Debat Pilkada Bantul Putaran Kedua Lebih Seru dan Hidup

Suasana nonton bareng debat publik calon wakil bupati Bantul di Homestay Tembi, Rabu (4/11/2020) malam. - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
05 November 2020 10:37 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL- Debat putaran kedua yang menampilkan calon wakil bupati Bantul dinilai lebih seru bisa dinikmati. Masing-masing calon bisa mengeksplorasi gagasan dan ide dengan bahasa-bahasa yang lebih riil dan lebih konkrit. Kedua calon juga dianggap lebih berani dalam menyampaikan pertanyaan dan jawaban namun tetap on the track, tidak keluar jalur.

“Tapi tetap ada catatan di mana ada perbedaan dalam proses penyampaian,” kata Ahmad Wahab, 35, salah seorang warga Imogiri Bantul yang menyaksikan nonton bareng debat publik wakil bupati Bantul dengan tema Pelayanan Dasar Pendidikan dan Kesehatan di Homestay Tembi, Sewon, Bantul, Rabu (4/11/2020) malam.

Baca juga: Pencairan APBD Perubahan 2020 di Bantul Terganjal Tanda Tangan Mendagri

Wahab menilai calon wakil bupati nomor urut satu, Joko B.Purnomo bergaya politisi yang lebih praktis aplikatif. Sementara calon wakil bupati nomor urut dua, Totok Sudarto, bergaya birokrat masa lalu yang menekankan cara-cara birokrasi.

Menurut dia, seharusnya, bagaimana layanan dasar terutama terkait kesehatan dan pendidikan, dipermudah. Selama ini, utamanya di bidang kesehatan, masyarakat seringkali kesulitan dalam mengakses karena gaya-gaya dan tata aturan hasil tinggalan masa lalu.

Sementara Sarjiman, 39, warga Sewon Bantul menilai secara keseluruhan debat kali ini lebih hidup. “Pemaparan lebih spontan tidak terbelenggu dengan gagasan-gagasan yang rumit dipahami. Kalau dalam debat pertama paslon Bupati, keduanya seperti terjebak pada materi-materi pesanan-pesanan,” ungkap dia.

Baca juga: Seluruh Guru di Sekolah Diimbau Konsisten Terapkan 3M

Sayangnya, gagasan yang disampaikan dinilainya tidak seimbang. “Paslon nomor satu benar-benar mengurai persoalan dan solusi-solusi yang ada di masyarakat. Sementara paslon nomor dua tidak berbeda jauh dengan pemaparan yang disampaikan calon bupati. Banyak menggunakan jurus menyerang,” kata Sarjiman.

Parahnya, kata dia, paslon nomor dua seperti ada pesanan materi dari timnya yang terkesan menyerang pribadi. Ia mencontohkan di titik debat inspiratif misalnya, sanggahan yang disampaikan paslon nomor dua terkesan melenceng. Jadi sanggahannya terkesan dipaksakan agar pola menyerang tetap terjadi.

Jika dinilai, sambung Sarjiman, serangan itu justru menjadi poin bagi paslon nomor urut satu yang tidak terpancing dan tidak emosional. “Tapi debat kali ini lebih menarik. Semoga debat ketiga nanti lebih tergali ide dan gagasan dari kedua paslon,” kata Sarjiman.

Sementara itu Ketua Tim Pemenangan Abdul Halim Muslih dan Joko B Purnama, Subhan Nawwawi mengklaim debat kedua ini kalau dibikin skor 65-35% dengan kemenangan di paslon nomor satu. “Calon yang kami usung jelas-jelas bisa menyampaikan visi yang jelas dan merakyat. Program-program yang konkrit dan sangat mudah dipahami oleh rakyat,” kata dia.

Kalau diamati, kata dia, paslon nomor dua lebih asyik menyerang pribadi calon lawan. Apa yang dilontarkan selalu bernada menyerang pribadi dan provokatif. Menurut dia, seharusnya, yang disampaikan berupa program, bukan persoalan pribadi.

Bahkan, Subhan melihat paslon nomor dua terkesan sangat meremehkan kapasitas calon nomor satu, terkesan ingin mengetes kemampuan lawan dan bukan pertanyaan penjajagan program. Salah satu pertanyaan itu dalam sesi tanya jawab misalnya soal bonus demografi, “Tapi sanggahan paslon nomor dua pun tidak sepenuhnya benar,” ucap dia.

Namun demikian dia menilai Joko B Purnomo tidak terpancing. Melainkan tetap menanggapi dengan logika dan pemaparan program yang jelas dan terarah. “Kami yakin, ini akan semakin membuka mata masyarakat untuk mantap memilih paslon nomor satu saat pencoblosan nanti,” tandas pria yang menjabat sebagai sekretaris DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.