Sudah 6 Kali PPKM, Sleman Masih Diselimuti Zona Merah

Tangkapan layar peta Sebaran Kasus Covid di DIY versi Pemda DIY. (corona.jogjaprov.go.id)
15 April 2021 20:17 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Penerapan PPKM Tahap I hingga Tahap VI , mulai 11 Januari lalu hingga 5 April memang membuat kasus baru Covid-19 di Sleman cukup terkendali. Meskipun mengalami penurunan drastis, namun saat ini di Sleman ada kecenderungan kasus Covid-19 kembali meningkat.

Hal ini berdasarkan peta data kasus Covid-19 selama PPKM I hingga VI di Sleman, di mana pada PPKM I dan II penambahan kasus Covid-19 mencapai puncaknya. Selama PPKM I (11-25 Januari) tercatat 1.538 kasus dan 1.447 kasus pada PPKM II (26 Jan-8 Feb) dengan tingkat kematian 44 kasus (tahap 1) dan 41 kasus (tahap 2).

Pada PPKM tahap III (9 Feb-22 Feb), jumlah kasus baru menurun drastis sebanyak 702 kasus namun kasus kematian melonjak drastis sebanyak 65 kasus. Dinas Kesehatan (Dinkes) mencatat PPKM tahap IV (23 Feb-8 Mar) jumlah kasus kembali naik menjadi 739 kasus namun kasus kematian menurun menjadi 19 kasus.

Selama PPKM tahap V (9 Mar-22 Mar), kasus baru kembali meningkat menjadi 817 kasus dan kasus kematian juga melonjak sebanyak 24 kasus. Lonjakan kasus juga terjadi selama PPKM tahap VI (23 Mar-5 Apr) jumlah kasus terus bertambah sebanyak 1.030 kasus dengan kematian 27 kasus.

Fenomena kenaikan kasus juga terasa sejak PPKM tahap VII dimulai sejak 6 April hingga 19 April. Berdasarkan data Satgas Covid-19 Sleman hingga 15 April, Dinkes Sleman mencatat 736 kasus dengan kematian sebanyak 35 kasus.

Terus bertambahnya kasus baru di Sleman, berdasarkan data epidemologi kasus Covid-19 per 11 April, penyebaran kasus Covid-19 di Sleman masih tergolong tinggi. Terbukti, 13 kapanewon masih masuk zona merah. Meliputi, Kapanewon Gamping, Moyudan, Seyegan, Mlati, Depok dan Berbah. Selain itu, Kapanewon Kalasan, Ngaglik, Sleman, Tempel, Turi, Pakem dan Cangkringan.

Adapun empat kapanewon yang masuk zona oranye, meliputi Kapanewon Godean, Minggir, Prambanan dan Ngemplak. Tidak ada zona kuning apalagi zona hijau untuk tingkat kapanewon. Terkait masih tingginya kasus penyebaran Covid-19, Sleman sampai saat ini masih termasuk kabupaten zona merah.

Masih berdasarkan peta epidemologi, angka penularan Covid-19 di Sleman rata-rata 1.12 di atas rata-rata nasional 0,88. Kasus aktif di Sleman mencapai 9.02 melebihi rata-rata nasional 7.02. Rata-rata kesembuhan pasien 08.21 masih dibawah rata-rata nasilnal 90.27. Adapun kasus kematian 2.77 di atas rata-rata nasional 2.71.

Berdasarkan data Satgas Covid-19 DIY, terdapat penambahan kasus baru sebanyak 72 kasus pada Kamis (15/4). Adapun kasus sembuh tercatat sebanyak 66 kasus dengan penambahan kasus meninggal sebanyak tiga kasus.

Dengan penambahan kasus tersebut maka total jumlah kasus positif tercatat sebanyak 13.000 kasus dengan kesembuhan pasien sebanyak 11.500 kasus dan kasus meninggal sebanyak 360 kasus. Masih ada kasus aktif sampai saat ini sekitar 1.500 kasus.

BACA JUGA: Pekan Depan, Pemkot Jogja Mulai Pantau Penyaluran THR

Kepala Dinkes Sleman Joko Hastaryo mengakui peningkatan kasus tersebut terjadi selain masyarakat mulai abai menerapkan protokol kesehatan. Masyarakat mulai longgar menerapkan protokol kesehatan sehingga klaster baru seperti takziah bermunculan.

Selain itu, Dinkes melalui masing-masing Puskesmas juga massif melakukan tracing dan tracking untuk mencari kontak erat atau suspek agat cepat ditemukan. Joko juga menduga penularan kasus baru terjadi akibat dari rentetan libur panjang yang terjadi pada akhir pekan terakhir.

Saat ini, masyarakat menjalani ibadah puasa dengan berbagai kegiatan sosial keagamaan. Mulai kegiatan solat berjemaah hingga pasar-pasar tiban Ramadan menjelang buka puasa. Joko berharap agar masyarakat tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan. Meskipun himbauan tersebut terasa klise, tapi Joko tetap harus menyampaikan agar masyarakat menghindari kerumunan.

"Jangan lupa meskipun sudah pakai masker dan cuci tangan, kalau berkerumun risiko tertular tetap sangat tinggi. Dan jangan lupa kasus di Sleman dan DIY masih tinggi, penularan masih terjadi, artinya masih banyak orang mengidap virus Corona tapi asimtomatik alias OTG," kata Joko.