Begini Cerita Tim UGM Ciptakan Sistem Deteksi Gempa Tiga Hari Sebelum Kejadian

Alat EWS gempa bumi Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika UGM, yang dipasang di Pundong, Bantul. - Istimewa/Tim Riset Laboratorium Sistem Sensor dan Telekontrol Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika UGM
26 Juni 2021 20:47 WIB Lajeng Padmaratri Jogja Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) tengah memperbanyak stasiun pemantau gempa bumi di sepanjang pesisir Pulau Jawa. Sistem pendeteksi gempa tersebut diklaim mampu memprediksi gempa tiga hari sebelum kejadian. Berikut laporan dari wartawan Harian Jogja Lajeng Padmaratri.

Sebuah pipa besi setinggi dua meter dipasang di dekat sebuah sumur. Pipa besi itu menyangga sebuah kotak. Di atas kotak yang berwarna abu-abu itu terdapat panel surya yang berguna untuk mengisi daya pada alat tersebut.

Alat tersebut merupakan pendeteksi gempa bumi yang dibuat oleh tim peneliti UGM. Saat ini tim peneliti terus berupaya memperbanyak stasiun pemantau gempa bumi yang dapat menghidu atau mencium adanya potensi gempa hingga tiga hari sebelum kejadian. Kini, alat itu dipasang di sejumlah titik di luar DIY secara bertahap.

Pemasangan alat ini akan sangat berguna sekali bagi warga yang tinggal di daerah rawan bencana gempa bumi. Apalagi belum lama ini, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan hasil pemodelan gempa bumi dan tsunami yang berpotensi terjadi di Jawa Timur. Pantai selatan dari provinsi tersebut potensial terguncang gempa dengan magnitudo 8,7 bahkan ancaman ketinggian gelombang tsunami mencapai 29 meter.

Penelitian alat pendeteksi gempa itu dipimpin oleh Ketua Tim Riset Laboratorium Sistem Sensor dan Telekontrol Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika (DTNTF) UGM, Prof. Sunarno. Sejak 2018, ia dan tim telah meneliti dengan mengamati konsentrasi gas radon dan level air tanah sebelum terjadinya gempa bumi.

Menurut Sunarno, datangnya tsunami dapat diprediksi dengan hadirnya gempa bumi. Oleh karena itu, keberadaan alat pendeteksi gempa bumi menjadi sangat penting untuk dikembangkan sebagai peringatan dini.

"Tahun ini akan ditambah menjadi 10 titik stasiun pemantau. Perangkat sedang dipersiapkan, kami sedang mendiskusikan lokasinya di sepanjang Pulau Jawa," kata Sunarno belum lama ini.

Pengamatan ini dikembangkan dan dirumuskan dalam suatu algoritma prediksi sistem peringatan dini atau early warning system (EWS) untuk mendeteksi gempa bumi. Mekanisme kerja alat ini dalam memprediksi gempa bumi didasarkan pada perbedaan konsentrasi gas radon dan level air tanah yang merupakan anomali alam sebelum terjadinya gempa bumi.

Asisten penelitian ini, Rony Wijaya menerangkan EWS yang dikembangkan DTNTF untuk mendeteksi gempa bumi ini tersusun dari sejumlah komponen, seperti detektor perubahan level air tanah dan gas radon, pengondisi sinyal, kontroler, penyimpan data, serta sumber daya listrik.

Kendati menggunakan tenaga listrik, ada pula stasiun pemantau gempa bumi yang turut memanfaatkan tenaga surya jika kondisinya sulit dijangkau aliran listrik.

Pada stasiun yang menggunakan tenaga listrik saja, tetap dilengkapi dengan alat semacam Uninterruptible Power Supply (UPS) untuk menyediakan daya darurat jika daya listrik padam seperti aki 12 Volt arus searah (DC) 7,4Ah.

"Untuk daerah-daerah remote area yang sulit listrik, digunakan hibrid tenaga surya ke kontroler PWM [Pulse Width Modulation] agar sel surya bisa mengisi daya aki 12vdc 7,4Ah itu," ujar Rony.

Menurutnya, seluruh komponen alat itu tidak sulit ditemukan karena seluruhnya ada di Indonesia. Untuk membuat satu unit stasiun pemantau tersebut, diperlukan biaya sebesar Rp12 juta hingga Rp15 juta.

Pada detektor dari sensor radon itu, nantinya jika ada fluktuasi level air tanah terjadi dalam satu waktu, maka fluktuasi tersebut dicatat sebagai deteksi dini gempa. Begitu pula jika muncul paparan gas radon alam dari tanah yang meningkat secara signifikan.

Data tersebut akan dikirim ke www.dataalamdiy.com. Jika memang data yang masuk menunjukkan potensi adanya gempa, peneliti akan menyampaikan informasi tersebut ke pemangku kepentingan terkait.

Dalam Proses

Rencana pemasangan 10 stasiun pemantau gempa bumi tersebut hingga saat ini baru berhasil merealisasikan pemasangan di empat stasiun. Stasiun tersebut terletak di Fakultas Teknik UGM, Sleman; Bambanglipuro, Bantul; Prambanan, Klaten; serta Nanggungan, Pacitan. Sementara enam stasiun lain sedang proses pemasangan pada akhir Agustus 2021 mendatang.

Sunarno menambahkan pemilihan lokasi peletakan stasiun pemantau gempa bumi ini diupayakan dekat dengan patahan, sehingga dapat sensitif terhadap tekanan atau stressing pra gempa. "Dan kami menggunakan IoT [Internet of Things] maka tempat itu harus ada sinyal untuk ponsel, aman dari vandalisme atau pencurian, dan sebagainya," kata dia.

Sama persis dengan alat terdahulu, peranti ini justru dipasang di banyak tempat untuk memantau daerah mana yang akan menjadi pusat gempanya.

Sembari menambah stasiun pemantau, tim riset juga mengembangkan algoritma untuk prediksinya.

Sistem deteksi tersebut dikembangkan sebagai mekanisme membentuk kesiapsiagaan masyarakat, aparat, dan akademisi untuk mengurangi risiko bencana. Sebab, posisi Indonesia yang berada di tiga lempeng tektonik dunia menjadikannya rentan terjadi gempa bumi.

Hingga saat ini, menurutnya, tidak ada kendala yang berarti terkait dengan rencana penambahan stasiun pemantau gempa bumi ini. Ia akan terus memantau kondisi alat yang sudah dipasang sehingga bisa terus memberikan data prediksi gempa kepadanya.

Ia berharap dengan bisa terciumnya potensi gempa tiga hari bahkan dua pekan sebelumnya, maka dapat dirancang penentuan kebijakan selanjutnya. Sebab, ia berprinsip keberadaan EWS berfungsi untuk memberi ketenangan bagi masyarakat. "Early warning itu penting. Bisa mengabarkan tiga hari sebelumnya maka masih ada action," kata dia.

Ia menegaskan sistem peringatan dini gempa bumi ini akan terus dikembangkan hingga mampu memprediksi lebih detail. Pengembangan sistem peringatan dini gempa bumi ini diharapkan dapat membantu aparat dan masyarakat mengevaluasi penyelamatan penduduk lebih cepat.