Ciptakan Mutualisme Wisatawan dan Destinasi

GKR Bendara (kanan), Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY dalam Talkshow Harian Jogja bertema Menjadi Wisatawan Istimewa di Kantor Harian Jogja, Jumat (11/6). (ist - Youtube Harian Jogja)
12 Juni 2021 06:27 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA–Menjadi sebuah kerugian datang ke Jogja hanya untuk mencari tempat swafoto. Menurut Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, wisatawan bisa menjelajahi budaya Jogja lebih dalam. Bisa dengan berkunjung ke Pasar Beringharjo atau pasar tradisional lain untuk melihat masyarakat beraktivitas. Tentang buruh gendong yang masih memakai kebaya, tentang unggah-ungguh warganya, sampai adat istiadat lainnya.

Bisa juga mencoba tinggal di homestay desa wisata. Meski sama-sama ramah, perlakuan di homestay desa wisata berbeda dengan hotel. “Contoh di Desa Wisata Mangunan, di sana ada homestay yang berada di tengah rumah warga. Selain memperlakukan seperti keluarga, masakannya juga seakan penuh cinta. Memperlakukan tamu secara natural, kita [wisatawan] berasa anaknya mereka, meski hanya tinggal dua hari,” kata GKR Bendara dalam acara Talkshow Harian Jogja bertema Menjadi Wisatawan Istimewa di Kantor Harian Jogja, Jumat (11/6).

Hubungan antara wisatawan dan pelaku usaha memang semestinya mutualisme. Di satu sisi pengeluaran wisatawan menjadi roda penggerak ekonomi warga, di sisi lain pelaku usaha pariwisata memberikan pengalaman yang berbeda. Namun hubungan ini juga bisa saling berdampak di sisi yang kurang baik.

Beberapa waktu lalu di Jogja mencuat kasus nuthuk atau memberikan harga secara tidak wajar. Salah dua kasus yang muncul di permukaan adalah harga pecel lele dan parkir di kawasan Malioboro. GKR Bendara menyatakan bahwa kedua belah pihak bisa jadi salah semua dan benar semua.

Namun hal yang paling dasar, hal ini terjadi lantaran komunikasi yang kurang baik antar dua belah pihak. Selain itu, pedagang di Malioboro juga terus berganti, yang memungkinkan mereka belum tahu aturan di kawasan tersebut.

Di sisi lain, meski secara kasus Covid-19 tergolong landai di banding provinsi lain, DIY belum ingin promosikan wisata secara besar-besaran. Hal ini guna mengutamakan kesehatan warganya. “Selama roda perekonomian wisata dan kesehatan masih berjalan baik, itu pun sudah cukup,” kata GKR Bendara yang juga Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY.

Hari-hari ini BPPD DIY masih meriset perilaku atau kebiasaan baru wisatawan sejak pandemi. “Pertama evaluasi habit wisatawan yang ke DIY seperti apa, pendapat mereka terhadap DIY seperti apa. Dikarenakan pandemi ini ada perubahan habit, jadi kami mau tahu juga perubahan-perubahan yang terjadi,” kata GKR Bendara.

Dari pandangan sekilas, saat ini wisatawan lebih memperhatikan tingkat protokol kesehatan (prokes) dan juga kebersihan suatu destinasi wisata atau tempat lainnya seperti tempat makan dan hotel.

Apabila dahulu bersih saja cukup, sekarang juga melihat bagaimana penerapan prokes bagi pengunjung, pengelola, dan lainnya. “Kami menginginkan wisatawan yang datang sehat, kembali juga sehat. Itulah kurang lebih yang kami sedang godok,” kata GKR Bendara yang merupakan anak ke-5 dari Gubernur DIY, Sri Sultan HB X.