Petani Garam Gunungkidul Berhenti Produksi

Sejumlah warga memperbaiki terpal pelindung petak-petak untuk budidaya garam di Pantai Dadapayam, Kalurahan Kanigoro, Saptosari, Senin (15/3/2021). - Ist/ Dok Kelompok Petani Garam di Pantai Dadapayam
16 Maret 2021 04:17 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Petani garam di Gunungkidul yang berada di Pantai Dadapayam dan Sepanjang berhenti produksi. Selain adanya kerusakan mesin pompa, lesunya penjualan akibat Pandemi Corona juga menjadi penyebab para petani menghentikan kegiatan budidaya.

Ketua Kelompok Petani Garam Dadap Makmur di Pantai Dadapayam, Kalurahan Kanigoro, Saptosari, Triyono mengatakan, kelompok tidak lagi memproduksi garam sejak satu tahun lalu. Menurut dia, ada beberapa faktor yang mengakibatkan aktivitas produksi berhenti.

Proses ini dimulai adanya kerusakan mesin pompa untuk mengangkat air laut ke lokasi budidaya. Praktis dengan kerusakan mesin pompa, maka suplai untuk bahan baku garam jadi terkendala.

Baca juga: Pusat Klaim Kasus Covid-19 di Jogja Melandai karena PPKM Mikro

Triyono mengungkapkan, kondisi ini diperparah dengan angin kencang yang merusak terpal plastik pelindung petak-petak yang digunakan lokasi budidaya. “Jadi awalnya hanya mesin pompa, tapi karena tidak ada aktivitas produksi maka terpal-terpal juga ikut rusak,” katanya saat dihubungi wartawan, Senin (15/3/2021).

Adanya permasalahan dalam proses produksi sudah dilaporkan. Bahkan, sambung dia, kelompok sudah mendapatkan bantuan berupa mesin pompa dan terpal untuk memperbaiki kerusakan yang ada. Triyono mengakui anggota kelompok sudah memulai kerja bakti untuk menghidupkan kembali budidaya garam yang sempat vakum selama satu tahun.

“Sudah mulai diperbaiki dan kami targetkan di awal April sudah bisa kembali beroperasi,” ungkapnya.

Baca juga: Jalan Gito-Gati Sleman Akan Dilebarkan & Dilengkapi Trotoar

Untuk di awal-awal produksi lagi, ia berharap budidaya bisa berjalan dengan lancar tanpa ada kendala sehingga hasilnya dapat dipasarkan ke masyarakat. Hanya saja, Triyono juga berharap ada perbaikan harga sehingga petani tetap mendapatkan keuntungan guna meningkatkan kesejahteraan.

“Sebelum berhenti operasi, setiap bulan bisa menghasilkan delapan kuintal garam. Untuk harga hanya laku Rp3.000 per kilonya [kilogram], kami berharap harganya bisa lebih baik lagi,” katanya.

Matinya budidaya garam di kawasan pesisir Gunungkidul juga terjadi di Pantai Sepanjang, Kalurahan Kemadang, Tanjungsari. Ketua Kelompok Budidaya Garam di Pantai Sepanjang, Winarto mengatakan, berhentinya produksi belum lama karena saat awal pandemic corona masih membuat garam. “Belum lama, tapi memang corona juga ikut memberikan dampak terhadap berhentinya operasional,” katanya.

Menurut dia, upaya produksi akan dimulai kembali dengan meperbaiki sarana prasarana pendukung dalam budidaya. “Harusnya hari ini [kemarin] kerja bakti untuk perbaikan, tapi berhubung ada kegiatan di kalurahan maka akan dilakukan besok [hari ini],” kata Winarto.