Penguatan IPTEK Jadi Kunci Daya Saing

Bambang Brodjonegoro, Menteri Riset dan Teknologi sekaligus Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, memberikan sambutan dalam Rapat Kerja Kementerian Ristek/BRIN 2020 pada Jumat (27/11/2020) di Jogja. (JIBI/Bisnis - Muhammad Faisal Nur Ikhsan)
28 November 2020 07:07 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Demi memenuhi visi Indonesia 2045 Berdaya Saing dan Berdaulat, Kementerian Ristek dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) telah menyusun arah kebijakan dan strategi nasional yang berbasis pada riset dan inovasi.

Hal tersebut merupakan wujud dari optimalisasi sumber daya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) Indonesia yang sebenarnya tak kalah dengan negara lain.

Hal itu diungkapkan Menristek Republik Indonesia, Bambang Brodjonegoro, dalam Rapat Kerja Kementerian Ristek/BRIN 2020 di Jogja, Jumat (27/11). Ia menerangkan untuk mewujudkan hal di atas maka perlu adanya pengembangan ekosistem inovasi dan riset di Indonesia.

Pada aspek sumber daya manusia (SDM) Iptek turut pula menjadi sasaran pengembangan. Mereka didorong untuk menghasilkan produk riset yang mampu menjawab berbagai isu strategis di Indonesia, seperti pangan, energi, kesehatan, transportasi, rekayasa keteknikan, pertahanan dan keamanan, kemaritiman, sosial humaniora, pendidikan, seni dan budaya.

“Guna menyelaraskan prioritas riset nasional dan kebutuhan pembangunan, maka diperlukan sinergi antara komunitas peneliti atau perguruan tinggi, pemerintah serta tentu saja dunia usaha (triple helix),” kata Bambang.  

Ia menambahkan pembangunan memerlukan rencana lintas sektoral agar tercipta efisensi dan efektivitas dalam pelaksanaannya.

“Rencana Induk Riset Nasional [RIRN] difokuskan pada aspek riset dari keseluruhan proses riset dari hulu sampai dengan hilir untuk mencapai visi Indonesia 2045 Berdaya Saing dan Berdaulat berbasis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi,” ujarnya.

Integrasi riset lintas sektor dan lembaga, lanjut Bambang merupakan langkah awal untuk menghasilkan produk riset yang bermanfaat dan mengandung nilai tambah. Pembentukan Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 oleh Kemenristek/BRIN telah menunjukkan bukti nyata. Sejumlah produk inovasi seperti Autonomous UVC Mobile Robot, Emergency Ventilator, Powered Air Purifying Respirator dan alat lainnya dikatakan Bambang mampu membantu pemerintah maupun masyarakat dalam hal pengendalian Covid-19.

Kepala Biro Pengembangan Infrastruktur Wilayah DIY, Sukamto mengatakan prioritas riset dan inovasi nasional ikut memberikan dampak positif pada daerah. Dengan catatan, penguasaan dan pemanfaatan Iptek tetap mengindahkan nilai-nilai kebudayaan daerah. Riset dan Inovasi, katanya juga akan mendorong masyarakat di daerah bisa lebih mandiri.

“Riset dan inovasi di daerah perlu menerapkan teknologi madya. Artinya, teknologi yang dapat dikembangkan dan didukung oleh masyarakat yang lebih sederhana,” ujarnya. (ADV)