Butuh Modal dan Peralatan, Peternak Udang di Pantai Samas Minta Perhatian

Peternak udang vaname di Pantai Samas. - Harian Jogja/Catur Dwi Janati
22 Maret 2021 12:47 WIB Catur Dwi Janati Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL - Peternak udang vaname di Pantai Samas membutuhkan bantuan secara teknis maupun pengetahuan. Pasalnya hingga kini belum ada instansi yang memberikan bantuan pengembangan kapasitas para peternak udang.

Salah satu peternak udang vaname di Pantai Samas, Eko Susanto mengaku sampai saat ini belum ada bantuan dari instansi terkait yang masuk kepada para peternak. Padahal menurut Eko peternak sangat butuh bantuan modal dan peralatan maupun pengetahuan pengendalian penyakit udang. "Belum ada bantuan permodalan. Harapan yang diinginkan peternak adalah satunya bantuan modal itu kalau bisa diberikan," tuturnya Minggu (21/3/2021).

Adapun bantuan alat yang diperlukan para peternak menurut Eko beragam. Mulai dari kincir air, alat pengukur kadar oksigen, alat pengukur pH dan beberapa piranti lainnya. "Yang dibutuhkan peternak itu alat, ya kincir, disel air. Kalau oksigen memenuhi enggak apa-apa, di sini kan untuk alat kurang," ujarnya.

Baca juga: Warga Bogor Sudah Bisa Nonton di Bioskop Lagi

"Untuk mengukur kadar garam enggak ada, untuk mengukur sanitasi air, pH air itu enggak ada. Selama ini teman-teman harus pinjam kemana-mana, ke dinas-dinas," imbuhnya.

Menurut Eko terhitung sangat penting adanya sosialisasi menyangkut obat atau teknik cara pengendalian penyakit terbaru. Selain itu untuk mengakses obat udang pun cukup susah, Eko harus membeli sampai Purworejo atau Congot.

"Jelas kan kita soal obat beli, di sini pun enggak ada harus ke Purworejo atau Congot. Enggak ada sosialisasi kalau udang kena penyakit ini harus diapain, obatnya apa. Selama ini cuma getok tular dari teman-teman peternak penyakit ini harus dikasih obat ini," tandasnya.

Baca juga: Mantap! Vaksin Merah Putih Bisa Dipakai Awal 2022

Sekretaris DPD Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) DIY, Krisma Eka Putra menerangkan dalam aspek perikanan budidaya salah satunya tambak udang. Namun kerap kali tambak udang dikesankan kumuh, parsial dan tidak tertata. "Kami membangun suatu konsep, supaya tambak-tambak parsial ini yang berada di wilayah pesisir bisa jadi satu di satu tempat. Nanti limbahnya dikelolanya satu, terus nanti proses tebar, proses panen, lalu teknologinya itu kita bisa kelola dengan baik di satu tempat," terangnya.

Konsep yang disampaikan Krisma disebut translokasi udang berbasis budaya. Konsep tersebut sudah diserahkan Krisma ke Bupati Bantul dengan gambaran umum dan teknis pelaksanaannya. "Kemarin kita sudah koordinasi dengan Pemda DIY dalam hal ini Dinas Kelautan dan Perikanan DIY dan Paniradya Kaistimewan, karena ini bagian mendukung visi misi Gubernur DIY menyongsong peradaban Samudera Hindia," tambahnya.

"Untuk perikanan budidaya itu disiapkan di Kapanewon Sanden. Kami memang membuat desainnya berkoordinasi dengan Dinas Pertanahan dan Tata Ruang DIY di wilayah Kapanewon Sanden. Ini semua sudah siap, tapi kan kita memang harus melaksanakan proses birokrasi seperti apa yang seharunya, tapi prinsip semuanya sudah siap," imbuhnya.