Musim Hujan Maju, DP3 Pertimbangkan Musim Tanam Padi

Ilustrasi Minapadi - JIBI
07 Oktober 2020 02:37 WIB Lajeng Padmaratri Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN - Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman menyatakan pada tahun ini, musim hujan di Sleman maju dua sampai tiga minggu dari perkiraan awal. Dinas akan berkoordinasi dengan BMKG untuk menetapkan pertimbangan musim tanam padi.

Kepala DP3 Sleman, Heru Saptono menerangkan seminggu terakhir di Sleman sudah turun hujan. Kendati demikian, turunnya hujan kali ini belum ia anggap sebagai tanda-tanda awal musim penghujan. Sehingga hal ini ia jadikan pertimbangan terkait musim tanam padi.

Meski demikian, untuk memastikan kapan musim hujan benar-benar tiba, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan BMKG. Untuk selanjutnya melakukan sosialisasi kepada petani terkait kapan waktu yang pas untuk melakukan aktivitas tanam

"Kami pekan ini akan kembali berkoordinasi dengan BMKG, kalau sudah nanti kami inisiasi ke petani kapan kita mulai menanam," kata Heru pada Selasa (6/10/2020).

Baca Juga: Pilkada Gunungkidul: Alat Kampanye Dirusak, Tim Immawan-Martanty Lapor ke Bawaslu

Jawatannya selama ini selalu berkoordinasi dengan BMKG terkait hal ini. Sebab, tipologi di Sleman terkait karakter musim hujan biasanya diawali dengan turunnya hujan di Sleman Utara, mulai dari Turi, Tempel, dan Pakem. Namun, pihaknya akan tetap berpegang pada ramalan dan antisipasi yang disampaikan BMKG.

Ia memperkirakan baru ada sekitar 6.000 sampai 10.000 hektare luasan lahan padi di Sleman yang siap untuk ditanam. Sebab, masih ada beberapa sungai yang belum mengalirkan air karena debit air terbatas.

Berkaitan dengan akan dimulainya musim tanam padi, DP3 sudah mempersiapkan beberapa hal. Di antaranya memfasilitasi kelancaran pupuk subsidi bagi para petani. Selain itu, pihaknya juga sudah mengimbau petani untuk bisa menyiapkan bibit, sehingga ketika nanti musim hujan benar-benar tiba, petani langsung bisa melakukan aktivitas tanam.

Baca Juga: Hadirkan Kerumunan, Kegiatan Layang-Layang di Kulonprogo Dibubarkan

Sementara itu, Ketua Forum Petani Kalasan Janu Riyanto menjelaskan aktivitas tanam sendiri sudah mulai dilakukan. Walaupun belum memasuki musim penghujan, saat ini persediaan air mencukupi area pertanian mereka, salah satunya dari Selokan Mataram.

Menurutnya, Kalasan memiliki lahan pertanian seluas 3.000 hektare. Dari jumlah tersebut, 70-80% ditanami tanaman padi saat musim hujan. Sisanya diperuntukkan untuk tanaman palawija dan hortikultura, terlebih yang tidak terjangkau aliran irigasi Selokan Mataram.

"Tidak seluruhnya ditanam padi, agar air bisa mencukupi untuk olah lahan, bergilir namun cukup," ujarnya.