Sumbu Filosofi Bisa Mendongkrak Pariwisata Berbasis Kualitas di Jogja, Ini Alasannya

Suasana Tugu Jogja mulai dipadati warga untuk merayakan pergantian tahun - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
27 Maret 2021 10:37 WIB Herlambang Jati Kusumo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Pengembangan sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai destinasi wisata, dinilai dapat mendukung pariwisata DIY menuju quality tourism atau pariwisata yang berorientasi pada kualitas bukan pada kuantitas atau priwisata massal.

Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY, Bobby Ardiyanto Setyo Ajie mengatakan dari sisi industri pihaknya sangat mendukung adanya paket wisata yang mengemas sumbu filosofis. “Dari sisi experience bisa mendorong quality tourism, sumbu filosofi diterjemahkan dengan benar dan akan memberikan experience,” ucap Bobby, dalam diskusi online pariwisata Pengembangan Sumbu Filosofi Yogyakarta untuk Mendorong Quality Tourism DIY, Jumat (26/3/2021).

Bobby menilai adanya pengembangan itu dapat meningkatkan long of stay atau lama tinggal wisatawan di Jogja. Meski begitu, Bobby mengungkapkan ada sejumlah hal yang perlu disiapkan agar pengembangan sumbu filosofi tersebut dapat maksimal. Seperti halnya menyiapkan masyarakat sekitar sumbu filosofi memiliki kesadaran adanya sumbu filosofi itu. Dengan begitu dapat menjadi supporting dan akselerasi pariwisata, dan mendorong shifting pariwisata ke produk quality tourism.

BACA JUGA: Menpora Beri Rekomendasi Kompetisi Futsal Digelar di Jogja

Pengamat pariwisata dan anggota Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI DIY), Ike Janita Dewi meyakini dengan persiapan yang matang dalam pengembangan sumbu filosofi sebagai daya tarik wisata itu akan memberikan multiplier effect ke ekonomi lebih luas. “DIY memiliki potensi tidak hanya ke nasional tetapi juga ke Internasional. Pesaing kita saat ini dari Malaysia, Thailand, Kamboja,” ujar Ike.

Dia mengatakan untuk menuju kesitu perlu menyesuaikan juga ke standar internasional. Pariwisata berkualitas ini perlu didorong baik dari segi akses, atraksi dan amenitas. Perhatian lebih pada pelayanan, kebersihan hingga keselamatan juga harus diutamakan.

Senada dengan Bobby, Ike menekankan perhatian pada internal branding. Perlu kesadaran bersama tentang sumbu filosofi ini. Setelah kuat di internal branding kemudian menuju promosi ke eksternal, atau jika bisa berjalan berbarengan keduanya.

Kepala Dinas Pariwisata DIY, Singgih Raharjo mengungkapkan pihaknya akan bekerjasama dengan pihak terkait mengemas paket pariwisata untuk sumbu filosofi ini. Menurutnya narasi yang baik, dan dengan pelatihan ke pemandu wisata, akan dapat memberikan cerita yang baik kepada wisatawan.

Ketua Badan Promosi Pariwisata DIY, GKR Bendara mengatakan Badan Promosi Pariwisata DIY yang baru dikukuhkan beberapa waktu lalu tengah sedang melakukan riset kondisi rill DIY seperti apa, tidak hanya dari objek wisatanya tetapi juga pada attitude pariwisata, penerapan protokol kesehatan.

Meski dalam kondisi pandemi Covid-19 saat ini GKR Bendara mengatakan tidak mengurangi target 2025 DIY. Diketahui 2025 DIY memiliki target sebagai salah satu destinasi terkemuka di Asia Tenggara. “Kita tetap target sama tidak mengurangi, adanya pandemi ini ada strategi yang diubah,” ujar GKR Bendara.

GKR Bendara mengatakan promosi memang terus dilakukan agar Jogja tidak dilupakan. Dalam kondisi wisatawan yang sedang sepi seperti saat ini, menurutnya dapat dimanfaatkan untuk DIY berbenah semakin meningkatkan kualitasnya. Sehingga ketika nanti wisatawan sudah ramai, DIY pun telah semakin siap menerima wisatawan.

Deputi Kepala BI DIY, Miyono mengatakan sektor pariwisata memiliki multiplier effect yang besar terhadap roda perekonomian DIY. Seiring dengan terhentinya aktivitas pariwisata akibat pembatasan mobilitas masyarakat selama pandemi menyebabkan DIY memasuki resesi selama empat kuartal berturut-turut dimana pada Triwulan III 2020, perekonomian DIY tumbuh terkontraksi sebesar -2,69% (yoy).

Sejalan dengan hal tersebut, Miyono menyampaikan bahwa DIY punya potensi pariwisata yang luar biasa. “Perlu adanya strategi khusus dalam rangka percepatan pemulihan sektor pariwisata dan balancing antara mass tourism dan quality tourism di DIY. Jika pariwisata bergerak maka akan menggerakkan pertumbuhan produksi dan pendapatan daerah, yang ujungnya di kesejahteraan ekonomi masyarakat DIY,” ujarnya.