QUAT BPD DIY Diyakini Memperkuat UMKM di Sleman

Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo (tengah) bersama Pimpinan Bank BPD DIY Cabang Sleman Efendi Sutopo Yuwono (kanan) saat menjadi narasumber Ngopi Bareng Bersama Bupati, Senin (29/3/2021).-Harian Jogja - Abdul Hamid Razak
30 Maret 2021 10:17 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Mengembangkan potensi pelaku UMKM dapat dilakukam dengan berbagai cara. Salah satunya dengan memperkuat digitalisasi sektor UMKM.

Hal itu diutarakan Pimpinan Bank BPD DIY Cabang Sleman Efendi Sutopo Yuwono dalam "Talkshow Online Ngopi Bareng Bupati, Sinergi Pemkab dan Bank BPD MemperQUAT UMKM Sleman", yang digelar, Senin (30/3/2021).

Ia mengatakan salah satu upaya yang dilakukan bank pelat merah ini untuk memperkuat potensi yang dimiliki UMKM dengan mengubah model transaksi. Dari sebelumnya menggunakan transaksi tunai ke transaksi non-tunai.

Dengan pola ini, kata Efendi, kelemahan UMKM misalnya untuk mencatat setiap transaksi usaha yang dilakukan dapat teratasi. Sebagai solusi terkait transaksi non-tunai ini, kata Efendi, Bank BPD DIY memiliki sistem transaksi non-tunai QUAT. "QUAT ini merupakan Qris Ultimate Automated Transaction. Merupakan sistem penerimaan pembayaran milik BPD DIY," katanya saat menjadi narasumber talkshow online kerja sama Harian Jogja, Bank BPD Sleman dan Pemkab Sleman, Senin (29/3/2021).

QUAT, lanjutnya, menjadi alat penerimaan pembayaran berupa barcode yang dapat digunakan diberbagai platform. Dengan QUAT juga transaksi pembayaran bisa dilakukan dengan mudah dan cepat. "Mempercepat dan mempermudah transaksi pembayaran. Tanpa pembayaran cash,"katanya.

Saat ini, lanjut Efendi, QUAT sudah digunakan untuk menerima pembayaran berbagai macam transaksi. Mulai umkm, pelaku usaha lainnya. QUAT juga tidak terbatas diaplikasikan untuk bisnis ekonomi saja tetapi juga untuk penerimaan pembayaran sosial dan keagamaan. Misalnya membayar infaq masjid atau sumbangan ke panti asuhan.

BACA JUGA: WHO: Covid-19 Mungkin Ditularkan Kelelawar ke Manusia Lewat Hewan Lain

"Apalagi sebentar lagi Ramadan. Ada kotak infaq, gunakan HP barcode, kirim. Untuk penerimaan sumbangan sosial di panti asuhan, pondok pesantren juga bisa dimanfaatkan," katanya.

Karena dapat digunakan lintas platform, kata Efendi, penggunanya tidak harus memiliki rekening di bank atau mobile banking. Pengguna QUAT bisa memakai dompet digital seperti Gopay, Ovo atau LinkAja atau QRIS bank lainnya. "Sampai saat ini sudah ada 20.000 merchant QUAT di DIY dan di Sleman ada 5000 merchant. Ke depan kami targetkan 150.000 merchant se-DIY mengaktivasi QUAT," katanya.

Dia menjelaskan, ada banyak manfaat bagi UMKM menggunakan QUAT. Selama ini, katanya, kendala pencatatan penerimaan usaha dihadapi UMKM. Padahal itu menjadi penting agar UMKM dapat mengakses permodalan. "Dengan QUAT itu dapat diatasi karena semua transaksi tercacat. Ini penting bagi bank untuk melihat histori pendapatan UMKM dan memberikan mereka permodalan," katanya.

Untuk meningkatkan penggunaan QUAT, lanjutnya, BPD DIY akan menggunakan strategi intensifikasi dan ekstensifikasi. Untuk strategi intensifikasi, pihaknya akan mendorong 6.000 UMKM di Sleman untuk mengaktivasi QUAT. Adapun strategi ekstensifikasi dilakukan dengan bekerjasama dengan berbagai sektor. "Misalnya dengan Dinas yang mengampu berbagai usaha. Kami gandeng Dinas untuk bersinergi agar pelaku usaha binaannya menggunakan QUAT," katanya.

Efendi meyakini, QUAT menjadi salah satu cara untuk membangkitkan kembali UMKM di tengah pandemi Covid-19. Dengan QUAT pelaku UMKM juga "dipaksa" menabung. Jika histori transaksi terekap, maka dengan mudah mengakses permodalan. "Kemudahan akses permodalan ini akan menjadi multiplayer efek untuk pergerakan ekonomi," katanya.

Sementara Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo mengatakan sesuai visi dan misinya ia menyiapkan program menyelamatkan UMKM di tengah pandemi Covid-19. "Kami ingin mengangkat UMKM di Sleman setelah melewati masa pandemi. Ada banyak program yang akan kami fasilitasi agar UMKM kembali pulih," kata Kustini.

Dia menyontohkan, agar bertahan hidup dan mampu kembali bangkit maka Pemkab alan memberi fasilitas soal perizinan bagi UMKM. Ini dilakukan agar UMKM bisa naik kelas. Selain itu, Pemkab juga menfasilitasi bimbingan teknia bagi pelaku UMKM agar mereka bisa melakukan penjualan online.

"Kami terus memonitor perkembangnya selama mereka menggunakan sistem digital. Jadi tidak hanya menerima bimtek, tetapi terus dimonitor," katanya.

Untuk menggairahkan kembali produk UMKM lanjut Kustini, Pemkab akan mendorong para milenial juga terjun ke bidang UMKM. Baginya generasi milenial memiliki banyak cara dan upaya untuk berjualan produk UMKM. "Pemkab juga menfasilitasi UMKM untuk mengikuti pameran di Dekranasda. Kami juga akan membantu pemasarannya. Termasuk juga masalah permodalan," katanya.

Semua program yang disiapkan tersebut, ujar dia, bermuara pada kampanye Borong Bareng Produk Sleman yang diinisiasi oleh Pemkab. Tujuannya agar masyarakat Sleman mencintai dan membeli produk UMKM Sleman. "Borong Bareng Produk Sleman ini salah satu program yang kami kampanyekan kepada masyarakat untuk kebangkitan UMKM di Sleman," katanya.