Bisa Ramalkan Masa Depan, Ini Sejarah Warisan Budaya Cupu Kyai Panjala

Proses pembukaan Cupu Panjala di rumah Dwijo Sumarto di Dusun Mendak, Girisekar, Panggang, Senin (5/10/2020) malam. - Harian Jogja/David Kurniawan
06 Oktober 2020 19:57 WIB Catur Dwi Janati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Provinsi DIY memiliki salah satu berbagai warisan budaya yang adilihung baik itu berupa warisan benda maupun tak benda. Salah satu warisan tak benda yang dikenal memiliki banyak makna adalah upacara adat Pembukaan Cupu Kyai Panjala yang dilaksanakan di Desa Girisekar, Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul.

Sejarah tentang Cupu Kyai Panjala dijelaskan secara runtut oleh Juru Kunci Cupu Kyai Panjala, Dwijo Sumarto. Cerita berawal dari ratusan tahun lalu. Diceritakan Dwijo saat itu nenek moyangnya bernama Wonongso punya anak bernama Kyai Seyek. Pada akhirnya ketika Kyai Seyek pergi bermain bersama teman-temannya di Kembang Lampir, Masjid Sunan Kalijaga. Sepulang bermain, Kyai Seyek merasa lapar.

Di tengah rasa lapar, sang ibu Kyai Seyek Saat itu sedang mendinginkan nasi. Satu tangan memegang kipas, sementara tangan lainnya membolak-balikan nasi menggunakan sebuah centong nasi. Karena rasa laparnya, Kyai Seyek nekad mengambil nasi yang tengah didinginkan sehingga membuat sang ibu marah dan memukulnya menggunakan centong.

Kejadian tersebut membuat Kyai Seyek lantas kabur tanpa pamit menuju arah selatan. Hingga beberapa hari Kyai Seyek pun tak kembali, akhirnya sang ibu menanyakan keberadaan Kyai Seyek kepada seorang petapa. Setelah selesai dari bertapanya, petapa tadi memberi tiga syarat. Bila ibu Kyai Seyek ingin menemukan anaknya, ia harus melakukan puasa tujuh hari tujuh malam, membawa sebuah jala dan nasi satu genggam untuk dilempar ke laut selatan.

"Setelah melakukan syarat tadi, berjalanlah nenek moyang saya ke Pantai Gesing, sehingga didapati seorang pria yang tertangkap dalam jaring, oleh karena itu disebut dengan Kyai Panjala karena tertangkap jala, begitu lah sejarahnya," ujarnya. Dari situ diperoleh tiga cupu atau guci kecil dalam sekotak. Barangsiapa yang bisa membukanya maka dia berhak mewarisinya dari generasi ke generasi. "Akhirnya sampai ke tangan saya, pada saat itu ketika pembukaan saya generasi ke-7," ujar Dwijo. Dia menambahkan pada 2020 ini sudah 36 tahun iamenjadi juru kunci Cupu Kyai Panjala.

Lebih lanjut diterangkan Dwijo bahwa cupu bentuknya begitu kecil yang berjumlah tiga. Semar Tinandu, Palang Kinantang, Kenti Wiri. Dwijo menambahkan jika wujud cupu berasal dari bahan keramik, bentuknya seperti padasan air wudhu tapi tidak ada tempat untuk keluar air. "Palang Kinantang persis teko tapi tidak ada untuk keluar air dan tidak ada pegangan, Kenti Wiri sama seperti Semar Tinandu, warnanya seprti telur puyuh blorok blorok," ungkapnya.

Cupu Kyai Panjala selanjutnya dibungkus dalam kain putih secara turun temurun. Kain pembungkus Cupu Kyai Panjala akan dibuka setiap satu tahun sekali yakni pada malam Selasa Kliwon. Kain berlapis-lapis tadi dibuka untuk membaca tanda berupa gambar, angka atau huruf yang muncul pada kain. "Setelah selesai ada warga yang datang ke rumah meminta berkah dan membawa berkah, jadi mori yang baru diletakkan di mori yang lama jadi pertahun selalu bertambah, jadi yang lama ketanbahan yang baru," ujarnya.

Dwijo menuturkan saat ini kurang lebih dari 300 lembar kain membungkus Cupu Kyai Panjala. "Dibuka itu satu per satu selembar kain itu belum tentu ada [gambar], sepuluh lembar belum tentu ada. Tapi selembar kadang ada lima, dua atau satu, tiu nanti pertanda lempitan di mori putih tadi, tidak semua kain ada, bisa ada banyak barang atau tulisan," imbuhnya.

"Kain petak wujud putih bersih tapi ada engkok-engkokipun,. ah itu perlu dicermati oleh trah, sebelum diumumkan trah harus memahami dengan sesakma, kalau ragu-ragu ada penyengkuyungnya, kalau tidak ada ragu-ragu diumumkan kepada masyarakat," tandas Dwijo.

Dijelaskan Dwijo sebenarnya dulu pertanda yang muncul diarahkan untuk among tani saja. "Tetapi kalau dari para peramal orang pintar sudah nasional, saya sebagai pelaku adat tetap pertanda among tani karena membukanya pada mangsa kepapat rata-rata bulan Oktober mengambilnya malam Selasa kliwon ritual pembukaan Cupu Kyai Panjala," ujarnya

"Saya mengajak masyarakat dimanapun berada untuk sengkuyung, kalau dipembukaan tidak datang nanti akan gelo, saya sebagai pelaku adat kepada petugas, lurah, Ketua kebudayaan Gunungkidul, petugas dari DIY atas sengkuyung," Dwijo berharap semoga virus yang datang dan menimpa warga masyarakat di dunia hilang sehingga masyarakat bisa melakukan Kegiatan pada umumnya. "Semoga upacara pembukaan lancar, manut protokol kesehatan sudah direncanakan sebelumnya," jelasnya.

Pada pembukaan cupu tahun ini karena dilaksanakan pada pandemi pembuka Cupu Kyai Panjala dibatasi dan menggunakan masker bahkan face shield. Untuk mewadahi warga yang tidak bisa hadir, prosesi ini disiarkan secara langsung melalui kanal youtube tasteofjogja disbud diy. "Saged diambil gambar, seluruh masyarakat yang tidak bisa hadir ketika di-shooting dapat menyebarluaskan, meski tidak bisa datang ke sini dapat menyaksikan pembukaan, semoga warga masyarakat dari mana pun, saya sebagai generasi penerus, pembukaan ini semuanya tidak ada halangan atau keributan, namun menimbulkan kebaikan dan keguyubrukunan sehingga kita semua ayem tenteram," tuturnya.

Sementara itu Lurah Girisekar, Sutarpan menjelaskan tradisi pembukaan Cupu Kyai Panjala sudah dilangsungkan turun-temurun, sudah hampir 500 tahun. "Jadi ini adalah upacara ritual yang dilaksanakan oleh trah cupu kyai panjala, tepatnya di malam Selasa kliwon mangsa kepapat pada penanggalan Jawa, kalau kisaran bulan masehi ya jatuh pada bulan Oktober - November kali ini jatuh pada bulan Oktober," jelasnya.

Sutarpan menambahkan jika tradisi ini dari dulu diyakini oleh trah Cupu Kyai Panjala diyakini bahwa pembukaan cupu sebagai perlambang apa yang akan terjadi tahun yang akan datang. Kalau dulu memang menurut sejarah yang diterima Sutarpan, dulu dibuka hanya seputar keluarga. "Dulu kan ada keluarga trah berapa, kemudian berkembang di lingkungan RT," terangnya.

Tidak hanya itu, dahulu kala simbol yang diperoleh dalam pembukaan hanya diyakini sebatas pertanian. Gambaran akan hasil pertanian dalam satu tahun seperti apa. "Tapi lama-lama dari tahun ke tahun ini sudah 500 tahun berkembang begitu sehingga ini muncul beberapa pertanda tentang gambar, kemudian ada pertanian juga, ada keadaan negara, dan sebagainya," tandasnya.

Menurut Sutarpan lambang dan simbol tadi diyakini masyarakat muncul di tahun-tahun ini. Sementara masyarakat meyakini itu, tetapi dari pihak trah, tidak pernah mengartikan. "Kami dari trah tidak pernah mengartikan kalau keluar gambar orang kemudian tidak berani mengartikan ada sesuatu, tetapi ini semua kehendak yang maha kuasa, tidak bisa diartikan atau jlentrehke apa maknanya itu, tapi menunggu apa yang kan terjadi di tahun yang akan datang," lanjutnya. Dia menambahkan tidak pernah ada dan tidak ada yang pernah berani mengartikan simbol yang muncul karena nanti mendahului.

Sutarpan tidak menampik karena sekarang musim pandemi maka pelaksanaan bukaan cupu dilaksanakan sesuai rekomendasi Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Gunungkidul kita akan menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat. Namun Sutarpan mewanti-wanti pada momen pilkada, pihak trah sama sekali tidak ada titipan muatan politik apapun, karena begini sangat dimungkinkan yang muncul dikain itu berupa huruf dan angka. "Pernah begitu, ini kan sudah undian nomor urut calon, makannya mohon maaf, ketika nanti muncul angka ya akan kami sampaikan apa adanya, jangan di tafsir angka yang disebut itu titipan, katakan nanti yang muncul nomor 10 ya nanti kita akan sebut angka 10," ujarnya.

Dilanjutkan Sutarpan bahwa kegiatan budaya ini diharapkan bisa beriringan dengan kegiatan keagamaan. Kadang kala persepsi orang bisa berbenturan antara kegiatan budaya dan keagamaan "Tapi kalau di sini tidak, artinya di sini tidak, tetap saling menghargai, kegiatan budaya kemudian menjadi satu kesatuan dalam rangka menyokong hal-hal yang lain, kegiatan agama dan budaya ini tidak terjadi berbenturan, saling menghargai," ungkapnya

Bagi Sutarpan kerukunan adalah Harga mati bagi warga kami. Sehingga selama pembukaan cupu ini tidak pernah terjadi suatu hal terkait dengan keretakan atau apapun. "Dampak yang lain masyarakat kami merasa tenang tenteram ada satu pertapaan kembang lampir yang diyakini turunnya wahyu, kemudian adanya Cupu Kyai Panjala yang bisa memprediksi tentang pertanian, sehingga tenteramnya begini kalau sudah habis pembukaan cupu kita sudah mulai berococok tanam, meyakini sehingga mantab," tuturnya.

"Mantap nek dengan bukaan cupu, mau menanam ketela, mau menebar benih padi harus menunggu bukaan Cupu Kyai Panjala," tambah Sutarpan. Kalau belum bukaan cupu, Sutarpan mintakan warga belum berani menanam, sehingga sehabis selasa kliwon ini pasti beeduyun-duyun menanam dari mulai padi, jagung hingga ketela.

Upacara pembukaan Cupu Kyai Panjala ini disebutkan Sutarpan memiliki dampak ekonomi. "Upacara adat bukaan cupu kayak panjala ini kita sandingkan upacara adat sedekah labuh, jadi awalnya ada sedekah labuh senin paling, kalau tidak musim pandemi kita lakukan kegiatan kebudayaan, sehingga rang berjualan di situ dampak ekonominya jadi menyesar, bisa jual pecel, jual makanan," ujarnya.

Salah satu tradisi yang dilakukan saat pembukaan Cupu Kyai Panjala adalah makan bersama. Adapun bahan makanan banyak dibawa oleh warga. Dijelaskan Sutarpan hal ini lah yang menjadi penyebab kerap kali acara molor. Karena warga datang begitu malam padahal setiap bahan makanan yang dibawa warga harus diolah tidak boleh disimpan.

"Kenapa bisa molor itu bukaannya, biasanya yang dahar tidak hanya warga sini, sehingga datangnya kadang kala jam sembilan malam datang padahal harus dimasak ubo rampe itu sehingga menyebabkan acaranya menjadi malam," ujar Sutarpan. Sehingga Sutarpan mengimbau untuk datang jangan terlalu malam, sehingga bisa datang sore hari sehingga bisa segera dimasak.

Ketua Dewan Kebudayaan Gunungkidul, CB Supriyatno mengatakan bila yang disampaikan oleh juru kunci memang betul. Dimana warga dari berbagai penjuru kumpul di Girisekar. Bahkan akses masuk harus ditutup karena Covid. "Tetapi yang saya ingin sampaikan betul bahwa keluaraga mbah Dwijo sekarang ini tidak pernah menafsirkan lambang atau simbol yang muncul di kain putih tempat cupu terbungkus, tetapi tidak ada rahasia siapa pun boleh melihat," ucapnya.

"Jadi saya selaku ketua dewan kebudayaan, saya puluhan tahun sudah melihat, betul enggak, misalnya gini di situ ada gambar pistol atau arit, dibicarakan keluarga dulu, lalu sepakat pistol, lalu dibicarakan ke publik, masyarakat menafsirkan sendiri sendiri, tetapi keluarga tidak pernah menafsirkan," tambah Supriyatno.

Supriyatno mengatakan bahwa lampu dalam ruangan terang sekali agar gambar pada kain bisa terlihat jelas. "Misal ada gambar mobil, gambar keris, itu bisa dilihat bisa banyak, jadi tiap kain itu dibuka, tetapi yang menafsirkan tergantung yang bersangkutan, tetapi saya jamin keluar keluar pernah memberikan tafsir," tandasnya.

Ada tradisi unik dalam pembukaan Cupu Kyai Panjala. Supriyatno menjelaskan warga akan mekanisme dua kali saat prosesi. Pertama makan untuk suguhan tamu. Semua tamu diberikan. "Yang kedua menjelang dibuka cupu diharapkan untuk makan satu piring dua orang, filosofinya mungkin kalau kamu dapat rezeki jangan didahar dewe," terangnya.

Selain itu keunikan lainnya yakni karena merasa di sini tidak membawa keluarga, ada warga mengambil beberapa sendok untuk dibawa pulang untuk keluaraganya. "Menurut yang melakukan itu saya akan mendapatkan rezeki lebih banyak jadi ya tergantung keyakinan masing-masing karena itu kan terkait kepercayaan," tuturnya.

"Tetapi itu kan simbol bagaimana upacara adat menjadi sebuah upacara yang memberikan keteladanan guyub rukun seprti ini, jalau ada barang enak ya didahar bareng, kalau rekasa ya bareng karena kerja sama itu sekeluarga di lingkungan ini, membuat kegiatan serapi mungkin agar yang datang tidak kecewa," terus Supriyatno.

"Upacara puncak belum mesti jam 12 malam kalau persiapan ubo rampe belum didahar ya belum dimulai, kalau jam satu baru selesai didahar ya berarti setelah jam satu baru dibuka untuk diumum," lanjut Supriyatno.
Karena ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda, Supriyatno sebagai warga Gunungkidul mengaku bangga karena upacara pembukaan Cupu Kyai Panjala sudah mendunia.

Adapun simbol atau lambang yang muncul pada tahun ini meliputi Siisih Lor Apri, Sisih Wetan Ono Gambar Gunung, Kemule Mubeng Nglemek, Sisih Kulon ono Getih Garing, Sisih Lor Wetan ada tiga bunderan menceng, Sisih Wetan Ono Sirah Uwong Ngango Kabaret, Sisih Lor Okeh Gambar orang Tidak Pakai Baju pakai Celana okeh Kancane, Sisih Kidul Kulon ada Gambar Wayang tidak bisa tau hanya separuh Badan, Sisih Kulon ada Gambar Jaran, Sisih Kidul Kemulnya (mori) Trotol-trotol, Lor Kulon ada tlemokan Lemah Abang, Kidul Wetan ada gambar Ember, Sisih Kidul ada wujud Merang Gabah, Lor Wetan ono gambar Gajah Sirahrahnya dekukluk tertimpa Batu, Sisih Wetan ada Huruf S, Sisih Lor ada angka dua , Sisih Kidul ada huruf C terbalik, Kemul Kemresik Garing, Sisih wetan ada Gambar Mata satu mentoko (Mandeng), Lor Ada ada titik-tinta, Kulon ada gambar wayang Anoman, Sisih Wetan ada Wujud Klingko Kayu, Sisih Kidul ada Gambar Tumbak ada landaianya (gagang), Lor Wetan ada Gabar Wong Wedok rambut Ngrembak pakai anting-anting sebelah Kiri, Sisih Lor kulon huruf Y , F dan angka 20, Sisih Kidul Darah bercak-bercak garing, Sisih Lor kulon ada gambar lele jumlah tiga mlaku ngidul, Sisih Lor Gampar Panah Sisih Kidul Kulon morinya Ngeres, Sisih Lor kulon ada gambar anak wanita kecil tanpa Pakaian, Lor wetan ada gambar kelinci dua adu kepala Gigit-gigitan dan Kemul terakhir seperti Kena Kotoran.

Kepala Sub-bagian Program, Disbud DIY, Aryanto Hendro Suprantoro menyebutkan bahwa pelaksanaan pembukaan Cupu Kyai Panjala telah menerapkan protokol kesehatan. Nampak bahwa para trah pembuka cupu telah menggunakan masker dan bahkan ada yang menggunakan face shield. Selain itu jumlah yang masuk ke ruangan pembukaan Cupu Kyai Panjala pun tak sepadat tahun-tahun sebelumnya yang berjubel.

Hendro menambahkan bukan proses yang cepat untuk menjadikan suatu warisan budaya dikukuhkan secara nasional. Disebutkan Hendro perlu serentetan tahap dan waktu yang cukup lama untuk mengukuhkan suatu warisan budaya. Dia menambahkan jika Provinsi DIY menjadi salah satu pemilik warisan budaya terbanyak yang telah dikukuhkan di Indonesia.

Kepala Seksi Pemeliharaan dan Pengembangan Warisan Budaya Tak Benda, Sri Wahyuni Sulistyowati mencatat hingga saat ini ada sekitar 300 warisan budaya di DIY yang diajukan ke Kementrian untuk dikukuhkan. Dari jumlah tersebut sudah kurang lebih 90 warisan budaya telah resmi dikukuhkan.

Yuni menerangkan proses pengukuhan warisan budaya ada lima tahap. Tahap pertama adalah kajian, dimana suatu warisan budaya dikaji secara rinci dari asal usulnya hingga perkembangannya. Selanjutnya ada dokumentasi video dan foto serta pengisian formulir. "Formulir yang diisi begitu rinci dari mulai kesejarahannya, ritualnya seperti apa dan lain sebagainya," ujarnya.

Proses ketiga adalah seleksi dari pihak kementerian. Bila selama proses seleksi mengalami revisi maka akan dilakukan proses perbaikan dan akan diajukan kembali. "Bila lolos maka akan dilakukan sidang penetapan, lalu dilakukan kegiatan perayaan untuk menyerahkan sertifikat warisan budaya tadi," terangnya. Yuni berharap dari upaya yang dilakukan Disbud DIY dapat membuat warisan budaya yan di DIY tidak hilang dan terus lestari. Selain itu dengan pengukuhan warisan budaya, proses edukasi tentang kebudayaan DIY dapat terus bergulir.