BPKH Terus Kembangkan Investasi Syariah

Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, Eko Suwadi (kiri) menerima buku Investasi Surat Berharga BPKH dari Kepala Badan Pelaksana BPKH, Anggito Abimanyu (kanan), dalam bedah buku Investasi Surat Berharga BPKH, Jumat (26/3/2021)-Harian Jogja - Lugas Subarkah
26 Maret 2021 17:57 WIB Lugas Subarkah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-Industri haji dan umrah memiliki potensi ekonomi sangat besar, yang hingga saat ini belum dimanfaatkan dengan optimal. Sebab itu, investasi berbasis syariah terus dikembangkan oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH).

Kepala Badan Pelaksana BPKH, Anggito Abimanyu, menuturkan berdasarkan data BPKH pada 2019, Indonesia menempati urutan pertama dalam pengiriman jemaah haji, yakni sebanyak 221.000 jemaah, disusul Pakistan sebanyak 179.210 jemaah, India sebanyak 170.000 jemaah dan Bangladesh sebanyak 127.198 jemaah.

Sementara pada pengiriman jemaah umrah, pada tahun yang sama Indonesia menempati urutan kedua setelah Pakistan dengan jumlah sebanyak 946.962 jemaah. “Indonesia terbesar sdalam pengiriman jemaah haji, menjadi market leader harusnya,” ujarnya dalam bedah buku Investasi Surat Berharga BPKH, Jumat (26/3/2021).

BACA JUGA: Kemendikbud Luncurkan Kartu Indonesia Pendidikan

Dana penyelenggaraan ibadah haji BPKH pada 2020 meningkat sebesar 15% dari tahun sebelumnya, yakni Rp139,41 triliun dari Rp120,75 triliun pada 2019. Penambahan ini berasal dari setoran jamaah baru dan nilai manfaat, yang menunjukkan kepercayaan masyarakat masih tinggi pada BPKH.

Adapun rencana penempatan dan investasi dana haji idealnya diantaranya kerja sama dengan industri penerbangan haji dan umrah, investasi hotel bersama mitra Arab Saudi dan investasi katering makanan Indonesia di Arab Saudi.

Namun karena kondisi saat ini masih pandemi Covid-19, maka penempatan dan investasi masih berada pada sektor yang lebih aman seperti investasi surat berharga Syariah, pembiayaan Bank Penerima Setoran Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPS-BPIH) serta kerja sama investasi dengan Islamic Development Bank (IsDB).

Saat ini terdapat sejumlah kesempatan yang bisa digunakan untuk mengembangkan investasi BPKH, diantaranya potensi 10 juta muslim yang belum mendaftar haji, visi Saudi 2030 dengan penambahan jamaah haji serta era digitalissi mempermudah proses bisnis.

Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, Eko Suwadi, mengatakan dunia ekonomi dan finansial Islam sangat luas. Maka FEB UGM mendukung pengembangan ekonomi Syariah dengan pembukaan konsentrasi terkait ekonomi Syariah.

“Kami sudah membuka konsentrasi Ekonomi Islam, Akutansi Syariah, Islamic Finance. Belum menjadi program studi, tapi arahnya ke sana. Dengan konsentrasi ini, harapannya kami bisa siapkan tenaga muda,” ungkapnya.