Pasien Covid-19 Meningkat, DIY Butuh Oksigen Harian 55 Ton Sehari

Ilustrasi. - ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra
05 Juli 2021 19:37 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Peningkatan pasien Covid-19 akhir-akhir ini berimbas pada peningkatan penggunaan oksigen, bahkan di sejumlah rumah sakit ketersediaan oksigen menipis sehingga banyak kasus meninggal dunia yang diduga akibat tidak tersedianya oksigen.

Asisten Sekretaris Daerah Bidang Perekonomian dan Pembangunan DIY, Tri Saktiana tidak menampik ketersediaan oksigen memang mulai terhambat sejak Jumat, pekan lalu hingga Senin (5/7/2021). Dia mencontohkan salah satunya di Rumah Sakit Umum Pemerintah (RSUP) Dr Sardjito itu kebutuhan oksigennya lima kali lipat dari kebutuhan oksigen ketika masa normal. Sehingga tentu perlu upaya ekstra dalam kondisi darurat ini.

Menurut dia, kebutuhan oksigen di DIY rata-rata dalam kondisi normal atau ketika tidak ada pandemi Covid-19 adalah 20-25 ton per hari. Namun ketika pandemi kebutuhan berlipat sampai tiga kali lipat. “Diusahakn setidaknya per hari perlu 55 ton oksigen dan ini harus kerja sama karena kita enggak punya pabrik,” kata Tri Saktiana, dalam jumpa pers, melalui daring, Senin (5/7/2021).

Pemda DIY sudah melakukan rapat koordinasi dengan Pemerintah Pusat dan pusat menyanggupi untuk memenuhi kebutuhan harian baru sekitar 47,6 ton per hari. Jatah oksigen untuk DIY pun harus didatangkan dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jakarta dan Jawa Barat karena DIY tidak memiliki pemasok oksigen yang besar terutama oksigen liquid.

Oksigen di rumah sakit ada dua macam. Pertama oksigen liquid yang oleh truk kontainer disuntikan dimasukan ke semua di rumah sakit-rumah sakit. Yang kedua adalah oksigen tabung ukuran besar dan kecil.

BACA JUGA: Jaga Pasokan, RSUD Saptosari Pinjam Oksigen ke Rumah Sakit Lain

Sebenarnya, kata Tri Saktiana, rumah sakit pada kondisi normal bisa memenuhi, bahkan ketika naik dua kali lipat pasien juga masih bisa memenuhi kebutuhan oksigen. Namun ketika peningkatannya lebih dari tiga kali lipat maka terjadi gangguan. Sementara rumah sakit biasanya sudah memiliki MoU dengan salah satu perusahaan penyuplai oksigen, sehingga tidak semua penyuplai besar oksigen dapat memasok ke rumah sakit tertentu.

Lebih lanjut Tri Saktiana mengatakan dalam rapat dengan Pemerintah Pusat, semua pihak harus mengubah mindset dalam kondisi darurat.“Sekarang oksigen milik perusahaan A bisa diisi merk B karena kondisi darurat. Kami sduah komunikasikan pada perusahaan penyuplai oksigen. Kemarin sudah by pas tangki milik A kita masukan tangki milik B. karena dalam kondisi darurat pimpinan sepakat. Karena terlambat sehari saja taruhannya nyawa,” ucap Tri Saktiana.

Saat ini diakui Tri Saktiana sudah disepakati antar pemerintah daerah, Kementerian Perdagangan, Kementerian Kesehatan, dan perusahaan penyuplai oksigen untuk saling berbagi tanpa ada birokrasi yang ribet dan mana yang lebih membutuhkan.