Wiyosan Dalem Sultan, Kraton Jogja Tampilkan Beksan Panji Laleyan

Tangkapan layar penari sedang menampilkan Beksan Panji Laleyan dalam rangka Uyon-Uyon Hadiluhung di Kagungan Dalem Bangsal Srimanganti, Kraton Jogja, Senin (17/5/2021) malam. - Harian Jogja/Sirojul Khafid
18 Mei 2021 13:17 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat menggelar Uyon-Uyon Hadiluhung pada Senin Pon malam Selasa Wage (17/5/2021) pukul 20.00 WIB. Acara rutin yang berlangsung di Kagungan Dalem Bangsal Srimanganti ini dilaksanakan dalam rangka memperingati hari kelahiran (Wiyosan Dalem) Sri Sultan HB X. Dalam Uyon-Uyon Hadiluhung kali ini, Kraton menyajikan komposisi Gendhing dan Beksan (tari) Panji Laleyan.

Menurut Pemucal Beksa, RW. Sasmintoprobo, Beksan Panji Laleyan berasal dari manuskrip Serat Kandha Sri Sultan HB I. Beksan ini bercerita tentang perjalanan karakter utama, Panji Laleyan, ketika dipanggil oleh kakeknya untuk bertapa dan mendapatkan ilmu di Gunung Rasamulya.

Saat bertapa, Panji Laleyan mendapatkan kabar bahwa ayahnya berada di medan laga. Setelah itu, dia meminta izin kepada kakeknya untuk menyusul ayahnya. Setelah mendapat izin, perjalanan pun dimulai. “Di tengah perjalanan, [Panji Laleyan] semacam tersesat di sebuah desa. Banyak godaan yang dialami oleh Panji Laleyan. [Namun] karena keteguhan hati Panji Laleyan, dia bisa melewati itu semua dan bisa bekumpul dengan ayahnya di medan laga,” kata RW. Sasmintoprobo sebelum acara secara daring ini dimulai.

Salah satu keunikan beksan terdapat pada tokoh atau peraga beksan. Dengan jenis beksan sekawanan, ada empat penari gecul dan empat penari halus. Jumlah penari empat atau kelipatannya merupakan sesuatu yang biasanya ada pada karya Sri Sultan HB 1.

Baca juga: Sejumlah Perusahaan di DIY Tidak Membayarkan THR

“Di Beksan Panji Laleyan, 65 persan didominasi penari gecul-nya. Ini salah satu keunikan yang sebelum ini belum ditemui. Juga tidak terdapat konflik peperangan, tetapi konfliknya adalah konflik batin seorang Panji Laleyan. Seorang putra Raja yang bergelimang harta dan bisa apa saja, di sisi lain dia seorang ksatria yang sedang menuntut ilmu,” kata RW. Sasmintoprobo.

Adapun untuk komposisi Gendhing Uyon-Uyon Hadiluhung kali ini yaitu Gendhing Pambuka: Ladrang Prabu Mataram Laras Slendro Pathet Sanga, Gendhing Soran: Gendhing Jlagra Laras Pelog Pathet Lima Kendhangan Semang Jangkep Sadhawahipun, dan Beksan Panji Laleyan, Gendhing Lirihan I: Gendhing Surya Latri Kendhangan Sarayuda, Minggah Ladrang Sri Madya, Kalajengaken Ayak Ayak, Srepeg, Playon Laras Pelog Pathet Barang. Sementara pada Gendhing Lirihan II: Gendhing Nenes Kendhangan Candra, Kalajengaken Ladrang Loro Loro Topeng, Kalajengaken Bibaran Lebdajiwa Laras Slendro Pathet Manyura. Untuk Gendhing Panutup: Ladrang Sri Kondur Laras Slendro Pathet Manyura.

Menurut Penata Gendhing, RP. Ngeksibrongto, salah satu tantangan dalam menyusun Gendhing pada pertunjukan ini terkiat paduan antara gerakan halus dan gecul. “Agar bisa padu, itu yang kami cari, perlu banyak berlatih. Kalau yang lainnya seperti biasa,” kata RP. Ngeksibrongto.