Sepekan Terakhir Gempa di Merapi Makin Intensif

Gunung Merapi mengalami erupsi Minggu (21/6/2020) pagi. - Ist/ twitter @BPPTKG
30 Oktober 2020 20:27 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Erupsi Gunung Merapi setelah terakhir terjadi pada 2010 silam, diprediksi sudah semakin dekat. Hal ini ditadai dengan meningkatnya aktivitas Gunung Merapi, dimana aktivitas kegempaan semakin intensif dalam seminggu terakhir.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Hanik Humaida, menjelaskan dalam kurun 23-29 Oktober, tercatat 81 kali gempa vulkanik dangkal, 864 kali gempa multifase, 10 kali gempa low frekuensi, 376 kali gempa guguran , 286 kali gempa hembusan dan tujuh kali gempa tektonik. “Intensitas kegempaan pada minggu ini lebih tinggi dibanding minggu lalu,” katanya, Jumat (30/10/2020).

BACA JUGA: Arab Saudi Izinkan Jemaah Umrah Luar Negeri Masuk 1 November 2020

Sebagai perbandingan, pada Kamis (22/10/2020) BPPTKG mencatat kegempaan selama seminggu meliputi 167 kali gempa hembusan, 63 kali gempa vulkanik dangkal, 433 kali gempa multifase, 23 kali gempa low frekuensi, 170 kali gempa guguran dan 16 kali gempa tektonik. Jumlah ini juga lebih tinggi dibanding minggu sebelumnya lagi.

Secara visual, analisis morfologi area kawah berdasarkan foto dari sektor tenggara pada Jumat (30/10/2020) terhadap Kamis (22/10/2020) tidak menunjukkan adanya perubahan morfologi kubah. Adapun volume kubah lava pada kamis (29/10/2020) yakni sebesar 200.000 meter kubik. “Tidak teramati adanya material magma baru,” ungkapnya.

Kemudian deformasi Gunung Merapi yang dipantau dari EDM pada minggu ini menunjukkan adanya laju pemendekan jarak sebesar 4 cm per hari. Meski terjadi hujan , tidak dilaporkan munculnya lahar atau penambahan aliran di sejumlah sungai yang berhulu di Gunung Merapi.

Berdasarkan amatan tersebut, disimpulkan aktivitas Gunung Merapi masih cukup tinggi, sehingga statusnya ditetapkan dalam tingkat Waspada. “Terjadinya peningkatan aktivitas vulkanik menunjukkan proses pergerakan magma menuju permukaan,” katanya.

Adapun potensi bahaya saat ini adalah berupa guguran lava dan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif. Dengan tingkat aktivitas ini, maka diimbau agar dalam radius 3 km dari puncak Gunung Merapi dikosongkan dari segala aktivitas masyarakat.