Pengakuan Warga Kauman Jogja Atas Protes Pemasangan Ucapan Natal: Kasihan Raja Kraton

Foto surat protes Kauman Yogyakarta protes ucapan Natal di Museum Sonobudoyo. - Twitter @KatolikG
30 Oktober 2020 12:27 WIB Hery Setiawan (ST18) Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Warga Kampung Kauman, Jogja, angkat bicara ihwal surat protes mereka kepada Museum Sonobudoyo. Kepala Kampung Kauman, Azman Latif menilai pemasangan hiasan Natal dan Tahun Baru oleh musem tidak tepat waktu dan tempat.

“Surat itu sebenarnya lebih kepada supaya masing-masing warga tidak bersikap sendiri-sendiri. Soalnya reaksi dari warga itu kan beragam. Ada yang langsung bilang, ‘Turunin saja!’ Dan itu akan selesai kalau kampung mengeluarkan surat,” kata Azman saat ditemui Harian Jogja di rumahnya, Kamis (29/10/2020).

BACA JUGA: Diprotes Warga Kauman Jogja karena Pasang Ucapan Selamat Natal, Ini Penjelasan Museum Sonobudoyo

Azman mengatakan pemasangan ucapan Natal itu bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad sehingga warga keberatan. Menurutnya, waktu pemasangan tidak pas, masih terlampau lama dari waktu perayaan. Alangkah lebih baik, katanya, ucapan Natal dipasang tepat jelang waktu perayaan.

“Kalau misalnya hari ini Hari Sumpah Pemuda, tepat enggak kalau ngucapin selamat Hari Proklamasi? Enggak kan. Rabu malam kan Maulid Nabi? Nah masa malah Natal. Maulid Nabi itu kan hari lahirnya Nabi Muhammad, masa malah hari lahirnya Nabi Isa. Salah luput gitu ya. Mungkin mereka lupa, enggak bisa membedakan Nabi Muhammad dengan Nabi Isa,” kata Azman.

Seperti yang tertera dalam surat protes Warga Kauman, lokasi pemasangan ucapan Natal di depan Museum Sonobudoyo juga dinilai tidak tepat. Pasalnya, Museum Sonobudoyo berdekatan dengan Kraton Ngayogyakarta dan Kampung Kauman. Kedua tempat itu, kata Azman, adalah simbol dan ikon eksistensi muslim di Jogja.

BACA JUGA: Akun Twitter Mahathir Mohamad Sebut Muslim Berhak Membunuh Jutaan Orang Prancis

“Kasihan raja. Kraton Ngayogyakarta itu kan Kraton Islam. Lokasinya di Alun Alun Utara. Sayyidin Panotogomo (Sultan) kan dia mungkin enggak sampai hati mau ngingetin. Ya sudah, akhirnya kami. Masa iya, teganya di depan Kraton masang Selamat Natal pas Maulid Nabi. Itu kan tidak toleran,” ujarnya dalam Bahasa Jawa.

Ucapan Natal tersebut berwujud lampu warna-warni yang dirangkai membentuk tulisan berserta ornamen khas, seperti bintang dan pohon cemara. Lampu-lampu tersebut mulanya terpasang di pintu masuk Museum Sonobudoyo. Museum telah mencopot semuanya usai mendapat protes dari warga. Surat protes dari warga Kauman kemudian viral di medsos.

Azman menilai respons museum cukup kooperatif. Ketika warga melayangkan protes, Museum Sonobudoyo langsung menanggapi. Namun demikian, ia keberatan sikap protes warga disebut intoleran. Pasalnya, selama ucapan perayaan dipasang tepat pada waktunya, warga juga tak akan mempermasalahkan. Toh, selain Museum Sonobudoyo, ada beberapa lembaga di sekitar Kauman yang tiap tahun menyampaikan ucapan Natal di muka publik.

“Selama momentumnya tepat, tidak akan ada protes dari warga,” kata dia.