Dinkes Kulonprogo: Stigma Buruk ODHA Harus Diakhiri!

Ilustrasi HIV - AIDS. (Harian Jogja)
02 Desember 2020 03:37 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulonprogo meminta masyarakat berhenti memberikan stigma negatif terhadap pengidap HIV/Aids. Hal itu selain membawa dampak buruk terhadap kondisi psikologis Orang Dengan HIV/Aids (ODHA), juga menyulitkan Dinkes perihal upaya penemuan kasus baru.

"Setiap tahun kita lakukan upaya penemuan kasus baru, tetapi langkah ini tak lepas dari kendala, salah satunya karena masih adanya stigma buruk masyarakat terhadap ODHA," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P ) Dinkes Kulonprogo Baning Rahayujati, sesuai peringatan Hari Aids Sedunia di Ruang Adikarta, Kompleks Pemkab Kulonprogo, Selasa (1/12/2020).

Baning mengatakan masyarakat masih menganggap penyakit HIV/Aids adalah aib, lantaran ada stigma bahwa penderita tertular virus itu dari perbuatan yang menyimpang seperti konsumsi narkoba dengan media suntik atau karena terlibat dalam kegiatan prostitusi. Padahal lanjut Baning, tidak semua ODHA tertular dari kegiatan amoral semacam itu.

Baca juga: Warga Bambanglipuro Babak Belur Dikeroyok Tetangganya Sendiri

Hal itu diperparah dengan adanya informasi sumir yang menyebut bahwa penyakit ini bisa menular lewat kontak fisik. Akibatnya tak sedikit ODHA yang dikucilkan masyarakat.

Imbas dari stigma negatif itu menyebabkan penderita tidak mau membuka diri dan melaporkannya ke instansi kesehatan. Walhasil upaya penemuan kasus baru jadi tersendat. Padahal kata Baning, jika seseorang mengidap HIV/Aids dan bisa segera diketahui oleh instansi terkait maka penangananya bakal lebih cepat. Risiko orang tersebut meninggal karena penyakit itu juga bisa ditekan.

"Apalagi sekarang fasilitas layanan kesehatan terkait penanganan ini sudah kita tingkatkan. Sekarang semua puskesmas di Kulonprogo sudah bisa melakukan test HIV. Rumah sakit juga sudah memberikan pelayanan pengobatan," ujar dia.

Dinkes mencatat hingga 2020 ada 196 pengidap HIV dan Aids, 229 dalam kondisi HIV dan 33 Aids. Mereka tersebar di 12 Kapanewon di Kulonprogo. Kebanyakan kasus ini ditemukan di Kulonprogo sisi selatan meliputi Wates, Panjatan, Temon dan Galur, dengan berbagai macam penyebab penularan.

Diperkirakan jumlah di lapangan jauh lebih banyak dari data tersebut. Sementara upaya penemuan terus dilakukan. Dalam setahun, Dinkes bisa menemukan setidaknya 25 kasus baru, untuk kemudian mendapat penanganan medis.

Baca juga: Klaster Perkantoran Bermunculan, Pemda DIY Tetap Tak Mau Terapkan WFH

"Kita gunakan metode 90-90-90, yaitu 90 persen populasi kunci kita tes, 90 persen yang sudah dites kemudian kita terapi, 90 persennya lagi yang sudah terapi kita pantau. Targetnya 2030 adalah triple zero, yaitu tidak ada kasus baru, tak ada kematian terkait penyakit ini dan tak ada diskriminasi terhadap ODHA," ujarnya.

Sosialisasi HIV AIds

Untuk menghilangkan stigma negatif terhadap ODHA, Dinkes menggencarkan sosialisasi tentang HIV Aids kepada masyarakat. Di samping itu juga menggandeng komunitas ODHA dan institusi terkait hal itu untuk mendorong para ODHA agar semangat dalam menjalani hidupnya. ODHA juga diingatkan untuk terus menjalani pengobatan karena itulah satu-satunya cara bertahan hidup.

"Seperti yang kita ketahui pengidap HIV Aids ini selama hidupnya akan mengonsumsi obat-obatan terus, sehingga perlu dikuatkan agar obatnya tidak putus, karena jika sampai putus risiko meninggal dunia akibat penyakit ini lebih tinggi," terang Baning.

Sementara itu Konselor HIV Kulonprogo, dr. Melly mengatakan berbagai upaya terus dilakukan agar para ODHA bisa bertahan dari diskriminasi masyarakat yang menimpa mereka. Ada tiga hal yang ditekankan kepada para ODHA, yakni membiasakan pola hidup sehat, lebih terbuka terhadap masyarakat serta rutin menjalani pengobatan.

"Poinnya di sini adalah bagaimana agar seseorang yang menjadi ODHA itu tidak perlu takut, apalagi sampai putus dalam menjalankan pengobatan," ujarnya.