Puncak Kemarau Agustus, Warga Gunungkidul Diminta Hemat Air
BPBD Gunungkidul meminta warga menghemat air saat puncak kemarau Agustus 2026. Sebanyak 184 tangki air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan.
Ilustrasi budidaya garam./Bisnis Indonesia
Harianjogja.com, TANJUNGSARI – Petani garam di Pantai Sepanjang, Kalurahan Kemadang, Tanjungsari, Gunungkidul terus memutar otak agar usaha budidaya berjalan secara maksimal. Salah satu usaha yang dilakukan dengan mengembangkan produksi garam untuk kecantikan.
Ketua Koperasi Produsen Garam Tirta Bahari, Wahyono mengatakan, usaha produksi garam yang dijalankan kelompok belum optimal. Hal ini dikarenakan, hasil belum dirasakan untuk kesejahteraan anggota.
BACA JUGA : Budi Daya Garam di Pantai Dadap Ayam Masih Jadi
Untuk sekarang, lanjut dia, ada dua produksi yang dijalankan. Yakni, budidaya garam pakan ternak dan konsumsi masyarakat. “Kalau untuk ternak tidak ada masalah, tapi yang konsumsi belum bisa dipasarkan secara luas. Produk kami belum memiliki Standarisasi Nasional Indonesia [SNI sehingga jadi kendala dalam pemasaran karena harus memiliki sertifikasi ini agar bisa dipasarkan,” katanya.
Menurut Wahyono, pengurusan SNI sudah diajukan dengan meminta bantuan ke pemerintah. “Prosesnya memang panjang, tapi berharap segera bisa keluar untuk mendukung produksi garam di Sepanjang,” katanya.
Dia menambahkan, di sela-sela menunggu pengurusan SNI, para petani tak mau berpangku tangan. Guna mendukung kelancaran usaha dikembangkanlah garam kecantikan untuk pemenuhan kebutuhan garam spa di hotel-hotel.
BACA JUGA : Digelontor Rp750 Juta, Minat Budi Daya Garam di Pesisir DIY
“Kebetulan kami mendapatkan bantuan jadi dimanfaatkan untuk pengembangan garam kecantikan,” katanya.
Wahyono menuturkan, lahan yang digunakan berada satu lokasi dengan produksi garam konsumsi. Adapun lokasi memanfaatkan tempat bekas produksi garam yang tak difungsikan lagi. “Dulu ada percontohan pembuatan garam dengan sistem meja, tapi tidak berjalan baik. Makanya, sarana tersebut diubah untuk produksi garam kecantikan,” katanya.
Menurut dia, garam untuk spa atau kecantikan lebih mudah karena tidak membutuhkan sertifikat SNI sehingga bisa langsung dipasarkan. Wahyono mengakui, para petani harus terus berproduksi agar bantuan alat yang diberikan tidak menjadi sia-sia.
“Sarana produksi terus mengalami penyusutan. Kalau tidak dimanfaatkan malah rugi, apalagi diperkirakan usianya tidak lama sehingga butuh pergantian. Untuk mengganti, harus tetap produksi sehingga ada pendapatan guna persiapan penggantian alat produksi,” katanya.
BACA JUGA : Petani Garam Gunungkidul Berhenti Produksi
Salah seorang petani garam di Pantai Sepanjang, Winarto mengakui usaha budidaya masih belum berjalan dengan baik. Adanya pandemic corona ikut memberikan dampak terhadap jalannya usaha. “Sempat beberapa bulan berhenti operasi, tapi sekarng sudah mulai produksi lagi. Mudah-mudahan semua berjalan lancar dan usaha garam yang dikembangkan bisa terus maju,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Gunungkidul meminta warga menghemat air saat puncak kemarau Agustus 2026. Sebanyak 184 tangki air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan.
Wacana pembatasan BBM subsidi menyasar desil 9-10. Simak cara cek desil DTSEN melalui situs Cek Bansos Kemensos dengan NIK.
Maroon 5 akan konser di Jakarta pada 5 Februari 2027. Simak harga tiket, jadwal presale, dan cara pembelian tiketnya.
KPK memeriksa mantan Dirut Bank BJB Yuddy Renaldi sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan iklan periode 2021-2023.
Wacana pembatasan BBM subsidi untuk desil 9-10 berpotensi berdampak pada 51 juta warga kelas menengah dan calon kelas menengah.
Kejagung memastikan kasus transfer pricing PT Toba Pulp Lestari berbeda dari laporan Purbaya Yudhi Sadewa dan rugikan negara Rp2 triliun.