Letusan Merapi Diyakini Tak Sebesar 2010, Ini Penjelasan BPPTKG

Foto ilustrasi Gunung Merapi. - Antara
30 November 2020 19:37 WIB Hafit Yudi Suprobo Jogja Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyatakan jika migrasi magma menuju puncak masih terus berlangsung walaupun berjalan dengan sangat lambat. Aktivitas Gunung Merapi juga masih tergolong tinggi.

Kepala BPPTKG Hanik Humaida menjelaskan jika lambatnya migrasi magma menuju ke permukaan berdasarkan pemantauan aktivitas kegempaan yang nampak melalui seismisitas VTA (gempa vulkanik dangkal).

"Berdasarkan seismisitas VTA (gempa vulkanik dangkal) yang terjadi sehingga menyebabkan migrasi magma berlangsung pelan," ujar Hanik, Senin (30/11/2020).

Orang nomor satu di BPPTKG ini juga menyebutkan jika komposisi gas vulkanik di Merapi cenderung menunjukkan adanya kenaikan. Energi guguran Merapi sendiri meningkat sejak 10 November 2020. Kemudian, pada 19 dan 22 November 2020 bahkan melonjak.


"Komposisi gas vulkanik cenderung naik, menunjukkan adanya peningkatan. Energi guguran juga terpantau meningkat. Hiposenter gempa terpusat di kedalaman dangkal kurang dari 1,5 kilometer dari puncak," sambung Hanik.

BPPTKG juga memprediksikan jika nantinya terjadi erupsi yang disebabkan oleh Gunung Merapi, tidak akan terjadi erupsi secara eksplosif seperti pada 2010 silam. Akan tetapi, pola kegempaan dan deformasi di Merapi mengikuti pola 2006 yang mana erupsi bersifat efusif.

"Karena jumlah dan pola peningkatan kegempaan dan deformasi mengikuti pola 2006. Berdasarkan data saat ini, jika terjadi erupsi eksplosif maka tidak akan sebesar erupsi 2010. Terlebih, banyak terjadi gempa hembusan menandakan lepasnya gas di Merapi," terangnya.

Hanik tidak menampik jika erupsi di Gunung Merapi diprediksikan semakin dekat. Alih-alih panik, masyarakat diminta untuk waspada dan selalu mengikuti anjuran dari pemerintah, khususnya BPPTKG.

"Masyarakat kami minta senantiasa mengikuti arahan dari pemerintah dan jangan terpengaruh berita yang tidak jelas sumbernya. Berdasarkan data saat ini, data pemantauan baik seismik, gas maupun deformasi masih tinggi dan aktivitas guguran meningkat menunjukkan dekatnya waktu erupsi," pungkasnya.