VAKSINASI PERDANA KOTA JOGJA: Titik Terang yang Tak Perlu Diperdebatkan

Wali Kota Jogja, Haryadi Suyuti memberikan keterangan pers seusai vaksinasi di Kota Jogja, di RS Pratama, Jumat (15/1/2021). - Ist/Pemkot Jogja
16 Januari 2021 14:37 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Program vaksinasi Covid-19 tahap pertama Kota Jogja dimulai. Para pejabat Pemerintah Kota Jogja dan tokoh masyarakat menjadi penerima pertama vaksin ini. Bagaimana proses dan efek setelah mendapat vaksin? Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Sirojul Khafid.

Di ruang Serbaguna Rumah Sakit (RS) Pratama Jogja pada Jumat (15/1) pagi, ada enam meja di samping kanan. Setiap meja terdapat petugas dengan alat pelindung diri (APD) lengkap. Mereka bersiap menjadi petugas program vaksinasi tahap pertama di Kota Jogja.

Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti menjadi salah satu daftar undangan yang menerima vaksin tahap pertama. Setelah menyapa tamu undangan yang telah lebih dulu datang, petugas memanggil Haryadi untuk screening.

Haryadi bisa melewati screening sampai meja kelima. Namun dia tidak bisa melanjutkan di meja enam untuk kemudian divaksin. Dari salah satu kriteria orang untuk mendapatkan vaksin, Haryadi tidak memenuhi syarat. “Saya tidak memenuhi kriteria untuk divaksin,” kata Haryadi di hadapan para wartawan. “Bukan saya menolak vaksin, tapi vaksinnya yang menolak saya. Vaksinnya seng ora gelem karo aku,” kata Haryadi.

Apabila ke depan hasil pengecekan medis Haryadi memenuhi kriteria, dia akan mengikuti pemberian vaksin tahap berikutnya. Haryadi berpesan pada orang-orang yang telah mendapat vaksin agar tidak kemudian teledor dan abai terhadap protokol kesehatan.

Haryadi meminta semua pihak untuk menjaga prokes dengan sungguh-sungguh, walaupun sudah mendapatkan vaksin. Salah satunya dia mengingatkan untuk tidak melepaskan masker di tempat umum. “Ntar kayak Raffi Ahmad, jadi viral,” kata Haryadi yang menyinggung kejadian Raffi Ahmad membuka masker saat bertemu dengan teman-temannya, padahal sebelumnya mendapat vaksin bersama Presiden Joko Widodo.

Haryadi mengaku merasa sedikit sedih lantaran tidak mendapat vaksin. Selain karena rekan-rekannya telah mendapat, vaksin merupakan salah satu benteng dalam menghadapi virus Covid-19. “Medical reason [tidak mendapatkan vaksin], bukan psychological reason,” kata Haryadi.

Selain Haryadi, Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi juga masuk dalam daftar penerima vaksin. Begitu namanya dipanggil, Heroe langsung menuju meja pertama untuk melakukan administrasi sebelum mendapatkan vaksin. Di meja pertama, Heroe memberikan identitas diri. Setiap meja memiliki fungsi pengecekan masing-masing, mulai dari identitas diri sampai screening kesehatan. Apabila lolos screening, dia bisa mendapatkan vaksin.

Sehari sebelum screening, Heroe sempat merasa tidak enak badan. Kala itu, tensi darah Heroe mencapai 170/117. Menurut dokter, kondisi itu tidak cukup baik untuk menerima vaksin. Setelah mendapat perawatan dan obat dari dokter, kondisi Heroe membaik. Saat screening untuk menerima vaksin, tensi sudah turun. “Alhamdulillah tadi tensi 140/90,” kata Heroe.

Heroe menjadi orang pertama di Kota Jogja yang mendapat vaksin untuk menangkal Covid-19. Dari meja ke meja, Heroe lolos semua pengecekan. “Lebih sakit saat diambil darahnya di vena. Dipegang malah terasa dingin, [penyuntikan vaksin] enggak terasa sama sekali,” kata Heroe sembari memegang bagian luar lengannya.

Selain Heroe, ada 24 undangan lain yang menerima vaksin, seperti dari unsur Polres Jogja, Kodim, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jogja, Dinas Kesehatan Kota Jogja, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, perwakilan agama Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, dan lainnya.

Bagi yang lolos screening, mereka akan mendapatkan vaksin. Selain orang-orang yang berada di RS Pratama siang itu, di RS dan puskesmas lain yang tersebar di Kota Jogja, para tenaga kesehatan (nakes) juga mendapatkan suntikan vaksin tahap pertama ini. “Bersamaan dengan kami, hari ini [kemarin] ada 475 nakes yang mendapat vaksin,” kata Heroe.

Ke depan, setiap harinya ada sekitar 200 nakes yang mendapat vaksin tahap pertama ini. Target awal yaitu 4.753 nakes mendapat vaksin. Jumlah ini merujuk pada jatah vaksin yang Kota Jogja terima sekitar 9.800 unit. Satu orang dijatah dua dosis agar vaksinasi sempurna.

Adanya vaksin merupakan salah satu titik terang dalam menghadapi pandemi Covid-19 yang sudah berjalan sekitar 10 bulan ini. Menurut Heroe, langkah ini sebagai cara menguatkan masyarakat dan kesiapsiagaan bersama untuk menghadapi pandemi yang tidak tahu kapan akan kelar.

“Setidaknya dengan adanya vaksin ini, bisa memperkuat ketahanan dan kemampuan tubuh masyarakat di Indonesia, khususnya di Jogja,” kata Heroe yang juga Ketua Harian Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Kota Jogja.

Ke depannya, Heroe berharap masyarakat tidak lagi memperdebatkan vaksin. Saat ini, uji kelayakan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sudah keluar. Begitu pun dari MUI, sudah ada keterangan bahwa vaksin ini halal. “Diharapkan sebagian besar masyarakat Jogja bisa mendapatkan vaksin,” kata Heroe.

Walaupun sudah ada program vaksinasi, bukan lantas bisa mengendurkan penerapan 5M yakni memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan membatasi mobilitas. “Jangan diartikan sebagai hilangnya virus Covid-19. Virus masih ada. Hanya saja kita memasukkan material untuk [melatih imun tubuh] melawan virus,” kata Heroe.

Kartu Vaksin

Kepala Dinas Kesehatan Kota Jogja Emma Rahmi Aryani tidak bisa mengungkapkan alasan Haryadi tidak memenuhi syarat menerima vaksin karena informasi itu termasuk kerahasiaan medis. Satu hal yang jelas, calon penerima vaksin harus berada dalam kondisi sehat saat disuntikkan vaksin. “Jadi karena tadi bapak [Haryadi] tidak memenuhi kriteria untuk vaksin ini, nanti bisa ditunda, atau mungkin tidak bisa [divaksin],” kata Emma.

Setelah mendapat suntikan vaksin, ada pemantauan selama 30 menit pertama. Apabila tidak ada efek samping yang cukup besar, maka pemantauan berlanjut sampai penyuntikan tahap kedua pada dua pekan ke depan. Efek yang sering muncul setelah mendapat vaksin yaitu bengkak atau kemerahan pada kulit.

“Sekitar satu dua hari [efek bengkak itu]. Sangat ringan efek samping vaksin ini,” kata Emma.

Setelah mendapat vaksin, orang tersebut akan mendapatkan semacam kartu yang berisi instruksi pemantauan. Instruksi itu termasuk tanggal untuk cek di fasilitas kesehatan dan kontak untuk menghubungi apabila terjadi sesuatu.

Emma termasuk orang yang mendapatkan vaksin pada tahap pertama. Dia orang ketiga setelah Heroe dan perwakilan MUI Jogja. Setelah 30 menit mendapat vaksin, Emma tidak merasakan keanehan di tubuhnya. “Saya tidak merasakan apa-apa,” kata Emma.

Sama halnya dengan Emma, Heroe juga tidak merasakan hal aneh setelah 30 menit disuntik vaksin. Heroe berharap bisa mengikuti pemberian vaksin tahap kedua.