Milad Muhammadiyah ke-108 Akan Dihelat secara Virtual

Logo Muhammadiyah. - Wikipedia
16 November 2020 20:57 WIB Hey Setiawan (ST18) Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA– PP Muhammadiyah akan merayakan milad atau hari jadinya yang ke-108 pada Rabu, (18/11/2020) mendatang. Acara itu mengambil tema "Meneguhkan Gerakan Keagamaan Hadapi Pandemi dan Masalah Negeri". Kegiatan ini akan dihelat secara virtual di tiga daerah.

Wakil Ketua MPM PP Muhammadiyah, M Nurul Yamien menerangkan resepsi Milad Muhammadiyah yang ke-108 akan dihelat secara virtual di tiga daerah, di antaranya Kantor PP Muhammadiyah di Yogyakarta, Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jakarta Pusat dan Gedung Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta. Acara tersebut nantinya juga akan diisi pembacaan puisi oleh penyair Taufiq Ismail, penampilan paduan suara dari delapan perguruan tinggi Muhammadiyah serta penyampaian apresiasi kepada pahlawan yang telah berjuang melawan Covid – 19.

Dalam pelaksanaannya di tengah pandemi, Yamien memastikan pihaknya akan tetap menegakkan protokol kesehatan. Pandemi, kata dia, tak seharusnya menjadi penghalang untuk terus bergerak memenuhi misi Muhammadiyah.

"Pada masa pandemi kita tidak boleh kehilangan semangat dan kehilangan peluang untuk tetap menggerakkan Persyarikatan Muhammadiyah," katanya.

Sementara itu, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir menerangkan alasan di balik pengambilan tema tersebut bertujuan untuk menegaskan peran agama yang terus menuai perkembangan. Baik perkembangan dari segi keberagaman sampai orientasi dari kehidupan beragama itu sendiri.

Muhammadiyah, lanjutnya juga tak ingin ketinggalan untuk berperan dalam mengatasi Pandemi Covid – 19. Ia mengajak serta masyarakat Indonesia untuk bergotong royong dan saling bantu agar dampak Pandemi Covid – 19 tidak kian meluas. Semangat itulah yang dapat mewakili peran manusia sebagai sebaik-baiknya manusia. “Manusia terbaik adalah yang memberi manfaat buat orang lain,” ujar Haedar dalam keterangan persnya, Senin (16/11/2020).

Ia menambahkan, kehidupan berbangsa dan bernegara makin kompleks. Ketika terjadi permasalahan, maka dibutuhkan rasa kebersamaan agar tidak terjadi akumulasi. Dengan berlandaskan nilai positif, masyarakat Indonesia sudah seharusnya menjadi solusi atas permasalahan bangsa yang masih menghinggap hingga kini.

“Apa yang kami lakukan itu dengan perjuangan yang berat. Namun, dengan kebersamaan, masalah beratpun biasanya bisa kita hadapi dengan ringan. Muhammadiyah memandang salah satu permasalahan itu soal persatuan. Politik yang semakin bebas yang tidak berpijak pada nilai agama dan persatuan justru akan membuat masalah kecil menjadi terasa berat,” ucap Haedar.

Menurut Haedar, perbedaan cara pandang maupun ideologi politik merupakan bagian dari dinamika demokrasi. Sementara untuk keselamatan negara menjadi tanggungjawab semua pihak. “Sudah saatnya kepentingan masyarakat berada di atas kepentingan lainnya,” ujar Profesor bidang sosiologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta itu.