UGM Gelar Syawalan Daring

Logo UGM. - JIBI
17 Mei 2021 23:07 WIB Lugas Subarkah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Mengawali hari kerja pertama setelah libur Idulfitri, keluarga besar UGM menggelar syawalan secara daring, Senin (17/5/2021). Kegiatan ini menjadi perayaan Idulfitri dan ajang silaturahmi bagi warga UGM dari berbagai fakultas dan unit kerja, tanpa harus menimbulkan kerumunan.

Rektor UGM, Panut Mulyono, menjelaskan momen Idulfitri dimanfaatkan untuk saling meminta dan memberi maaf atas kesalahan yang terjadi dalam pergaulan secara pribadi maupun dalam aktivitas pekerjaan di antara warga UGM. “Syawalan keluarga besar UGM ini terutama adalah untuk menjalin silaturahmi di antara kita semua warga UGM dan para mitra UGM,” ujarnya.

Kegiatan silaturahmi ini diharapkan dapat menambah keakraban dan keguyuban seluruh warga UGM yang dapat berimbas pada kinerja masing-masing. Syawalan telah menjadi salah satu tradisi keluarga besar UGM dalam merayakan Idul Fitri, yang biasanya diadakan di Balairung UGM dengan saling bersalam-salaman dan memberikan ungkapan saling memaafkan.

BACA JUGA: Sultan: Lonjakan Covid-19 Pasca-Lebaran Baru Diketahui Awal Juni

Meski syawalan kali ini diselenggarakan secara daring, rektor berharap masing-masing peserta syawalan dapat tetap merasakan nuansa silaturahmi dan kebersamaan. “Saya yakin walaupun diadakan secara daring ini tidak mengurangi hikmah dan tujuan kita bersilaturahmi,” katanya.

Ia berharap pandemi dapat segera berakhir sehingga aktivitas di kampus maupun di tengah masyarakat dapat kembali berlangsung dengan normal dan segenap dosen serta tenaga kependidikan UGM dapat kembali bekerja secara normal dengan hasil yang lebih optimal.

Acara ini juga diisi dengan Hikmah Syawalan serta doa bersama yang disampaikan dan dipimpin oleh K.H. Ahmad Muwafiq. Ia menjelaskan halal bihalal merupakan ujian, apakah selama sebulan puasa kita telah mempersiapkan diri dengan baik.

“Pengelolaan hawa nafsu. Di semua agama yang semua hawa nafsunya ditekan dengan laku batin, menjadi orang yang terbuka. Mampu menerima perbedaan, mampu menerima keunggulan dan kebaikan orang. Mudah beradaptasi, tidak apa-apa salah,” ungkapnya.