Advertisement
KWT di Bantul Menanti Peluang Jadi Pemasok Bahan Baku Program MBG
Foto ilustrasi dapur MBG yang dikelola SPPG, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.
Advertisement
Harianjogja.com, BANTUL–Keinginan kuat untuk berkontribusi dalam penguatan gizi nasional muncul dari para petani perempuan di Bumi Projotamansari. Kelompok Wanita Tani (KWT) Kabupaten Bantul berharap dapat dilibatkan secara aktif sebagai pemasok bahan pangan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) guna mendongkrak ekonomi lokal.
Ketua KWT Kabupaten Bantul, Supriyati, mengungkapkan bahwa sejak fase uji coba dimulai pada Agustus 2025, pihaknya belum mendapatkan kesempatan kerja sama maupun komunikasi formal dari pihak penyelenggara.
Advertisement
Padahal, KWT memiliki ketersediaan komoditas pangan berkualitas unggul, terutama beras segar hasil panen petani setempat yang langsung diproses melalui penggilingan tanpa melalui masa penyimpanan lama di gudang.
“Kami sama sekali belum pernah diminta untuk menyiapkan bahan pangan yang nantinya akan dibeli oleh SPPG. Komunikasi saja tidak ada, apalagi akan dibeli bahan pangan dari KWT,” keluh Supriyati saat dihubungi pada Selasa (3/3/2026).
BACA JUGA
Ia menegaskan bahwa produk yang mereka tawarkan, seperti beras baru, memiliki keunggulan tekstur dan nutrisi dibandingkan stok lama yang sering beredar di pasar skala besar.
Selain bahan pokok, para srikandi tani ini juga memproduksi aneka camilan kering mulai dari roti, emping melinjo, hingga ceriping tela dan jagung yang sangat relevan dengan kebutuhan menu saat Ramadan.
Supriyati menyayangkan produk olahan tersebut belum dilirik oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), padahal mekanisme pembagian menu selama bulan puasa biasanya dialihkan ke bentuk paket makanan kering bagi para siswa.
Menariknya, produk-produk KWT Bantul justru telah sukses menembus jaringan ritel nasional dan supermarket lokal yang memberikan dampak ekonomi nyata bagi anggota kelompok.
Kondisi ini menunjukkan bahwa standar kualitas produk lokal sebenarnya telah memenuhi kriteria pasar modern, meskipun Supriyati menduga faktor stabilitas pasokan dan persaingan harga dengan distributor besar menjadi ganjalan utama dalam memasuki rantai pasok Program Makan Bergizi Gratis (MBG) saat ini.
Faktor efisiensi harga memang sering kali membuat pengelola dapur umum cenderung memilih pemasok skala besar yang mampu memberikan penawaran lebih murah.
Namun, keterlibatan KWT dalam penyediaan bahan baku Program MBG dinilai akan menjadi langkah strategis pemerintah dalam memberdayakan potensi pertanian daerah sekaligus memastikan distribusi manfaat ekonomi program ini menyentuh lapisan masyarakat paling bawah di pedesaan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Fee 5 Persen dan Ancaman Mutasi Terkuak di Sidang Abdul Wahid
Advertisement
Bioskop Nyaman Rp5 Ribu di Museum Sonobudoyo Masih Sepi Peminat
Advertisement
Berita Populer
- Catat, Ini Lokasi dan Tarif Parkir Resmi Kota Jogja Tahun 2026
- Pengolahan Mandiri Efektif, Sampah Residu di Demangan Jogja Berkurang
- Kelelahan, Polisi Kapospam Tugu Jogja Meninggal Dunia Saat Bertugas
- Posko THR Bantul Terima 20 Aduan, 5 Kasus Dilimpahkan ke Provinsi
- Volume Sampah Libur Lebaran di Jogja Terkendali, Naik Tipis 7 Persen
Advertisement
Advertisement





