Jualan Anjlok, Pedagang Beringharjo Tuntut Keringanan Retribusi

Suasana los pedagang pakaian batik melayani pembeli di Pasar Beringharjo, Jogja, Selasa (16/06/2020). - Harian Jogja/Desi Suryanto
01 Februari 2021 18:07 WIB Catur Dwi Janati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Penerapan Pengetatan secara Terbatas Kegiatan Masyarakat (PTKM) tahap dua makin dirasakan dampaknya oleh sejumlah pelaku ekonomi. Para pedagang Pasar Beringharjo Barat misalnya, sepi pengunjung menyebabkan omzet anjlok. Keringanan retribusi pasar diharapkan diadakan kembali untuk bantu perekonomian pedagang.

Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Beringharjo Barat, Bintoro secara gamblang mengaku bahwa PTKM sangat berdampak pada perekonomian pedagang Pasar Beringharjo Barat. Sepinya pengunjung membuat omzet alami penurunan luar biasa. "Banyaknya wisatawan yang mungkin tidak jadi berkunjung ke Jogja dan salah satunya di Pasar Beringharjo. Kami prihatin karena penurunan omzet yang samgat luar biasa," jelasnya pada Senin (1/2/2021).

Dilanjutkan Bintoro, pedagang sangat prihatin dengan kondisi saat ini. Pasalnya jumlah pengunjung sangat sedikit. Penurunan omzet bisa smpai 60 persen. "Bahkan ada yang buka sebentar terus tutup karena saking sepinya," ujarnya.

"[Pedagang] di luar lakunya sedikit, merasa sepi, apalagi [pedagang] di dalam. Ada yang laku dan tidak, maka sekarang banyak pedagang yang libur dari pada di pasar tidak dapat apa-apa, di rumah bisa sambil istirahat sambil menunggu kondisi pasar stabil," tutur Bintoro.

Kondisi demikian membuat Bintoro selaku Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Beringharjo Barat meminta adanya relaksasi berupa keringanan retribusi bagi pedagang. Menurutnya, keringanan retribusi pasar sangat membantu kondisi pedagang saat ini. "Jadi yang jelas paling pokok adanya diskon retribusi yang dulu pernah [dilakukan] itu sangat membantu. Salah satu potongan untuk pembayaran retribusi pasar," ujarnya.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Jogja, Yunianto Dwisutono, mengakui jika selama diterapkannya PTKM di tahap pertama, ada sejumlah pasar yang sepi. Penurunan omzet Pasar Beringharjo barat disebutkan Yunianto malah merosot sampai 70 persen. Wisatawan yang menjadi konsumen utama Pasar Beringharjo Barat, turun selama PTKM. Hal itu berbanding lurus dengan penurunan omzet uang dialami.

Dampak PTKM juga dirasakan pedagang Pakuncen. Diterangkan Yunianto, kegiatan aktif jual beli di Pasar Pakuncen dominan di malam hari. Sementara selama PTKM, jam operasional malam sangat berpengaruh pada omzet pedagang Pasar Pakuncen.

Dinas Perdagangan tengah melalukan survei kuantitatif untuk menghitung jumlah pengunjung selama PTKM di sejumlah pusat perbelanjaan. "Secara kualitatif, penurunan [pengunjung] hingga lebih dari 50 persen. Biasanya, keramaian di pusat-pusat perbelanjaan ini terjadi pada malam hari. Tetapi pembatasan jam operasional yang diperpanjang hingga pukul 20.00 WIB pada PTKM tahap dua, semoga bisa sedikit membantu meningkatkan jumlah pengunjung," terang Yunianto.

Dari temuan di lapangan Yunianto pun mengkaji tentang kemungkinan adanya relaksasi bagi pedagang pasar yang terdampak. Pada tahun 2020, relaksasi diberikan dalam bentuk keringanan retribusi pasar secara berjenjang, teegantung jenis pasar dan kisarannya pun beragam. Sementara tahun ini Yunianto mengupayakan agar relaksasi bisa diberikan dalam bentuk lain.