Pemanfaatan Bank Sampah Digenjot untuk Tambah Pendapatan Warga

Suasana saat warga menyetorkan sampah di bank sampah Kelurahan Bener Tegalrejo. - Ist.
30 Mei 2021 10:17 WIB Yosef Leon Jogja Share :

Harianjogja.com, TEGALREJO - Pemerintah Kelurahan Bener, Tegalrejo, Kota Jogja memaksimalkan pemanfaatan bank sampah guna mendongkrak kesadaran warga dalam menjaga lingkungan sekaligus menambah pundi-pundi pendapatan. Program yang sudah mulai aktif kembali dua tahun terakhir ini terbukti mampu dan berjalan cukup efektif di lapangan.

Lurah Bener, Agus Sutarto mengungkapkan, program bank sampah di wilayah setempat mulanya berdiri sejak 2006 silam. Kemudian sempat kurang berjalan dan baru aktif kembali dua tahun terakhir. Pencapaian program bank sampah itu cukup diapresiasi banyak pihak dan menyabet beberapa penghargaan pula.

"Totalnya sekarang ada di tujuh RW dan hanya satu yang belum ada bank sampahnya. Kami bagi menjadi per kelompok sehingga lebih memudahkan dalam menyetor dan mengumpulkan sampahnya," kata Agus, Sabtu (29/5/2021).

Dia menjelaskan, tiap satu bulan sekali masing-masing rumah tangga akan menyetorkan sampah yang telah dipilah ke tempat penampungan sesuai dengan jadwal yang ditentukan. Setiap menyetor sampah, jumlah itu akan menjadi tabungan warga dan bisa diuangkan atau diambil kapan saja.

"Tiap satu bulan sekali rumah tangga ke bank sampah sesuai waktu jadwal mereka. Kemudian daftar lalu timbang dan uangnya itu sifatnya masih nabung, bisa diambil kapan saja. Setelah dikumpulkan nanti pengurus menimbang dan pengepul datang," jelasnya.

Agus menekankan bahwa sosialisasi mengenai manfaat dan apa yang akan diperoleh masyarakat menjadi penting agar program ini berhasil. Banyak daerah serupa yang telah menerapkan dan belajar mengenai program itu ke wilayah setempat.

"Manfaatnya bagaimana kan warga juga bisa menikmati dari kegiatan ini. Selain itu juga bisa menambah pendapatan dan sebagai upaya pelestarian lingkungan," katanya.

Pendiri bank sampah Salingsih RW 2 Kelurahan Bener, Novi Aryani mengatakan, sampah yang terkumpul dari hasil penyetoran warga bisa mencapai 0.5 ons sampai 15 kg setiap bulan. Jenisnya bermacam-macam diantaranya berupa kertas, kaca, handuk bekas, minyak goreng dan lain sebagainya.

"Minyak goreng bekas itu nantinya bisa diolah menjadi sabun. Sampah itu juga bisa dijual kembali atau diolah jadi barang seni dan macam-macam kerajinan," ucapnya.

Rata-rata tiap kelompok bank sampah beranggotakan sebanyak 50-70 nasabah dan mampu meraup keuntungan dari penjualan sampah hingga ratusan ribu setiap bulannya. Pihaknya berharap agar program ini bisa berkembang dan berkelanjutan. Dalam arti bisa diterapkan di daerah lain dengan menyesuaikan dengan kriteria dan ciri khas tiap daerah.