Kasus Tinggi, Sleman Usulkan Karantina Wilayah Usai Libur Nataru

Ilustrasi. - Freepik
14 Desember 2020 08:37 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Untuk menekan lonjakan kasus baru Covid-19, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman mengusulkan agar dilakukan karantina wilayah pada awal Januari mendatang. Ini berkaca pada lonjakan kasus baru di Sleman setelah libur panjang akhir Oktober lalu.

Kepala Dinkes Sleman Joko Hastaryo mengatakan usulan tersebut akan disampaikan kepada Satgas Covid-19 Kabupaten saat rapat koordinasi yang rencananya akan digelar pekan ini. Sejatinya, kata Joko, usulan tersebut bisa diterapkan pada 21 Desember mendatang. Hanya saja ada pertimbangan lain seperti pelaksanaan Pilkades dan libur Nataru, sehingga usulan tersebut bisa dilakukan pada awal Januari 2021.

BACA JUGA : Tekan Penularan, Sleman Wacanakan Minggu Tenang Covid

"[Rencana karantina wilayah itu] setelah libur Nataru, harusnya mulai masuk kerja 4 Januari 2021. Ini usulan kami nanti ke Satgas Covid-19 kabupaten setelah kami lakukan evaluasi," kata Joko saat konferensi pers secara daring dengan awak media, Sabtu (12/12/2020).

Joko mengatakan, penerapan karantina wilayah ini dilakukan untuk menyelamatkan masyarakat dari paparan virus Covid-19. Joko menyebut istilah tersebut dengan Minggu Tenang Covid. Di mana masyarakat yang sehat diminta tinggal di rumah sementara yang terpapar Covid-19 dirawat di faskes darurat dan rumah sakit. "Ini kembali ke masa awal Covid-19, di mana melakukan karantina selama 10-14 hari dan di lingkungannya dilakukan penyemprotan disinfektan," kata Joko.

Menurut Joko, usulan tersebut tidak terlepas dari naiknya kasus baru Covid-19 di Sleman sejak 14 November lalu. Di mana sebelum lonjakan kasus baru terjadi setelah 14 hari masa libur panjang akhir Oktober lalu. Dinkes khawatir, kasus serupa bisa kembali terjadi setelah libur Nataru pada pertengahan Januari 2021 sehingga salah satu cara untuk menekan penyebaran kasus baru dengan karantina wilayah.

BACA JUGA : Sudah Hari Tenang, Spanduk Provokatif Pilkada Masih 

"Masa tenang Covid-19 ini setidaknua digelar selama dua kali masa inkubasi maksimal. Kalau tidak bisa 14 hari, setidaknya minimal 10 hari atau dua kali masa inkubasi lima hari," kata Joko.

Selama karantina wilayah diterapkan, tempat ibadah, lembaga pendidikan hingga pekerja untuk sementara dilakukan di rumah. Kecuali bagi tenaga kesehatan, TNI/Polri, wartawan, serta kelompok pekerja di bidang pelayanan. "Jadi kembali ke masa awal, bekerja dari rumah. Kalau tidak betul-betul terpaksa, tidak usah kerja di kantor. Kalau tidak terpaksa jangan keluar kota," ujar Joko.

Penularan Tinggi

Joko memaparkan, paska libur panjang akhir Oktober lalu dan melewati masa inkubasi 14 hari, kasus baru Covid-19 melonjak tajam. Dari sebelumnya sempat masuk zona hijau, Sleman pun menjadi zona Merah. Kasus-kasus baru tersebut, katanya bukan berasal dari klaster tertentu tetapi justru antar keluarga.

"Dari satu orang pasien positif, di Sleman bisa menularkan ke lima orang lain. Lebih tinggi dibandingkan angka penularan hasil kajian medis. Sebab rata-rata penularannya hanya sampai tiga orang," ujar Joko.

BACA JUGA : Ribuan Benih Ikan Nilam Dilepas di Kali Doso Sleman

Salah satu penyebab tingginya kasus baru Covid-19 di Sleman, lanjut Joko, disebabkan karena kurang disiplinnya masyarakat menerapkan protokol kesehatan (prokes). Termasuk pasien Covid-19 OTG maupun gejala ringan, yang menjalani isolasi mandiri di rumah. Saat ini ada sekitar 700 pasien Covid-19 yang melakukan isolasi mandiri di rumah.