RS Sulit Penuhi Ketentuan 40% Bed Khusus Covid-19

Ilustrasi. - Reuters
01 Februari 2021 08:17 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Selain masalah SDM Kesehatan, sarana dan prasaran menjadi kendala yang dihadapi rumah sakit untuk memenuhi 30-40% bed khusus pasien Covid-19. Pemenuhan 30-40% bed pasien Covid-19 tersebut merupakan ketentuan yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan saat ini sangat sulit tercapai.

Kelapa Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Joko Hastaryo mengakui sampai akhir Januari ini belum semua RS memenuhi ketentuan tersebut. "Kalau menggunakan patokan Permenkes No 3/2020 tentang klasifikasi dan perijinan RS, maka baru beberapa RS yang memenuhi ketentuan tersebut," kata Joko saat dihubungi Harianjogja.com, Minggu (31/1/2021).

BACA JUGA : Tiga Hari, 24 Orang di Jogja Meninggal Dunia karena Corona

Dia menjelaskan, pada PMK No.3/2020 RS kelas A dengan jumlah bed minimal 250 bed maka bed khusus Covid minimal 100 bed, maka RS Sardjito yang termasuk kelas A sudah memenuhi ketentuan PMK tersebut. Sebab saat ini Sardjito menyediakan 150 bed.

"Untuk RSA UGM kelas B minimal bed 200 untik isolasi covid minimal 30% tentu sudah memenuhi ketentuan karena saat ini tersedia 70 bed untuk Covid," papar Joko.

Dia melanjutkan untuk RS kelas C khusus  minimal 25 bed, maka RS Sadewa yang menyediakan 12 bed untuk covid berarti sudah memenuhi standar. "Untuk RS-RS lainnya sudah berusaha menambah tapi memang belum mencapai 30%,"ujar Joko.

Menurut Joko, di SE Menkes tentang konversi bed memang tidak disebutkan sanksi sehingga Dinkes sifatnya hanya memberi imbauan. "Kami hanya mengingatkan pentingnya mengoptimalkan pelayanan untuk pasien Covid. Dan Pemkab Sleman tetap memberikan apresiasi bagi RS yang telah menambah kapasitas meskipun belum optimal seperti yang diharapkan," ujarnya.

BACA JUGA : 13 Warga Jogja Meninggal dalam Sehari, 287 Positif Covid 

Dinkes Sleman bersama 13 RS intermediate sepakat untuk menambah 158 bed non kritikal pada Januari ini. Jika sebelumnya hanya 132 bed maka saat ini jumlahnya bertambah menjadi 290 bed. Kalau sebelumnya baik di RS rujukan maupun intermediate terdapat 249 bed, saat ini bertambah menjadi 490 bed non kritikal. Untuk bed critical juga bertambah dari 22 menjadi 32 bed. Jumlah tersebut belum termasuk tambahan bed kritikal di Sardjito.

Direktur RSU Mitra Paramedika Ichsan Priyotomo mengatakan pihaknya awalnya menyediakan empat bed dan saat ini bertambah hingga 16 bed untuk Covid-19. Jika di rata-rata, kata Ichsan, ketersediaan bed khusus pasien Covid-19 untuk RS tipe D tersebut sudah di atas 30%. Penambahan jumlah bed tersebut juga diimbangi dengan penyiapan SDM maupun fasilitasnya.

Selain harus mengeluarkan biaya besar, penambahan bed khusus Covid tersebut juga menambah jumlah APD. Pihaknya sempat kekurangan APD sehingga meminta bantuan dari Dinkes. "Saat ini penambahan bangsal khusus Covid sudah operasional. Ya kendalanya saat menyiapkan bangsal, harus memisahkan yang reguler dengan yang khusus isolasi. Dulu saat empat bed kami sistem roling, saat ini sudah khusus bangsal isolasi," katanya.

Berbeda dengannya, Direktur RSUD Prambanan Isa Dharmawidjaja mengatakan saat ini tersedia 12 bed untuk pasien Covid-19. Jumlah tersebut termasuk dua bed untuk persalinan covid-19 dan 1 bed kritikal. Jika tidak ada pasien untuk persalinan Covid, maka bed tersebut digunakan untuk pasien non persalinan Covid. "Yang dirawat di sini yang sudah bermasalah. Kondisi bed penuh terus, misalnya pagi kosong dua sore bisa masuk tiga pasien," ujar Isa.

BACA JUGA : Hari Ini 319 Warga Jogja Positif Covid-19, 178 Sembuh

Dijelaskan Isa, ketersediaan 21 bed khusus Covid tersebut hanya mencapai 21% dari kapasitas bed yang ada, 101 bed. Sebelumnya RS ini memiliki 7 bed atau 7% dari total kapasitas bed. Ia mengaku tidak bisa menambah jumlah bed lagi dengan alasan ketersediaan lahan dan bangunan yang sudah tidak mencukupi dan juga SDM. Termasuk masalah biaya yang tidak sedikit karena ruang isolasi yang disediakan memiliki tekanan negatif.

"Untuk menambah 21 bed saja, kami merekrut 14 orang PHL dengan tiga shif. Kami harus menjaga kondisi SDM kesehatan kami, jangan sampai terpapar Covid. Kalau ada yang flu tidak diizinkan untuk masuk," ujarnya.