Masih Ditemukan Pewarna Makanan di Makanan Takjil

Balai Besar POM (BBPOM) di Yogyakarta menggelar intensifikasi pengawasan pangan di awal bulan Ramadan pada Jumat (16/4/2021). Sasarannya adalah penjual makanan takjil di alun-alun Wates. Hasilnya, ditemukan pewarna makanan rhodamin b dari salah satu sampel makanan yang dijual. Harian Jogja - Hafit Yudi Suprobo.
18 April 2021 15:27 WIB Hafit Yudi Suprobo Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, WATES--Balai Besar POM (BBPOM) Yogyakarta menggelar intensifikasi pengawasan pangan di awal bulan ramadan pada Jumat (16/4/2021). Sasarannya, adalah penjual makanan takjil di alun-alun Wates. Hasilnya, ditemukan pewarna makanan rhodamin b dari salah satu sampel makanan yang dijual.

Koordinator Substansi Pengujian Balai Besar POM (BBPOM) Yogyakarta, Aris Hidayat, mengatakan operasi terhadap makanan yang dijual oleh sejumlah pedagang takjil di alun-alun Wates dilakukan untuk mengantisipasi potensi bahaya produk pangan Tidak Memenuhi Ketentuan (TMK) yang berpotensi muncul selama bulan Ramadan dan jelang Lebaran 2021.

"Ya, dari 22 sampel, 1 sampel mengandung pewarna yang dilarang yaitu rhodamin B," ujar Aris saat diwawancarai pada Jumat (16/4/2021).

Rhodamin b ditemukan dari sampel kerupuk slondok yang dijual oleh salah satu pedagang. Sementara itu, 21 sampel makanan lainnya yang diambil oleh Balai Besar POM (BBPOM) Yogyakarta untuk dilakukan pemeriksaan hasilnya tidak ditemukan kandungan zat berbahaya.

"Satu sampel kerupuk slondok dari satu pedagang. Sementara itu, sampel makanan lainnya yang kita ambil tidak ditemukan adanya kandungan zat berbahaya seperti Metanil Yellow, Borax, maupun Formalin," ujar Aris.

Sebagai informasi, rhodamin B merupakan zat warna golongan xanthenes dyes yang digunakan pada industri tekstil dan kertas, sebagai pewarna kain, kosmetika, produk pembersih mulut, dan sabun.

Lebih lanjut, bagi pedagang yang kedapatan menjual makanan yang mengandung zat berbahaya akan dilakukan pembinaan. Aris meminta agar pedagang tak lagi menjual makanan yang mengandung zat berbahaya.

"Kita masih pembinaan dulu ya. Awalnya kita bina. Tapi, kalau beberapa kali ditemukan ya bisa kota tindaklanjuti," kata Aris.

Operasi makanan di bulan ramadan dilakukan oleh Balai Besar POM (BBPOM) Yogyakarta secara serentak di seluruh wilayah DIY. Baik di kabupaten Kulonprogo dan kabupaten atau kota lainnya di DIY.

Oleh karena itu, Aris mengimbau bagi masyarakat agar waspada dalam membeli produk makanan takjil di bulan ramadan. Bagi penjual, tak lupa ia mengimbau agar menjual makanan yang layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat.

"Secara kasat mata memang [masyarakat] agak susah ya dalam membedakan mana makanan yang mengandung zat berbahaya maupun tidak," kata Aris.

Salah satu pengunjung alun-alun Wates, Prisilia, 28, warga Jogja mengatakan upaya Balai Besar POM (BBPOM) Yogyakarta menguji sejumlah makanan takjil di alun-alun Wates merupakan langkah yang patut diapresiasi. Pasalnya, masyarakat menjadi sadar jika tidak semua makanan yang dikonsumsinya layak untuk dimakan.

"Upaya tersebut menjadi cambuk bagi warga maupun pedagang ya. Jadi semua sadar untuk memilih makanan yang sehat dan layak untuk dikonsumsi. Kalau sekarang mungkin efeknya belum kerasa ya. Tapi, kalau lama-lama dikonsumsi kan ya bakal kerasa juga dampaknya," kata Prisilia.