ENDAH SUBEKTI KUNTARININGSIH: Demokrasi Seharusnya Memperjuangkan Perempuan

Endah Subekti Kuntariningsih Ketua DPRD Gunungkidul dan Ketua DPC PDIP Perjuangan Kabupaten Gunungkidul. (ist - Endah Subekti)
21 April 2021 07:07 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Semakin tinggi pohon, semakin kencang terpaan angin. Agar bisa bertahan tidak mudah roboh, akar penyangga pohon haruslah kuat. Prinsip ini yang dipegang Endah Subekti Kuntariningsih sebagai politikus perempuan di Gunungkidul. Ia pun banyak menyoroti lemahnya “akar” para perempuan menembus dunia politik.

Dalam keseharian, Endah Subekti memimpin dua kendaraan demokrasi dan politik di Bumi Handayani. Jabatannya adalah sebagai Ketua DPRD sekaligus Ketua DPC PDIP Perjuangan Kabupaten Gunungkidul.

Bagi Endah, meski tugas yang diemban berat tetapi ia berusaha melaksanakannya dengan baik. "Jadi harus semangat, pantang menyerah dan terus berusaha memberikan yang terbaik serta memiliki mental baja," katanya kepada Harian Jogja, Minggu (18/4).

Sebagai representasi perempuan di parlemen daerah, Endah menyoroti masih adanya kesenjangan gender di ranah publik dan politik. Hal itulah yang menjadi tantangan global yang dihadapi masyarakat utamanya dalam dunia demokrasi.

“Seharusnya demokrasi itu memperhatikan dan memperjuangkan kepentingan mayoritas penduduk, yang boleh diartikan mayoritas penduduk kita [Indonesia] ya terdiri dari kaum perempuan,” ujarnya.

Ia pun tegas menyebut dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28D Ayat 1 dinyatakan bahwa setiap orang berhak mendapatkan perlakuan yang sama di hadapan hukum. Sedangkan pada Ayat 3 disebutkan setiap warga negara berhak mendapatkan kesempatan yang sama dalam pemerintahan.

“Itu artinya baik perempuan maupun laki-laki pada dasarnya sama di harapan hukum, dalam politik, pendidikan, kesehatan dan lain-lain,” katanya tegas.

Ia pun membuktikan bisa setara dan mampu menjadi perempuan di garis terdepan dunia politik, menjadi contoh bagi perempuan lain. Menurut Endah, dunia politik sangat dinamis, karenanya segala kemungkinan harus dipersiapkan. Di dunia politik, seorang perempuan harus belajar berhati luas.

Sebagai contoh, saat pilkada harus disadari ada suara rakyat yang pilihannya berbeda-beda. Saat pemimpin baru terpilih dan yang diusung tidak menjadi pemenang, ia pun segera memberikan selamat. Bersikap legawa. “Yang terpenting untuk pembangunan yang lebih baik,” katanya.

Jabatan dobel di parlemen dan partai yang diembannya memiliki konsekuensi dan ia pun harus pandai-pandai membagi waktu agar keduanya berjalan dengan baik. Masing-masing jabatan memiliki tantangannya sendiri.

Sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan, ia harus bisa mengonsolidasikan seluruh kepengurusan dari mulai tingkat kabupaten, kapanewon, kalurahan hingga dusun. "Prinsipnya harus sesuai dengan garis kepartaian dan itu yang dijalankan," katanya.

Kondisi berbeda untuk posisi Ketua DPRD. Endah tidak menampik, dari sisi jumlah, anggota yang dipimpin tidak sebanyak keanggotaan di partai. Meski demikian, kepemimpinan di parlemen lebih rumit. Sebab, setiap anggota memiliki hak suara serta keanggotaan berasal dari lintas partai. "Jadi harus fleksibel sehingga bisa berjalan dengan baik," ujarnya.

 

Melek Politik

Di dunia politik, Endah memiliki mimpi untuk menggerakkan perempuan agar melek politik sehingga bisa sejajar dengan laki-laki. Bagi dia, partisipasi perempuan dalam memenuhi kuota 30% perempuan di parlemen saat ini masih sebatas pelengkap semata.

"Makanya saya terus dorong untuk perempuan berani tampil. Termasuk anggota Dewan perempuan harus berani menunjukkan kualitas diri sehingga tidak hanya tercatat menjadi anggota Dewan," katanya.

Menurut Endah saat ini masih banyak faktor yang menghambat partisipasi politik kaum perempuan di antaranya masih mengakarnya peran pembagian gender antara laki-laki dan perempuan secara tradisional. Hal itulah yang membatasi, menghambat partisipasi perempuan untuk menjadi pemimpin dan pembuat kebijakan.

Kendala lain adalah sosial ekonomi, psikologi dan masih rendahnya kehendak politik (political will) dan masa kritis (critical mass) perempuan di duna politik.

“Juga keberadaan dan kuatnya jaringan laki-laki sehingga perempuan banyak yang kurang percaya diri masuk wilayah politik terlebih untuk bersaing dengan laki-laki,” katanya.

Untuk mendorong keterlibatan perempuan dalam dunia politik sekaligus mengedukasi, Endah menyebut di internal partainya sudah dibentuk Satuan Tugas (Satgas) Puan.  "Kami rutin menggelar pertemuan dengan memberikan pendidikan politik. Mudah-mudahan dengan kaderisasi ini dapat memunculkan Kartini-Kartini masa kini yang unggul," katanya.

Kaum permpuan, bagi Endah, harus dibekali pendidikan politik yang cukup agar lebih berkualitas, juga berprespektif kesetaraan gender agar bisa menjadi perempuan andal. “Perempuanpun harus mandiri punya cita-cita dan bisa diandalkan di segala bidang,” katanya meyakinkan.