Gandung Pardiman Apresiasi Warga Bantul Ubah Sampah Plastik Jadi BBM

Anggota DPR RI Gandung Pardiman (kedua dari kanan) saat melakukan kunjungan di warga Dusun Plumbungan dan Dusun Siten, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Bantul, Senin (8/12/2020). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin.
08 Desember 2020 07:17 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL--Sampah plastik selama ini menjadi momok karena butuh ratusan tahun agar bisa terurai dan menjadi persoalan lingkungan yang tidak pernah selesai. Namun bagi warga Dusun Plumbungan dan Dusun Siten, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Bantul, sampah plastik justru bernilai ekonomis karena dapat menjadi bahan bakar minyak atau BBM melalui teknologi pirolis.

Pengembangan teknologi pirolis tersebut merupakan kerjasama Universitas Janabadra (UJB), Balai Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI.  Dikutip dari wikipedia, Pirolisis adalah dekomposisi kimia bahan organik melalui proses pemanasan tanpa atau sedikit oksigen atau reagen lainnya, di mana material mentah akan mengalami pemecahan struktur kimia menjadi fase gas.

Peneliti Universitas Janabadra, Mochamad Syamsiro mengatakan penelitian teknologi pirolis sudah dilakukannya sejak 10 tahun terakhir dan baru dipraktekan untuk warga baru-baru ini khususnya di Dusun Plumbungan dan Siten. Kedua dusun tersebut yang selama ini sudah memiliki rumah pilah sampah kemudian diberikan mesin pengolah sampah dengan teknologi pirolis. Mesin tersebut bekerja mengolah sampah menjadi BBM.

BACA JUGA : Anggota DPR RI, Gandung Pardiman, Bantu Pengembangan

“Sampah dimasukkan dalam reaktor kemudian dipanaskan dalam suhu tinggi kira-kira 300-500 derajat sesisus, nanti akan berubah meleleh jadi cair kemudian berubah jadi uap gas. Gas kemudian keluar masuk kesini [tabung] lalu didinginkan air, setelah didinginkan nanti kemudian bisa kita dapatkan BBMnya,” kata Syamsiro, disela-sela menerima kunjungan Anggota Komisi VII DPR RI, Gandung Pardiman, di rumah pilah sampah Dusun Siten, Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul, Senin (7/12/2020).

“Sampah plastik ini kan terbuat dari minyak bumi ibaratnya kita kembalikan jadi minyak bumi lagi jadi bahan bakar minyak,” sambung Syamsiro, yang juga didampingi tim dari UJB, Agus Mulyono dan Yavida Nurim.

Dua mesin yang sudah dikelola warga tersebut reaktornya berkapasitasnya masing-masing 40-50 kilogram sampah. Dari 40-50 kilogram sampah akan menghasilkan 40-50 liter BBM. Bahan Bakar Minyak tersebut diakui Syamsiro sudah diujicobakan untuk mesin diesel dan bahan bakar motor. Namun untuk di lingkungan warga dimanfaatkan untuk memasak melalui kompor bersumbu.

Menurut Syamsiro hampir semua jenis plastik bisa diolah menjadi bahan bakar minyak, namun yang paling bagus untuk BBM adalah jenis poliprovilen seperti botol bekas minuman air mineral. Namun plastik lainnya seperti bekas bungkus sampo, sabun, bekas wadah makanan, hingga styrofoam juga bisa. “Sampah palstik tersebut yang selama ini mendominasi di Indonesia,” ucap dia.

Sementara waktu pengolahan mesin pengolah sampah yang diserahkan kepada warga mampu bekerja selama dua kali dalam sehari atau 4-6 jam sampai bisa menjadi BBM. Residu hasil pengolahan sampah juga hanya sekitar 5% karena bisa diolah bisa dibakar lagi.

Anggota DPR RI Gandung Pardiman mengatakan mesin pengolah sampah menjadi BBM itu awalnya  dari aspirasi masyarakat lewat DPR RI. Namun teknologi tersebut harus melalui penelitian oleh perguruan tinggi. Bantuan alat pengolah sampah plastik tersebut juga selaras dengan salah satu pilar perguruan tinggi, yakni pengabdian kepada masyarakat.

BACA JUGA : Gandung Pardiman: Desa Harus Jadi Pusat Pertumbuhan 

Pihaknya menyambut baik upaya Universitas Janabadra yang sudah mengembangkan alat pengolah sampah menjadi BBM karena sampah plastik selama ini menjadi momok yang butuh ratusan tahun agar bisa terurai dan merusak lingkungan, “Alat ini sangat penting dan multimanfaat,” kata Gandung.

Pihaknya mendukung program tersebut bahkan Gandung langsung memberikan bantuan untuk pembangunan rumah pilah sampahnya senilai Rp100 juta. “Ini kan disamping bisa untuk bisnis jual BBM-nya juga bisa membantu menanggulangi masalah sampah plastik,” kata Gandung. Dia akan mendorong agar pesin pengolah sampah jadi BBM tersebut tidak hanya di dua dusun, namun di semua dusun di Bantul.

Bahkan tidak menutup kemungkinan politikus partai Golkar ini mengusulkan untuk diterapkan di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan. Sebab selama ini TPST Piyungan banyak dikeluhkan karena sudah over kapasitas. Menurut dia, jika alat tersebut dikembangkan lebih besar lagi di TPST Piyungan maka TPST Piyungan bisa menjadi kilang minyak.

Ketua Kelompok Gerakan Pembangunan Peduli Lingkungan (Gerbang Pilah) Dusun Siten, Suratno mengatakan alat pengolah sampah menjadi BBM sangat dibutuhkan mengingat banyak plastik yang tidak bernilai jual selama ini. Sejak rumah pilah sampah tersebut berdiri 2015 lalu, pihaknya kerap harus membuang sampah yang tidak memiliki nilai ekonomis ke TPST Piyungan dalam sebulan 3-4 kali dan sekali angkut dalam satu truk Rp400.000.

BACA JUGA : Anggota DPR RI Gandung Pardiman Tinjau Perbaikan

Dia berharap adanya alat pengolah sampah tersebut dapat mengurangi sampah yang dibuang. Pihaknya juga sudah mendapat pelatihan dari Universitas Janabadra dalam pengoperasian alat tersebut dan sudah bisa mengoperasikan sendiri, “Walaupun dari kampus masih ingin mendampingi selama tiga bulan ke depan,” kata Suratno.