Sempat Menggembirakan, Kasus Covid-19 Jogja Melonjak di Akhir Bulan, Ini Penyebabnya

Ilustrasi. - Freepik
29 Maret 2021 09:17 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kasus harian Covid-19 di DIY sempat menunjukkan penurunan pada awal pekan pertama Maret 2021 hingga pekan ketiga. Namun kembali terjadi lonjakan pada pekan keempat di bulan yang sama. Peningkatan ini diklaim sebagai salah satu dampak dari keaktifan Satgas Covid-19 di pedukuhan hingga level RT/RW dalam melakukan tracing.

Berdasarkan catatan Harianjogja.com melalui rangkuman data harian yang dirilis Satgas Covid-19 DIY. Pada awal Maret sebenarnya data Covid-19 menunjukkan angka yang cukup menggembirakan. Pekan pertama jumlah kasus harian terakumulasi total 1.164 terkonfirmasi positif. Bahkan pada tanggal 6 Maret hanya tercatat penambahan 89 kasus dan didominasi angka di bawah 200 per harinya. Bahkan angka 89 ini menjadi kasus harian paling rendah selama 2021.

Pada pekan kedua bulan ini, data kembali menunjukkan penurunan dari pekan pertama dengan angka 1.130 dan mencatatkan level terendahnya dengan penambahan 90 kasus positif pada 14 Maret. Begitu juga pada pekan ketiga, kasus positif kembali menurun dengan total penambahan 1.093 kasus selama sepekan tersebut.

BACA JUGA: Begini Tren Desain Hunian Minimalis ala Milenial

Tetapi pada pekan keempat hingga Minggu (28/3/2021) terjadi lonjakan dibandingkan pekan sebelumnya di bulan yang sama. Total dengan penambahan 1.359 kasus positif selama sepekan terakhir. Namun secara umum penambahan kasus positif Covid-19 di bulan Maret sebenarnya lebih rendah dibandingkan Februari. Dengan rincian positif Covid-19 ada 1723 kasus di pekan pertama, 1.485 kasus di pekan kedua, 1.393 kasus di pekan ketiga dan 1.367 kasus di pekan keempat.

Saat diminta konfirmasi terkait lonjakan kasus positif Covid-19 pada pekan terakhir Maret 2021, Juru Bicara Pemda DIY untuk Penanganan Covid-19 Berty Murtiningsih menyatakan kenaikan itu disebabkan banyak faktor. Di antaranya adanya tracing yang meningkat sehingga mendapatkan banyak kasus baru. Namun faktor kepatuhan masyarakat terhadap penerapan protokol Kesehatan dimungkinkan turut menyumbangkan penyebab kenaikan.

“Tracing meningkat. Tapi juga sepertinya kepatuhan masyarakat untuk prokes masih belum optimal,” katanya kepada Harian Jogja, Sabtu (27/3/2021).

Berty tidak menampik banyak aktivitas dan keramaian di wilayah DIY termasuk mulai ditemukan banyak titik kemacetan turut menjadi faktor penyumbang kenaikan kasus.

“Salah satunya itu [mulai banyaknya aktivitas masyarakat],” ujarnya.

Berty menilai penerapan PPKM Mikro yang membuat aktif Satgas di level pedukuhan hingga RT/RW menjadikan kemampuan tracing semakin meningkat. Oleh karena kontak erat bisa dilacak sehingga banyak ditemukan kasus baru.

“Tetapi juga faktor tracing mempengaruhi, dengan adanya PPKM mikro, maka kemampuan tracing semakin kuat dengan bantuan berbagai pihak, sehingga kontak erat yang dilacak juga semakin meningkat,” kata Berty.