BOB Latih Pengelola Pule Payung Soal Pembuatan SOP AKB

Peserta saat mengikuti pelatihan bertajuk bertajuk Aktivasi Sumber Daya Manusia (SDM) Pariwisata di Objek Wisata Bukit Pule Payung, Kalurahan Hargowilis, Kapanewon Kokap, Kulonprogo, Selasa (20/10/2020). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
20 Oktober 2020 15:07 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Badan Otorita Borobudur (BOB) menggelar pelatihan bertajuk Aktivasi Sumber Daya Manusia (SDM) Pariwisata di Objek Wisata Bukit Pule Payung, Kalurahan Hargowilis, Kapanewon Kokap, Kulonprogo.

Kegiatan yang digelar selama tujuh hari pada 20-27 Oktober 2020 ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan tentang pelayanan kepariwisataan dan menyiapkan SDM di Pule Payung agar bisa mengelola destinasi wisata berdasarkan standar operasional prosedur (SOP) adaptasi kebiasan baru (AKB) di masa pandemi Covid-19.

“Mengingat bahwa masing-masing atraksi wisata atau destinasi di sini [Pule Payung] berbeda-beda kebutuhannya, maka kami berikan pelatihan kepada pengelola soal pembuatan SOP selama lima hari, plus dua hari untuk evaluasi. Hasilnya nanti ada SOP sesuai destinasinya sendiri,” kata Direktur Industri Pariwisata dan Kelembagaan Kepariwisataan, BOB, Bisma Jatmika saat ditemui awak media usai pembukaan pelatihan di Pule Payung, Selasa (20/10/2020).

SOP itu dibuat bersama masyarakat pengelola dan mentor atau tenaga ahli dari lembaga sertifikasi yang digandeng oleh BOB. Adapun dalam pelatihan ini BOB  melibatkan Lembaga Sertifikasi Usaha (LSU) Pariwisata Bhakti Mandiri Wisata Indonesia (BMWI).

Selama tujuh hari pelatihan, 20 peserta yang seluruhnya merupakan SDM Pule Payung bakal mendapat Sosialisasi Aturan dalam AKB, Pelatihan Penghitungan Carrying Capacity, Alur Wisatawan, Pemetaan Zonasi Wisatawan,  Visitor Management, Layanan Prima, dan Sapta Pesona.

Di akhir periode pelatihan, akan digelar deklarasi mandiri bahwa Pule Payung sudah mengikuti pelatihan serta simulasi SOP yang artinya objek wisata ini benar-benar telah menerapkan SOP pembukaan wisata di masa pandemi.

“Hasil dari pelatihan ini nantinya disampaikan kepada gugus tugas Kulonprogo untuk ditindaklanjuti,” jelas Bisma.

Bisma mengatakan pemilihan Pule Payung sebagai sasaran pelatihan karena pihaknya melihat pamor destinasi wisata ini sangat mentereng dan menarik perhatian masyarkat. Hal itu diketahui berdasarkan jumlah pengikut di akun instagram Pule Payung yang kekinian sudah mencapai 12.000 orang. Di samping itu, pengelola juga memiliki komitmen untuk mengikuti pelatihan ini.

Kepala Dinas Pariwisata Kulonprogo, Joko Mursito, yang hadir sebagai salah satu mentor dalam pelatihan itu mengatakan pemilihan Pule payung sebagai lokasi kegiatan ini sudah tepat. Sebab lanjut Joko, Pule Payung kebetulan memiliki jumlah kunjungan yang tinggi dibandingkan dengan obwis lain di Kulonprogo. Destinasi ini juga sudah melakukan program Visiting Jogja dengan sistem pembayaran non tunai. “Belum lama ini Pule Payung juga dapat penghargaan dari Kemenparekraf di hari Pariwisata Dunia,” ujarnya.

Joko menjelaskan untuk menunjang kepariwisataan di Kulonprogo pihaknya selalu menekankan kepada pengelola destinasi wisata untuk mempersiapkan tiga hal. Pertama adalah soliditas. Ini dimaksudkan agar destinasi wisata membangun komunikasi dan koordinasi yang baik dengan stakeholder terkait seperti pemerintah kalurahan dan BUMDes.

Kedua adalah membangun sinergitas. Hal ini menekankan agar destinasi wisata di Kulonprogo dapat membangun sinergi dengan destinasi lain di sekitarnya. Seperti pengelola Pule Payung juga harus bekerj asama dengan pengelola Kalibiru, Waduk Sermo atau bahkan Gua Kiskendo.

“Kemudian yang terakhir adalah kreativitas. Karena destinasi wisata ini ada masa trennya. Kalau sudah turun ya harus ada sentuhan kreatifitas, agar lebih menarik lagi dan semakin banyak dikunjungi wisatawan,” ujar Joko.

Joko mengatakan tiga hal itu penting untuk dilakukan demi majunya pariwisata Kulonprogo. Terlebih saat ini dengan telah dibukanya jalur transportasi oleh DAMRI, dari Yogyakarta International Airport (YIA) ke Borobudur bakal memberikan dampak yang baik untuk destinasi wisata yang ada di Kulonprogo, terutama di sekitaran jalur Bedah Menoreh.

Sementara itu, Humas Pule Payung, Eko Purwanto, menyambut baik pelatihan ini meski di Pule Payung, pelatihan semacam ini sudah pernah dilakukan. Namun menurutnya di masa pandemi Covid-19 kegiatan semacama ini tetap harus berjalan karena bermanfaat sebagai pengingat agar Pule Payung tetap menerapkan SOP yang baik.

“Karena situasi saat ini mau tidak mau kita harus sikapi dengan sungguh-sungguh, supaya apa yang jadi harapan semuanya bahwa pariwisata itu akan mendobrak perekonomian Indonesia, berjalan dengan baik sesuai protokol kesehatan,” ucapnya.