Pembatasan Longgar, 6 Kecamatan di Bantul Zona Merah Covid-19

Ilustrasi - Freepik
21 Februari 2021 18:47 WIB Jumali Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Bantul ternyata tidak berdampak signifikan terhadap penurunan jumlah kapanewon (kecamatan) yang masuk zona merah. Sebaliknya, jumlah kapanewon yang masuk zona merah justru meningkat.

Berdasarkan zonasi risiko Covid-19 dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul mulai 16 Februari 2021 hingga 1 Maret 2021, ada enam kapanewon masuk zona merah. Keenam kapanewon itu antara lain, Sanden, Bambanglipuro, Bantul, Jetis, Kasihan, dan Pajangan.

BACA JUGA: Terlalu Ekstrem, Tanjakan Bundelan Gunungkidul Butuh Normalisasi

Jumlah ini meningkat dibandingkan zonasi risiko sebelumnya yakni dari 2-15 Februari 2021, dengan empat kapanewon yang masuk zona merah. Keempat kapanewon itu adalah Bantul, Sewon, Banguntapan dan Piyungan.  Selain zona merah bertambah, terdapat sejumlah perubahan peta risiko dari Dinkes Bantul.

Kapanewon Sewon dan Banguntapan yang sempat menyandang zona merah beberapa bulan terakhir berubah menjadi zona oranye. Adapun Kapanewon Bambanglipuro untuk kali pertama ditetapkan sebagai zona merah penularan Covid-19.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Bantul, Sri Wahyu Joko Santoso, mengatakan perubahan dan peningkatan zona merah di enam kapanewon ini terjadi karena ada beberapa faktor.

Tidak hanya penerapan protokol kesehatan, adanya pelonggaran mobilitas penduduk juga berpengaruh kepada perubahan zona risiko.

BACA JUGA: Ini Tipe Rumah yang Dapat DP 0 Persen

Oki, panggilan akrab Sri Wahyu Joko Santoso, menilai keberhasilan tiga kapanewon yakni Banguntapan, Piyungan dan Sewon keluar dari zona merah tidak lepas dari ketatnya penerapan pembatasan mobilitas penduduknya.

“Nah sekarang tinggal enam kapanewon ini untuk lebih mengetatkan pembatasan, dan tidak melonggarkan mobilitas penduduknya,” katanya, Minggu (21/2/2021).

Panewu Bambanglipuro Lukas Sumanasa, menuturkan penyebaran kasus konfirmasi positif Covid-19 saat ini merata di tiga kalurahan di wilayahnya.

Ia memperkirakan penyebaran kasus lebih banyak berasal dari luar Bambanglipuro. Salah satunya adalah dari karyawan pabrik tekstil, yang lokasinya tidak ada di Kapanewon Bambanglipuro.

“Setelah tertular di tempat kerja, mereka menularkan ke anggota keluarga dan tetangga,” katanya, Minggu.

BACA JUGA: Ganti Rugi Tol Jogja-Solo Sudah Dibayarkan Nyaris Rp1 Triliun

Menurut Lukas, antisipasi lonjakan kasus positif Covid-19 telah dilakukan. Selain menyiapkan selter di tiga kalurahan, optimalisasi tim relawan dan satuan tugas (Satgas) padukuhan telah dilakukan.

Untuk warga yang menjalani isolasi mandiri di rumah, pengawasan dilakukan oleh satgas padukuhan. Di selter kalurahan, pemantauan ditangani oleh satgas kalurahan dan kapanewon.

“Tentunya pengawasan akan bekerjasa sama dengan puskesmas,” ucap Lukas.