Aksi Intimidasi Warnai Pemilihan Rektor UNY

Gedung Rektorat Universitas Negeri Yogyakarta - Instagram @universitasnegeriyogyakarta
10 Januari 2021 03:37 WIB ST18-Hery Setiawan Sleman Share :

Harianjogja.com, JOGJA — Aksi premanisme mewarnai Pemilihan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta [Pilrek UNY]. Salah seorang anggota Senat UNY bernama Sukirno dikabarkan mendapat intimidasi fisik dan psikis dari oknum yang mengaku sebagai mahasiswa Strata 3 (S3).

Kabar itu disampaikan oleh Samsuri, Pegiat Kaukus Muda dan dosen Fakultas Ilmu Sosial UNY kepada Harian Jogja. Ia mengatakan, Jumat (7/1/2021), UNY melangsungkan tahap penyaringan calon secara tatap muka.

“Penyaringan tersebut merupakan pengulangan proses yang sama, Oktober 2020 lalu, atas perintah Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan [Dirjen Dikti Kemendikbud] karena terjadi ketidakberesan pada aspek substantif dan teknis dalam penyaringan sebelumnya,” kata Samsuri, Jumat (7/1/2021).

Usai menghadiri agenda itu, Sukirno keluar ruangan dan hendak menuju kendaraannya. Dalam perjalanan, ia dibuntuti oleh tiga orang, yang menurut Samsuri dapat mengenali Sukirno karena telah diberitahu oleh seorang informan.

Baca juga: Kasus Positif Covid-19 di DIY Bertambah 301, Bantul Terbanyak

Salah satu dari tiga orang itu lantas mengancam Sukirno agar tidak lagi mempermasalahkan tahapan Pilrek UNY. Sukirno menanggapinnya dengan menjelaskan apa yang terjadi di balik semua tahapan. Namun, ketiga orang yang mengaku sebagai mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan UNY itu tak mempedulikan.

Samsuri melanjutkan, aksi intimidasi pun tetap dilakukan. Akibatnya, sempat terjadi sedikit keributan di lokasi kejadian. Beberapa orang berusaha menengahi. Sayangnya, oknum mahasiswa S3 justru membentaknya.

Menurut Samsuri, aksi intimidasi itu tak bisa lepas dari sikap kritis Sukirno selama tahapan Pilrek UNY. Sukirno juga merupakan tokoh penanda tangan petisi Kaukus Muda UNY yang mempermasalahkan ketidakberesan dan ketidakadilan pada tahap penyaringan Oktober 2020 lalu. Petisi itu yang kemudian ditindaklanjuti oleh Ditjen Dikti dengan meminta penyaringan ulang.

Samsuri mengecam keras aksi intimidasi yang berlangsung di lingkungan kampus itu. Sikap yang ditunjukan oleh Sukirno merupakan kebebasan berpendapat yang tidak seharusnya direspons dengan aksi premanisme. Kecaman juga ditujukan kepada Ketua Senat UNY yang seolah membiarkan hal itu terjadi.

Selain itu, Samsuri meminta Plt Rektor UNY, Margana melakukan investigasi atas aksi premanisme tadi. Sanksi tegas harus diberlakukan kepada pelaku maupun pihak yang dengan sengaja memobilisasi tiga oknum tadi.

“Secara logis, tindakan para pelaku tidak mungkin atas inisiatif sendiri, mengingat kegiatan kampus sedang terbatas di tengah pandemi dan Petisi yang ditandatangani Prof Kirno dan kawan-kawan hanya dikirimkan secara terbatas kepada Presiden RI, melalui Mensesneg, Ketua Komisi X DPR RI, Irjen Kemendikbud RI, dan Dirjen Dikti Kemendikbud RI,” tambahnya.

Baca juga: Warga Girikerto Turi Belum Akan Dievakuasi, Ini Alasannya

Samsuri juga mendesak Mendikbud turun tangan dalam tahapan Pilrek UNY. Caranya, sebut Samsuri dengan menegur Dirjen Dikti yang telah membiarkan proses penyaringan digelar secara tatap muka di tengah meningkatnya ekskalasi kasus Covid - 19. Apalagi, sampai mengirimkan perwakilannya langsung ke Jogja.

Mendikbud, lanjut Samsuri juga diminta untuk segera membentuk Tim Independen Dirjen Dikti guna menelusuri rekam jejak calon Rektor UNY dan keterkaitannya dengan aksi pengarahan oknum untuk mengintimidasi anggota senat.

Tanggapan Plt Rektor

Dihubungi terpisah, Plt Rektor UNY, Margana menampik telah terjadi aksi premanisme dan intimidasi terhadap anggota senat Sukirno. “Gak ada itu intimidasi,” katanya saat dihubungi Harian Jogja, Sabtu (8/1/2021).

Menurutnya, Pilrek UNY sudah dilakukan sesuai dengan aturan yang berlaku. Ia mengklaim telah merangkul berbagai pihak, termasuk mendatangkan perwakilan Ditjen Dikti dalam proses penyaringan Calon Rektor UNY.

Sikap berbeda yang ditunjukan Sukirno, kata Margana juga merupakan hal yang wajar. Siapa saja yang nanti menjadi rektor, harapannya dapat membawa UNY menjadi lebih baik dari sebelumnya.