Advertisement
Pemanfaatan Bank Sampah Digenjot untuk Tambah Pendapatan Warga
Suasana saat warga menyetorkan sampah di bank sampah Kelurahan Bener Tegalrejo. - Ist.
Advertisement
Harianjogja.com, TEGALREJO - Pemerintah Kelurahan Bener, Tegalrejo, Kota Jogja memaksimalkan pemanfaatan bank sampah guna mendongkrak kesadaran warga dalam menjaga lingkungan sekaligus menambah pundi-pundi pendapatan. Program yang sudah mulai aktif kembali dua tahun terakhir ini terbukti mampu dan berjalan cukup efektif di lapangan.
Lurah Bener, Agus Sutarto mengungkapkan, program bank sampah di wilayah setempat mulanya berdiri sejak 2006 silam. Kemudian sempat kurang berjalan dan baru aktif kembali dua tahun terakhir. Pencapaian program bank sampah itu cukup diapresiasi banyak pihak dan menyabet beberapa penghargaan pula.
Advertisement
"Totalnya sekarang ada di tujuh RW dan hanya satu yang belum ada bank sampahnya. Kami bagi menjadi per kelompok sehingga lebih memudahkan dalam menyetor dan mengumpulkan sampahnya," kata Agus, Sabtu (29/5/2021).
Dia menjelaskan, tiap satu bulan sekali masing-masing rumah tangga akan menyetorkan sampah yang telah dipilah ke tempat penampungan sesuai dengan jadwal yang ditentukan. Setiap menyetor sampah, jumlah itu akan menjadi tabungan warga dan bisa diuangkan atau diambil kapan saja.
"Tiap satu bulan sekali rumah tangga ke bank sampah sesuai waktu jadwal mereka. Kemudian daftar lalu timbang dan uangnya itu sifatnya masih nabung, bisa diambil kapan saja. Setelah dikumpulkan nanti pengurus menimbang dan pengepul datang," jelasnya.
Agus menekankan bahwa sosialisasi mengenai manfaat dan apa yang akan diperoleh masyarakat menjadi penting agar program ini berhasil. Banyak daerah serupa yang telah menerapkan dan belajar mengenai program itu ke wilayah setempat.
"Manfaatnya bagaimana kan warga juga bisa menikmati dari kegiatan ini. Selain itu juga bisa menambah pendapatan dan sebagai upaya pelestarian lingkungan," katanya.
Pendiri bank sampah Salingsih RW 2 Kelurahan Bener, Novi Aryani mengatakan, sampah yang terkumpul dari hasil penyetoran warga bisa mencapai 0.5 ons sampai 15 kg setiap bulan. Jenisnya bermacam-macam diantaranya berupa kertas, kaca, handuk bekas, minyak goreng dan lain sebagainya.
"Minyak goreng bekas itu nantinya bisa diolah menjadi sabun. Sampah itu juga bisa dijual kembali atau diolah jadi barang seni dan macam-macam kerajinan," ucapnya.
Rata-rata tiap kelompok bank sampah beranggotakan sebanyak 50-70 nasabah dan mampu meraup keuntungan dari penjualan sampah hingga ratusan ribu setiap bulannya. Pihaknya berharap agar program ini bisa berkembang dan berkelanjutan. Dalam arti bisa diterapkan di daerah lain dengan menyesuaikan dengan kriteria dan ciri khas tiap daerah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Mekar Hanya Beberapa Hari, Bunga Bangkai di Palupuh Diserbu Turis
Advertisement
Berita Populer
- Makan Bersama Jadi Cara Unik Cegah Stunting di Gowongan
- Dukuh Gugat ke PTUN Seusai Dicopot, Warga Seloharjo Bela Lurah
- Cuaca Tak Menentu di Jogja, Warga Diminta Waspada Pohon Tumbang
- Kereta di Jogja Kembali Tepat Waktu Seusai Evakuasi KA Bangunkarta
- Listrik Padam Bergilir di Sleman dan Sekitarnya Selasa 7 April 2026
Advertisement
Advertisement








