Begini Hasil Sekolah Tatap Muka SMA dan SMK di Sleman

Ilustrasi. - ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho
27 April 2021 22:37 WIB Lugas Subarkah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Kepala Balai Dikmen Sleman, Priyo Santosa, menjelaskan pelaksanaan uji coba PTM di SMK N 1 Depok dan SMA N 1 Gamping secara umum berjalan lancar sesuai prosedur operasional standar (POS) yang telah disusun.

Kendala ditemui ketika tempat tonggal sisea atay tenaga pendidik ditemukan klaster penularan covid-19 atau ditetapkan sebagai zona merah. Jika terjadi demikian maka siswa atau tenaga pendidik tidak diperbolehkan datang ke sekolah.

"Di tengah perjalanan kemaren ternyata ada di suatu daerah sisea tinggal terpapar covid-19, kalau anak masuk langsung kami tracing dan disuruh sekolah daring. Kayak kemaren di Gamping ada siswa atau guru yang tinggal di Jongke, yang terjadi klaster. Itu disuruh di rumah dulu lima hari," katanya, Selasa (27/4/2021).

Jika informasi terjadinya klaster penularan di tempat ringgal siswa terlambat diketahui, sekolah tetap akan melakukan tracing kepada semua siswa yang berinteraksi dan meski hasil skrining negatif tetap diarahkan untuk belajar di rumah. Demikian pula jika terjadi klaster penularan di sekolah, mala PTM akan langsung dihentikan.

BACA JUGA: Munarman Ditangkap, Polri: Terkait Jaringan ISIS

Evaluasi berikutnya yakni masih ada orang tua yang belum mengizinkan anaknya untuk mengikuti PTM. Namun menurutnya hal ini tidak masalah. "Mungkin mereka punya suatu kekhawatiran, tapi kami tetap berisaha mensosialisasikan bahwa kami memiliki protokol kesehatan yang ketat," ujarnya.

Dengan sejumlah poin evaluasi tersebut, maka uji coba PTM di dua sekolah ini masih akan dilanjutkan pada minggu ketiga dengan penerapan protokol kesehatan yang lebih ketat. "Karena dimungkinkan ketika minggu pwrtama dan kedua aman, yang ketiga jadi kendor. Maka harus lebih ketat lagi," ungkapnya.

Waka Kesiswaan SMK N 1 Depok, Sri Sundari, mengatakan sampai hari ini semuanya dpt berjalan lancar karena semua guru dan karyawan bekerjasama untuk menjaga prokes agar sesuai dengan peraturan yg berlaku.

"Satu kendala yg kita hadapi adalah orang tua dalam menjemput putra putrinya belum tepat waktu. Sehingga sekolah harus menyediakan tempat transit bagi siswa yang belum dijemput dan menambah petugas untuk mengawasi sampai siswa dijemput," katanya.