Larangan Mudik Jadi Upaya Putus Rantai Covid-19

Diskusi daring Harian Jogja bertema "Tidak Mudik, Lebaran Tetap Asyik", Senin (10/5/2021) - tangkapan layar Youtube Harian Jogja/Sirojul Khafid
11 Mei 2021 07:37 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA – Pelarangan mudik mulai 6-17 Mei 2021 bukan sekadar melarang perpindahan mobilitas masyarakat. Menurut Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi, rentang waktu ini sebagai upaya menekan laju pertumbuhan Covid-19.

Terlebih saat ini beberapa varian Covid-19 baru sudah masuk Indonesia. Sehingga mobilitas warga antar kota maupun provinsi menjadi lebih riskan dalam penyebaran kasus Covid-19.

“Tanggal 6-17 Mei 2021 itu jangan dilihat hanya persoalan mudiknya, tetapi kita pahami sebagai upaya menahan penyebaran Covid-19,” kata Heroe dalam diskusi daring Harian Jogja bertema "Tidak Mudik, Lebaran Tetap Asyik", Senin (10/5/2021).

“Ini masa untuk menahan agar virus tidak berpindah dari satu orang ke orang lain, yang punya potensi membawa virus atau varian baru.”

Untuk mencegah adanya pemudik yang datang ke Jogja, Pemerintah Kota Jogja lakukan penyekatan di dua titik yaitu Gejayan dan Wirobrajan. Penyekatan ini sebagai lapis kedua dari penyekatan yang ada di perbatasan DIY.

Selain itu, apabila pemudik lolos dari penyekatan, maka penjagaan selanjutnya berada di posko Pengetatan secara Terbatas Kegiatan Masyarakat (PTKM) Mikro yang berada di kelurahan, kampung, kemantren dan lainnya. Saat ini ada sekitar 2.300-an posko yang tersebar di seluruh Kota Jogja.

“22 April sampai 9 Mei 2021 sudah ada 225 orang yang masuk di Kota Jogja. Sejak awal harus menunjukkan surat sehat dan melakukan isolasi. Meskipun ada juga sejumlah posko yang atas kesepakatan warga sepakat tidak menerima orang mudik,” kata Heroe.

Sementara untuk destinasi pariwisata, masih memungkinkan pengelola untuk membukanya. Namun dengan pengetatan protokol kesehatan (prokes) serta pembatasan pengunjung. Begitupun dengan pusat perbelanjaan, harus ada pembatasan serta pengawasan dari satuan tugas ovid-19 yang ada di tempat tersebut.

Meski beberapa orang nekad untuk mudik, beberapa masyarakat memilih bertahan di perantauan. Salah satunya M. Nur Iskandar A yang saat ini menjadi Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Sudah dua kali idulfitri, Iskandar tidak pulang ke kampungnya. Namun momen ini dia isi dengan mengerjakan tugas akhir.

Selain itu, Iskandar dan juga teman-teman mahasiswa lainnya mengisi waktu luang selama tidak mudik dengan membaca, menonton konten, sampai olahraga. Iskandar memandang penting untuk tidak pulang guna mengurangi resiko penyebaran Covid-19.
“Ini tahun kedua Covid-19 belum hilang, bahkan belum tahu sampai kapan Covid-19 akan hilang. Saya rasa perubahan ini tidak akan terealisasi kalau tidak melakukan perubahan,” kata Iskandar.