Ojol Bersih-Bersih Sisa Sampah di Malioboro Pasca Kericuhan Aksi Unjuk Rasa

Salah satu driver ojek online yang ikut bersih-bersih di DPRD DIY yakni Pramono Budi Antoro, 47, warga Klitren Lor, Jogja di Gedung DPRD DIY, Kamis (8/10/2020) malam. - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
09 Oktober 2020 08:27 WIB Hafit Yudi Suprobo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Pasca aksi demonstrasi yang berujung ricuh di gedung DPRD DIY pada Kamis (8/10/2020) sore, sejumlah orang yang tergabung dalam komunitas ojek online membuka diri untuk melakukan aksi bersih-bersih di gedung DPRD DIY. Aksi bersih-bersih dilakukan secara spontan.

Koordinator Ojek Jogja Berbagi (OJB) Janu Prambudi, 38, warga Umbulharjo, Jogja mengatakan jika aksi bersih-bersih yang dilakukan oleh komunitas OJB dan komunitas ojek online lain yang ada di DIY dilakukan berangkat dari aksi spontanitas. Upaya tersebut sebelumnya tidak direncanakan.

"Karena Gedung DPRD DIY yang terdampak cukup parah, akhirnya kami langsung mengarah ke sini. Awalnya, kami rembug mau bersih-bersih di jalan Malioboro juga, tapi karena kami langsung kontak Pak Huda [Wakil DPRD DIY] akhirnya kami langsung diberikan akses," ujar Janu saat dikonfirmasi di Gedung DPRD DIY, Kamis.

Lebih lanjut, aksi spontanitas yang dilakukan oleh dirinya sendiri berawal dari keprihatinan aksi unjuk rasa yang berujung ricuh hingga mengakibatkan korban luka maupun kerusakan sejumlah infrastruktur dan fasilitas publik.

"Memang murni ojek online. Kami sangat terganggu, hingga orderan yang mengarah ke sini [sekitar Gedung DPRD DIY] akhirnya di cancel. Oleh karena itu, kami memang sedari pagi menghindari wilayah seperti Malioboro, UGM, dan Tugu," ujar Janu.

Sementara itu, salah satu driver ojek online yang ikut bersih-bersih di DPRD DIY yakni Pramono Budi Antoro, 47, warga Klitren Lor, Jogja mengatakan jika ia turut ikut dalam aksi bersih-bersih yang dilakukan oleh ojek online.

"Saya tergerak dari dalam sanubari. Jangan sampai Jogja sebagai kota pariwisata justru dihiasi dengan sampah maupun kotoran. Nah, hati kami tergerak untuk membersihkan sampah sisa aksi unjuk rasa. Supaya Jogja bisa nyaman seperti sedia kala," ungkapnya.

Pramono mengatakan jika aspirasi yang disampaikan mahasiswa sebenarnya sah-sah saja untuk dilakukan. Akan tetapi, jika aksi unjuk rasa yang diwarnai dengan anarkisme justru ditempuh di tengah jalan menurutnya bukan merupakan hal yang bijak. Ia menyayangkan hal tersebut.

"Yang pertama hadir ini sekitar 15 orang karena mendapatkan broadcast message dari WhatsApp ya. Kemungkinan, nanti semakin malam semakin banyak pesertanya yang ikut bersih-bersih," sambung Pramono.

Pramono lebih memilih untuk beroperasi di luar wilayah Malioboro ketika mengetahui aksi demonstrasi dilakukan di tempat yang menjadi ikon wisata Jogja tersebut. Apalagi, ditambah dengan aksi anarkistis yang akhirnya mewarnai aksi penolakan massa aksi terhadap disahkannya Omnibus Law Cipta Kerja.

"Keluarga saya yakin kalau campur tangan Tuhan itu ada ketika kita bekerja untuk sosial. Kalau kita saling tolong-menolong itu kan alangkah indahnya. Kalau kita bisa menolong sesama kan artinya hidup kita bermanfaat," tutupnya.