Erupsi Merapi Semakin Dekat, Begini Respons BPBD DIY

Warga Kalitengah Lor, Glagaharjo, Cangkringan tetap mencari rumput di area Objek Wisata Bukit Klangon pasca erupsi Gunung Merapi yang ketiga kali, Sabtu (28/3/2020) pagi. - Ist
26 Oktober 2020 21:57 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) memperkirakan erupsi Merapi semakin dekat. Hal itu seiring dengan semakin meningkatnya aktivitas Merapi. Hanya saja diperkirakan erupsi kali ini tidak akan sebesar erupsi pada 2010 lalu.

Menanggapi hal itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY, Biwara Yuswantana menjelaskan kata "dekat" yang diberitakan sejumlah media masih multitafsir. Memang, jelas Biwara, ada deflamasi di Merapi hanya saja hal itu masih belum bisa menentukan waktu (erupsi) nya. "Masih menunggu perkembangan kubah lava," kata Biwara, Senin (26/10/2020).

Dijelaskan Biwara, jika erupsi dikatakan semakin dekat masih multiinterpretasi. Dia menilai kata dekat tersebut dimaknai secara kualitatif dan bukan dalam arti waktu. "Dekatnya sejauh mana itu yang multiinterpretasi. Tapi dari gejala yang ada itu menunjukkan arahnya," jelas Biwara.

Terlepas dari itu, kata Biwara, BPBD terus melakukan rencana kontijensi erupsi Merapi yang baru. Rencana kontijensi yang dilakukan salah satunya memasukkan faktor pencegahan Covid-19. "Renckon Merapi yang Sleman baru direvisi karena harus memasukkan faktor Covid-19. Pertemuan mereview Renckon memang intens dilakukan," katanya.

Dia berharap, masyarakat di lereng Merapi tetap meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti terus informasi perkembangan Merapi dari jaringan komunikasi yang sudah terbangun. Termasuk FPRB Destana yang sudah dibentuk, lanjutnya, perlu konsolidasi tetapi tidak usah panik. "Seberapa potensi erupsi, oleh BPPTKG kan sudah disampaikan juga. Yang jelas patokannya status Merapi, sekarang masih waspada, jadi rekomendasinya masih tetap sama," tegas dia.