Diprotes Warga Kauman Jogja karena Pasang Ucapan Selamat Natal, Ini Penjelasan Museum Sonobudoyo

Foto surat protes Kauman Yogyakarta protes ucapan Natal di Museum Sonobudoyo. - Twitter @KatolikG
30 Oktober 2020 10:47 WIB Hery Setiawan (ST18) Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Warga Kampung Kauman, Ngupasan, Gondomanan, Jogja, melayangkan protes kepada Museum Sonobudoyo. Protes tersebut datang lantaran museum memasang hiasan berisi ucapan Selamat Natal dan Tahun Baru di pintu depan Museum Sonobudoyo.

Kepala Museum Sonobudoyo, Setyawan Sahli, mengatakan setiap tahun museum memang rajin membuat ucapan selamat ketika tiba hari raya. Namun, Museum Sonobudoyo ingin menghadirkan konsep yang berbeda tahun ini. Rangkaian lampu warna-warni membentuk tulisan “Selamat Natal dan Tahun Baru” lengkap dengan ilustrasi khas hari kelahiran Yesus Kristus tersebut.

BACA JUGA: Beredar Surat Protes Warga Kauman Jogja Soal Ucapan Natal

“Biasanya setiap tahun kami bikin pakai spanduk. Nah, tahun ini kami coba bikin yang beda dari biasanya. Kami bikin pakai lampu-lampu berwarna terus membentuk tulisan ucapan Selamat Natal dan Tahun Baru,” kata Iwan, sapaannya, kepada Harian Jogja, Kamis (29/10/2020) malam.

Iwan mengatakan Museum Sonobudoyo bermaksud melakukan uji coba pemasangan hiasan itu. Pada Rabu sore, (28/10/2020), museum mulai memasang rangkaian lampu tersebut tepat di pintu masuk, kemudian langsung menghidupkannya. Hiasan ucapan itu terpasang menghadap Kraton Ngayogyakarta.

BACA JUGA: KABAR KAMPUS: Masjid & Rest Area Dibangun di Kawasan Menuju YIA

Namun, ketika tiba malam, ada warga setempat yang datang ke Museum Sonobudoyo. Mereka meminta museum mencopot hiasan berisi ucapan selamat itu. Menurut Iwan, warga beralasan perayaan Natal masih terlampau jauh untuk diberi ucapan. Selain itu, tambah Iwan, permintaan warga juga berkaitan dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. “Warga minta kami nyopot. Ya, malam itu juga langsung kami copot,” ujarnya.

Kamis (29/10/2020), Museum Sonobudoyo juga menerima surat berisi protes keras dari warga setempat terhadap pemasangan hiasan berisi ucapan Natal. Dalam surat tersebut tertulis,  “...pemasangan itu berada di wilayah kampung yang menjadi ikon dan simbol Muslim di Yogyakarta, kami pandang sebagai sikap intoleran.”

Sebagai respons terhadap surat itu, museum rencananya membalasanya dengan surat berisi permohonan maaf. Menurut Iwan, langkah itu merupakan wujud sikap terbuka. Toh, tambah Iwan, warga setempat ibarat wonge dewe. “Kala museum menggelar acara, tak jarang warga setempat turut serta,” kata Iwan.