober menjadi titik balik kebangkitan para perajin batik di Sleman.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman Mae Rusmi Suryaningsih mengatakan pandemi Covid-19 memukul hampir semua sektor, mulai perdagangan, perindustrian hingga pariwisata. Para perajin batik pun kena imbasnya. Namun demikian, kata Mae, peringatan Hari Batik tahun ini menjadi titik balik kebangkitan para perajin batik di Sleman.

"Bertepatan dengan Hari Batik hari ini, kami mencoba bangkit bersama teman-teman perajin batik. Kami siap menghadapi tantangan pandemi Covid-19 dengan mengadakan Gelar Karya Batik," katanya dalam diskusi webinar Melestarikan Batik Sleman demi Kesejahteraan Ekonomi, Jumat (2/10/2020).

BACA JUGA: Sultan Jogja: DIY Tak Akan Terapkan PSBB karena Bisa Menakut-nakuti Masyarakat

Gelar Karya Batik tersebut dilaksanakan di Gedung Dekranasda Sleman. Guna menarik minat masyarakat datang dan berbelanja, para perajin batik pun memberikan label Batik Great Sale up to 30%. Baginya, pemberian potongan atau diskon tersebut merupakan salah satu bentuk perjuangan para perajin batik untuk bangkit.

"Ini luar biasa. Para perajin batik dengan semangat bersama-sama bangkit. Mereka rela mengurangi pendapatannya agar masyarakat bisa lebih mudah dan murah mendapatkan batik," katanya.

Tak tanggung, salah satu karya batik yang ditawarkan adalah Batik Sinom Parijotho Salak. Batik yang memiliki motif utama terdiri dari elemen tangkai, daun, bunga parijotho, daun salak dan bunga salak yang menjadi andalan Sleman ini pun didiskon. Parijotho Salak itu, kata Mae, penuh makna karena mengeskplorasi potensi daerah yang menjadi tanaman khas di lereng Merapi dan buah salak yang menjadi buah khas Sleman.

BACA JUGA: Donald Trump Positif Covid-19

"Ini yang didiskon benar-benar harga asli dari perajin ya, itu harga aslinya yang dipotong," ujarnya.

Dia pun mengajak masyarakat untuk melakukan aksi borong bareng dan mengangkat produk lokal seluruh UMKM di Sleman demi kesejahteraan masyarakat. Dengan begitu, roda ekonomi masyarakat akan bisa bergerak di tengah pandemi. "Mari kita borong bareng produk lokal, disengkuyung bareng-bareng di setiap event-nya untuk bangkit," ajaknya.

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Sleman Sudarningsih menyepakati ajakan Mae. Baginya, untuk menggerakkan perekonomian masyarakat selama pandemi ini tidak ada hal yang bisa dilakukan kecuali dengan bersinergi. Jika sinergi antarsektor dilakukan, maka ekonomi masyarakat akan bergerak.

Dispar, katanya, juga bersinergi mempromosikan produk UMKM dengan beragam kegiatan wisata. "Kami sudah minta pelaku usaha dan jasa pariwisata untuk menyiapkan sarana dan prasarana serta sumber daya manusianya agar siap menjalankan protokol kesehatan dan tidak terpapar Covid-19," katanya.

BACA JUGA: Warung Mi Ayam di Bantul Ini Ramai dan Viral, Makan 5 Porsi Dapat Uang Rp100.000

Menurut Ning, agar pariwisata di Sleman bangkit kembali Dispar melakukan uji coba operasional secara terbatas. Sebelum memberikan rekomendasi untuk beroperasi, Dispar melakukan verifikasi di lapangan untuk memastikan usaha dan jasa pariwisata tersebut menerapkan protokol kesehatan.

Destinasi wisata tersebut untuk bisa beroperasi, kata Ning, harus sudah menerapkan cleanliness, health, safety, and environment (CHSE) atau kebersihan, kesehatan, keamanan, dan lingkungan yang lestari. Penerapan CHSE ini, katanya, harus dilakukan usaha dan jasa wisata agar bisa kembali beroperasi dan menerima wisatawan dalam adaptasi kehidupan baru.

"Menerima wisatawan dengan aman dan sehat ini termasuk menerapkan salah satu Sapta Pesona yakni rasa aman. Artinya CHSE ini memberikan jaminan kepada wisatawan jika detinasi wisata tersebut aman dari sisi kesehatan," kata Ning.

Dispar Sleman, katanya, tidak main-main untuk memberikan izin operasional secara terbatas kepada jasa dan usaha pariwisata. Hingga kini, lanjutnya, ada sekitar 160 unit jasa dan usaha pariwisata yang mengajukan verifikasi. "Rekomendasi baru dikeluarkan kalau destinasi tersebut benar-benar menerapkan CHSE. Kami mengajak dan menghimbau jangan takut berwisata ke Sleman asalkan bisa mentaati protokol kesehatan," katanya.

BACA JUGA: Wisatawan Luar DIY Mulai Berdatangan

Ketua Mukti Manunggal Endang Wilujeng mengatakan di awal pandemi Corona, banyak perajin yang tidak bekerja. Mereka yang kehilangan penghasilan lebih dari 90%. "Perajin hanya melipat roda kami, kami simpan. Tapi ini tidak mengurangi semangat kami, tidak mungkin kondisinya seperti ini terus," katanya.

Akhirnya para perajin pun bertekad untuk terus berkarya dengan cara beradaptasi selama pandemi Covid-19. Dengan desain dan konsep produk yang sesuai dengan masa pandemi Covid-19. "Kami pun memproduksi masker batik dengan berbagai jenis, ada yang dua lapis, tiga lapis dan model lainnya," katanya.

Produk masker batik, katanya, diterima di pasaran. Peminat masker batik pun dinilai luar biasa. Bahkan saat ini, komunitas perajin batik Mukti Manunggal saat ini sedang menerima pesanan sebanyak 40.000 masker batik. "Itu untuk luar Jawa. Belum termasuk pesanan di sini," katanya.

Sebelum pandemi, jumlah anggota Mukti Manunggal sekitar 35 orang baik yang berkelompok maupun yang mandiri. Satu kelompok ada yang berisi 20 orang. Selama masa pandemi jumlah anggota Mukti Manunggal bertambah karena masing-masing kelompok membuat workshop sendiri dan terus mengembangkan dengan berbagai macam brand.

"Kami bersama-sama dan bersinergi. Kebersamaan ini sangat penting untuk membangun dan mengembangkan batik Sleman. Hanya cara seperti itu, para pembatik bisa bangkit untuk menggerakkan kembali perekonomian," katanya.