Hujan Lebih Awal, Dana Droping Air Gunungkidul Sisa Rp349 Juta

Ilustrasi - Freepik
04 Januari 2021 17:07 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—BPBD Gunungkidul menyebut anggaran droping air bersih di 2020 tidak terserap secara maksimal. Dari alokasi Rp743 juta, hanya terpakai sekitar Rp394 juta.

Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki mengatakan musim hujan kali ini turun lebih cepat sehingga berdampak terhadap proses penyaluran air bersih ke masyarakat yang mengalami kekeringan.

BACA JUGA: Ditetapkan Jadi Ormas Terlarang, Rekening FPI Dibekukan

Menurut dia, droping air terakhir kali dilakukan di Oktober lalu dan setelah itu bantuan tidak disalurkan ke masyarakat. “Begitu Oktober selesai, kami tidak lagi melakukan penyaluran air bersih,” kata Edy kepada wartawan.

Dia menjelaskan, dengan penghentian program bantuan air ini maka berpengaruh terhadap penyerapan anggaran. Pasalnya, dari alokasi sebesar Rp743 juta di 2020 tidak bisa terserap secara maksimal karena masih ada sisa anggaran sekitar Rp349 juta. “Kami hanya pakai sekitar Rp394 juta dan sisanya dikembalikan ke kas daerah,” ungkapnya.

Edy mengatakan penyaluran air bersih difokuskan di beberapa kapanewon seperti Girisubo, Rongkop, Tanjungsari, Semanu, Tepus, Paliyan, Purwosari hingga Panggang. Menurut dia, penyaluran tidak hanya dilakukan oleh BPBD karena sejumlah kapanewon juga memiliki anggaran sendiri. “Mulai 2020, kapanewon tidak bisa menyalurkan sendiri karena harus menggandeng pihak ketiga,” katanya.

Panewu Anom Girisubo Arif Yahya mengatakan memasuki musim hujan, krisis air yang melanda masyarakat bisa teratasi karena pasokan bisa terpenuhi melalui air hujan. Ia mengungkapkan seluruh kalurahan di Girisubo masuk daerah rawan kekeringan saat musim kemarau.

Kapanewon Girisubo mengalokasikan sekitar Rp90 juta di 2020. Meski demikian, alokasi ini sudah habis untuk droping sejak awal Oktober lalu. “Total sekitar 522 tangki yang disalurkan ke masyarakat di wilayah Girisubo,” kata Arif.