JASMERAH: Yogyakarta & Persandian

Politeknik Siber dan Sandi Negara - Istimewa
24 Juni 2021 16:57 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Pengamanan informasi berklasifikasi milik pemerintah telah dilakukan oleh Insan Persandian sejak awal kemerdekaan Indonesia. Dimulai dari Jawatan Tehnik Bagian B Kementerian Pertahanan pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan semasa ibu kota pemerintahan berada di Yogyakarta lalu saat Pemerintahan Darurat RI di Bukittinggi hingga untuk mendukung komunikasi dengan garis depan perlawanan bersenjata dan kegiatan diplomasi di Kementerian Luar Negeri serta Perwakilan RI di New Delhi, Den Haag dan New York. 

Kala itu Menteri Pertahanan Amir Syarifoeddin memandang perlu adanya pengamanan komunikasi di Kementerian Pertahanan dan Angkatan Perang. Sehingga pada 4 April 1946 Roebiono Kertopati diperintahkan untuk membentuk Dinas Kode yang kemudian seiring dengan berkembangnya cakupan tanggung jawab pengamanan komunikasi melembaga menjadi Djawatan Sandi dengan Surat Keputusan Menteri Pertahanan nomor 11/MP/1949 bertanggal 2 September 1949. Konteks sejarah tersebut membuat 4 April ditetapkan sebagai Hari Lahir Persandian Republik Indonesia yang kini tetap dilestarikan sebagai tonggak lahirnya Badan Siber dan Sandi Negara sebagai institusi keamanan informasi saat ini. 

Seiring dengan terus berkembangnya kebutuhan dan tanggung jawabnya, melalui SK Presiden RIS Nomor 65/1950 bertangal 14 Februari 1950, lingkup penugasan Djawatan Sandi yang semula berada di bawah Menteri Pertahanan dan hanya melayani lingkungan Kementerian Pertahanan dan Angkatan Perang menjadi berada langsung di bawah Presiden melayani seluruh kementerian yang ada saat itu. 

Berdasarkan Keppres Nomor 7/1972 bertanggal 22 Februari 1972, nama Djawatan Sandi berubah menjadi Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg). Sejalan dengan konsolidasi dan penataan struktur kelembagaan Pemerintah pada waktu itu, landasan hukum Lembaga Sandi Negara terus diperbarui, berturut-turut pada 18 Juli 1994 dengan Keppres Nomor 54/1994, lalu pada 7 Juli 1999 dengan Keppres Nomor 77/1999, dan terakhir dengan Keppres Nomor 103/2001. 

Sedari Lemsaneg hingga BSSN sudah terjadi tujuh masa kepemimpinan, dimulai dari Mayor Jenderal TNI Dr. Roebiono Kertopati dari tahun 1946-1984, diikuti kepemimpinan Laksamana Muda TNI Soebardo dari tahun 1986-1998, selanjutnya oleh Laksamana Muda TNI B.O. Hutagalung dari tahun 1998-2002, lalu Mayor Jenderal TNI Nachrowi Ramli dari tahun 2002-2008, kemudian dari tahun 2009-2011 dibawah kepemimpinan Mayor Jenderal TNI Wirjono Budiharso lalu Mayor Jenderal TNI Dr. Djoko Setiadi, M.Si dan kini Badan Siber dan Sandi Negara dipimpin oleh Letnan Jenderal TNI (Purn) Hinsa Siburian.

Yogyakarta menjadi saksi bisu peristiwa-peristiwa bersejarah berkaitan dengan peran persandian dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Peristiwa-peristiwa penting bersejarah berkaitan dengan peran persandian terekam apik melalui peninggalan-peninggalan bersejarah serta diorama-diorama yang menggambarkan peristiwa kala itu di Museum Sandi Yogyakarta. Kehidupan agen-agen pemegang pesan rahasia tingkat tinggi Indonesia dapat diketahui melalui benda-benda peninggalannya. Di Jalan Faridan M. Noto 21, Kotabaru, Yogyakarta inilah Museum Sandi berada untuk merekam dan melestarikan persitiwa-peristiwa penting bersejarah terkait persandian.

Kini, peran persandian tidak dapat dilepaskan dari dunia siber. Intensitas serangan masif melalui dunia maya yang mengancam kedaulatan Indonesia menjadi tantangan yang wajib terus disiapkan dengan baik. Politeknik Siber dan Sandi Negara menjadi satu-satunya Perguruan Tinggi Kedinasan (PTK) di Indonesia dibawah naungan Badan Siber dan Sandi Negara yang secara khusus mempelajari mengenai persandian dan keamanan informasi. Seratus persen lulusannya akan langsung bekerja sebagai Aparatur Sipil negara (ASN) di BSSN sebagai punggawa pertahanan siber di Indonesia. Tak hanya fasilitas asrama, gedung perkuliahan, dan fasilitas olahraga yang tergolong mewah, mulai dari tingkat pertama hingga lulus kuliah seluruh mahasiswanya tidak dikenakan biaya satu rupiah pun alias gratis, inilah yang menjadikan Politeknik Siber dan Sandi Negara sebagai perguruan tinggi yang favorit bagi calon-calon mahasiswa yang ingin mengabdikan dirinya kepada negara. Pembaca dapat mengetahui lebih lengkap mengenai Politeknik Siber dan Sandi Negara melalui laman web www.poltekssn.ac.id serta akun resmi Instagram @poltekssn. (ADV)