Sempat Vakum, Pasar Tani DIY Dibuka Lagi

Kelompok Tani DIY menyelenggarakan Pasar Tani bertempat di halaman Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY pada Jumat (8/1/2021) - Harian Jogja/Sirojul Khafid
09 Januari 2021 09:07 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA – Setelah sempat vakum karena pandemi Covid-19, Pasar Tani DIY kembali diadakan. Pasar Tani yang berlangsung seminggu sekali di hari Jumat ini sudah berlangsung sejak 2006.

Menurut Ketua Pasar Tani Jogja Dina Febriana, kegiatan ini vakum enam bulan sejak awal pandemi pada Maret 2020.

“Baru dibuka lagi bulan Agustus, setelah dapet izin dari Pak Gubernur DIY. Tapi ternyata kemarin ada orang dinas yang positif, jadi dibubarkan lagi, takutnya ada klaster baru. Baru mulai lagi [hari ini] di tahun 2021,” kata Dina saat ditemui di Pasar Tani yang bertempat di halaman Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY pada Jumat (8/1/2020).

Baca juga: ERUPSI MERAPI: Barak Pengungsian untuk Warga Turi Disiapkan

Pasar Tani ini merupakan salah satu program Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY untuk memasarkan produk para kelompok tani dan kelompok wanita tani. Menurut Dina, banyak petani yang merasa kesulitan dalam memasarkan produknya.

“Memutus rantai distribusi yang terlalu panjang dari petani ke konsumen,” kata Dina. “Harganya mungkin di atas harga petani, tapi di bawah harga pasar.”

Dina mencontohkan produk yogurt miliknya. Di pasaran, produknya berharga Rp12.000 ke atas. Namun di Pasar Tani bisa dijual dengan harga Rp10.000. Apabila ingin lebih murah, masyarakat bisa menjadi reseller dengan harga Rp8.000. Selain untuk menjual produknya, Pasar Tani ini juga sebagai tempat untuk mencari reseller produk para petani.

“Menarik reseller, siapa tahu ada yang minta jadi reseller. Anggota di sini yang ikut berjualan tidak terlalu banyak omzetnya, tapi harapannya ada omzet lain berupa reseller baru,” kata Dina.

Pasar Tani DIY berasal dari perwakilan setiap kota dan kabupaten. Setiap kota dan kabupaten membawa produk unggulannya masing-masing. Misalnya Kota Jogja menonjolkan bunga dan tanaman obat, Bantul membawa produk bawang dan bandeng, sementara Sleman berupa sayuran segar.

Baca juga: Kasus Covid-19 Melonjak, Jokowi Bilang Indonesia Masih Beruntung

Dina berharap Pasar Tani bisa menjamah dinas-dinas lain, tidak hanya di Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY. “[Semoga] teman-teman di sini bisa mendapatkan manfaat. Warga sekitar juga lebih mengenal dan bisa datang ke sini untuk melihat produk pertanian,” kata Dina.

Ada total 40 anggota yang memiliki lapak di Pasar Tani DIY. Liyanto, 67, salah satu pedagang tanaman obat menyambut baik acara seperti ini. Selain berjualan di rumah, omzet di Pasat Tani juga tergolong baik.

“Dari jam tujuh sampai sebelas siang, saya Rp1,5 sampai Rp2 juta bisa masuk,” kata Liyanto yang sudah berjualan sejak tahun 1990-an.

Senada dengan Liyanto, salah satu pengunjung Haris Syarif Usman, 50, juga merasa senang dengan adanya Pasat Tani. Haris tergolong sering datang ke acara Pasar Tani, terutama untuk membeli sayuran dan pupuk. Dia merupakan ketua tani dewasa di kampungnya.

“Bagus sekali, [Pasar Tani] membantu saya memilih bibit yang bagus. Karena di sini kan sudah terseleksi, jadi tidak abal-abal,” kata Haris.

Terkait harga, Haris merasa bahwa tidak ada perbedaan yang mencolok di semua tempat. Terlebih di Pasar Tani juga masih bisa nego harga. Haris berharap Pasar Tani ke depan lebih banyak menjual sayuran, bibit, dan pupuk.

“Ini terkait ketahanan pangan [di masa pendemi]. Kalau bisa sayuran di perbanyak, benih-benih diperbanyak, sama pupuk yang karungan yang lebih murah,” kata Haris.